Kamis, 31 Maret 2011

Untuk Alan...


Untuk Alan….
By : Ganta Vaksie

          Kupacu SUV ku dijalanan  beraspal  yang mulai ramai oleh lalu lalangnya kendaraan meskipun suasana masih sepagi  ini.  Cuaca pagi ini lumayan cerah. Langit masih membiru dihiasi beberapa gumpalan awan putih yang berarak terbawa angin pagi. Semburat sinar mentari membiaskan warna jingga pada  ujung garis bumi. Sementara tetes-tetes embun pagi pada ujung-ujung dedaunan memancarkan kemilau indah beningnya yang menyejukkan.
Sepagi ini aku bergegas menuju kantorku untuk menghadiri beberapa meeting di tempat klien yang letaknya lumayan berjauhan satu sama lainnya. Wajar saja jika aku harus lebih awal berangkat ke kantor dari biasanya. Hanya untuk berjaga-jaga saja supaya aku tidak terjebak dikemacetan kota Jakarta yang memang sangat sulit untuk di prediksi. Akan merasa tidak enak hati jika nanti aku datang terlambat saat meeting bersama klienku. Hal ini akan sangat berpengaruh  terhadap citra dan juga  kinerjaku itu sendiri. Untuk mencegah supaya  hal ini tidak terjadi, aku berusaha mengantisipasinya sebaik mungkin supaya tidak mengecewakan klien dan juga perusahaan tempat dimana aku bekerja.
Irama musik yang mengalun merdu dari tape mobilku semakin menambah keceriaanku pagi ini. Suara lembut serta manja sang penyanyi lagu ini, tidak hanya dapat menggoda yang mendengarkannya saja, akan tetapi dapat menghanyutkan suasana hati orang tersebut pada suatu masa yang indah. Dari bait-bait syair lagu ini. Semakin mengingatkanku pada seseorang yang sekarang entah ada dimana. Dia adalah Alan, sahabatku semasa di SMA dulu. Dimana waktu itu kami selalu bersama kemanapun dan dimanapun  kami berada. Berangkat dan pulang sekolah selalu bersama, mengikuti bimbel, hang out ke tempat-tempat dimana kami selalu ingin menghabiskan waktu sepulang sekolah ataupun eskul, hingga nongkrong dan main intercom bersama teman-teman lainnya disebuah tempat yang biasa kami sebut base camp panineungan. Wajar saja baik keluargaku maupun keluarganya tahu keakraban kami berdua ini. Namun sangat disayangkan, jika kebersamaan ini harus berakhir ketika kita berdua sama-sama berjanji untuk meneruskan kuliah di kota yang sama. Akan tetapi, aku sendiri yang memang mengingkarinya. Sebenarnya aku tidaklah bermaksud seperti itu. Hanya saja keadaanlah yang pada akhirnya harus memisahkan kami berdua, termasuk kelanjutan dari persahabatan kami ini. Rupanya Alan sangat marah sekali ketika dia tahu, jika aku meneruskan kuliahku di kota lain.
Kejadian ini mungkin sekitar tujuh atau delapan tahunan yang lalu. Ketika itu, aku dan Alan baru sama-sama lulus dari SMA dan bermaksud melanjutkan kuliah di kota yang sama, yakni kota Bandung. Kami berdua begitu bersemangat sekali ketika mempersiapkan segalanya, mulai membeli formulir pendaftaran ujian masuk perguruan tinggi negeri, hingga mengikuti bimbingan belajar khusus secara intensif, berharap supaya kami berdua dapat lolos dalam ujian saringan tersebut. Banyak hal-hal lucu dan juga seru sekali yang pernah kami lewatkan bersama, selama kami tinggal di Bandung. Aku masih ingat betul, ketika itu kota Bandung yang memang dijuluki sebagai salah satu pusat  kota mode yang terkenal dengan sebutan Paris van Java ini tengah booming oleh produk jeansnya. Dulu di sepanjang jalan Cihampelas yang selalu padat merayap, begitu banyak dipenuhi oleh distro–distro yang khusus menjual berbagai macam jenis pakaian berbahan jeans terutama white jeans. Mulai dari celana panjang dan pendek, rok, jaket dan aneka pakaian lainnya yang bernuansa jeans. Outlet-outlet di dekorasi sedemikian rupa untuk menarik para pengunjung, bahkan jika diamati jalan Cihampelas ini mirip dengan salah satu pasar yang berada di Texas Amerika sana. Disana-sini banyak sekali di pajang ornament-ornament  bernuansa cowboy, patung berbentuk kuda, delman, hingga para cowboy yang tengah beraksi dengan pistolnya. Biasanya jika malam disela-sela waktu luang, aku dan Alan sering menyempatkan diri untuk nongkrong di depan Studio East yang menjadi tempat nongkrongnya anak-anak gaul kota Bandung kala itu. Tentunya Kami  tidaklah ikut larut dalam hingar bingarnya music serta gemerlapnya lampu-lampu disko yang ada didalam Studio East tersebut. Kami hanya menikmati aneka jajanan yang di jajakan di pelataran parkir Studio East, dan pedagang kaki lima lainnya yang ada di sepanjang pinggiran jalan Cihampelas. Mulai dari roti bakar, cimol, siomay, mie kocok dan pastinya nasi goreng terasi. Biasanya di tempat ini, kami jadikan tempat bertemunya bersama teman-teman semasa SMA dulu, dan juga teman-teman mahasiswa senior lainnya yang berasal dari kota yang sama denganku. Selain saling bertukar informasi, kami juga sudah seperti saudara sepenanggungan, saling berbagi, dan saling melindungi, meskipun dari tempat kost dan juga dari perguruan tinggi yang berbeda-beda, serta lokasinyapun lumayan berjauhan sebenarnya. Tapi kami semua adalah satu keluarga dalam sebuah perhimpunan mahasiswa asal kotaku ini. Banyak sekali kegiatan yang kami adakan, salah satunya bimbingan belajar untuk  ujian saringan masuk perguruan tinggi negeri seperti yang tengah aku dan Alan ikuti ini. Di kelas bimbingan ini, kami banyak dibekali cara-cara menyelesaikan soal-soal secara mudah dan simple untuk pelajaran-pelajaran hitung-hitungan, hingga rumus-rumus praktis yang mudah diingat. Upaya kakak-kakak kelasku ini lumayan banyak sekali bermanfaat bagi kami para calon mahasiswa baru. Selain itu, kami juga dapat berkonsultasi dengan mereka mengenai pemilihan jurusan maupun fakultas serta perguruan tinggi swasta maupun PTN yang ada di kota Bandung ini. Pastinya keberadaan organisasi perhimpunan mahasiswa ini memiliki kontribusi yang sangat besar sekali bagi kami semua.
Mungkin sekitar dua bulanan aku dan Alan menghabiskan waktu bersama selama mengikuti bimbel dan ujian masuk PTN di kota Bandung ini. Bahkan kami berdua juga sudah mendaftarkan diri di beberapa perguruan tinggi swasta disana, tujuannya hanya sebagai cadangan saja, jika ternyata kami tidak lolos masuk ke PTN. Berbagai rencana telah kami berdua buat untuk mempersiapkan diri jika besar kemungkinan kami akan meneruskan kuliah di kota Bandung ini. Mulai dari tempat tinggal hingga perlengkapan-perlengkapan lainnya. Sebenarnya baik aku, maupun Alan memiliki kerabat dekat  yang tinggal di kota Bandung ini, bahkan mamaku sempat mengontaknya dan membujukku untuk tinggal bersama mereka, akan tetapi sengaja aku menolaknya dengan alasan jika aku ingin hidup mandiri selama tinggal disana. Pada akhirnya mamaku hanya menyerah saja, apalagi mama tahu jika aku akan tinggal bersama Alan di sebuah rumah kontrakan yang ada di jalan Pelesiran, karena didaerah ini pula kebanyakan teman-teman dari kotaku berasal tinggal, sehingga akan memudahkan bagi kami untuk tetap berkumpul bersama mereka. Terbukti dalam kurun waktu selama kami tinggal disini, sudah membuat kami kerasan dan betah berlama-lama untuk menetap disini. Main karambol bareng selepas pulang dari bimbel, makan nasi bungkus buatan Teh Nining, nasi pulen dan juga pepes oncomnya yang sering membuatku ketagihan, termasuk kegiatan menggoda Si Nuke anak ibu kostnya Tarjono, salah satu temanku juga yang anaknya Pak Kuwu dari daerah pantai Eretan sana. Seperti sudah menjadi kegiatan rutin saja, pada setiap selesai makan malam, kami semua selalu menggoda Si Nuke yang tengah asyik main intercom bersama pacarnya, mungkin istilah ini lebih dikenal dengan sebutan nge-break, suara Nuke yang manja begitu jelas terdengar dari balik kamarnya Jono yang hanya terbuat dari papan dan bilik bambu yang diplitur dengan cat transparan. Si Nuke sering buru-buru lari jika harus berpapasan dengan kami, entah dia merasa malu atau mungkin juga naksir pada salah satu diantara kami semua ini, untuk yang terakhir ini, aku fikir tidaklah mungkin, karena Si Nuke masih anak ABG yang baru duduk di kelas tiga SMP. Tubuhnya saja yang bongsor, pernah sekali waktu aku sangat dikagetkan olehnya, saat itu dia terlihat begitu cantik sekali, penampilannya seperti remaja dewasa saja, sangat berbeda jauh dari usia dia yang sebenarnya. Rupanya saat itu dia baru saja pulang menghadiri pesta ulang tahun salah satu teman sekolahnya. Semenjak itu, kami semua berlomba-lomba untuk dapat menarik perhatiannya, dengan memberinya coklatlah, atau makanan-makanan lainnya. Tidak heran jika Bapaknya Nuke ikut-ikutan mulai mengawasi kami semua. Mungkin saja sikap bapaknya Nuke ini ingin ikut menyeleksi, kira-kira siapa yang lebih pantas untuk menjadi pacarnya Nuke. Pada awalnya Bapaknya Nuke ini termasuk orang yang tidak terlalu memperdulikan keberadaan kami semua.  Berbeda sekali dengan sikap mamanya Nuke, yang sejak awal memang baik dan sangat ramah sekali pada kami.  Perubahan yang terjadi pada bapaknya Nuke  akhir-akhir ini, semakin membuat kami semua bersikap jaim alias jaga imej. Apalagi saat ini bapaknya Nuke jadii sering mengajak kami mengobrol, maupun bertegur sapa saat kami berpapasan di jalan sepulangnya dia dari kantor atau dari manapun. 
Lain cerita Si Nuke, lain pula dengan ceritanya Teh Nining si pemilik warung nasi khas masakan Sunda ini. Tubuhnya yang molek dengan kulit kuning langsatnya sudah menjadi salah satu nilai jual baginya untuk menarik perhatian para pembelinya, terutama para kaum Adam pastinya. Senyum menggodanya Teh Nining ini selalu saja mengembang begitu manisnya kepada setiap pengujung yang mampir ke warungnya.Tidak heran,  jika warungnya selalu laris manis banyak dikunjungi para pembeli yang tidak hanya dari kalangan mahasiwa yang tinggal disekitar warungnya, akan tetapi banyak juga pembeli-pembeli lainnya yang memang sengaja mampir ke warungnya. Termasuk kami bertiga, aku, Alan dan juga Tarjono. Semenjak kami tinggal disini, kami sudah berlangganan catering padanya. Biasanya Teh Nining sendiri yang sengaja mengantarkannya ke tempat kami, bahkan sesekali dia juga suka menemani kami makan. Dengan gayanya yang sedikit menggoda, dia sepertinya betah untuk berlama-lama di  tempat kami, meskipun sebenarnya acara makan bersama ini sudah selesai  beberapa waktu lamanya, akan tetapi sepertinya Teh Nining tidak ingin buru-buru meninggalkan kami bertiga. Seperti kejadian sore ini, padahal hari sudah menjelang gelap, akan tetapi Teh Nining masih saja betah disini, mungkin masih ingin terus asyik ngobrol dengan Tarjono. Jika diperhatikan mungkin saja Teh Nining ini  menyukai Tarjono yang berperawakan tinggi  tegap, seperti posturnya anggota kesatuan pada umumnya.  Sikapnya Tarjono sendiri, sebenarnya biasa-biasa saja terhadap Teh Nining. Namun siapa tahu, seiring berjalannya waktu bisa jadi akan tumbuh benih-benih cinta diantara mereka berdua,untuk itu keberadaan kami di sini dirasa sangat mengganggu kebersamaannya ini, akhirnya aku dan Alan buru-buru berpamitan saja pada Tarjono dan Teh Nining dengan alasan yang kami buat-buat sendiri.               
“Gar, ayo kita pulang…!, malam ini kita janji akan ke tempatnya Yeti kan…?” ajak Alan sambil buru-buru menarik lenganku untuk segera beranjak dari dudukku.
“Oh iya, aku lupa…!” Akupun ikut bangkit dari tempat dudukku.
“Jon, aku pamit dulu Ya…!, Teteh mah terus disini saja atuh…!” Alan memberikan isyarat pada Teh Nining dengan senyum penuh pengertian.
“Have a nice date ya…!” ledekku pada Tarjono, sambil menjawil dagunya.
“Awas lu Gar…!, aku balas nanti…!” ancamnya, sambil membelalakkan matanya kearahku karena kekesalannya ini.
“Asyik aja man…!, iya kan Teh…?” tanyaku pada Teh Nining yang masih saja terus duduk manis ditempatnya.
“Ih…Kalian ini mau pada kemana atuh…?, Masa Teteh  di tinggal berduaan sajah disinih…!, malu atuh sama tetangga disinih….!”  Jawab Teh Nining sambil mesem-mesem kemayu gitu.
“Wah, keun weh atuh Teh…! Pake acara malu segala, ngobrolnya juga cuman di teras ini” aku mencoba mengedipkan sebelah mataku kearah Tarjono, yang semakin kesal saja dengan ulahku ini.
“Iya Jon…!, Take it easy, sok sing weureu lah ngawangkongna…!” Alan sedikit terbahak saat melihat mimik Tarjono yang semakin kesal.
“Kalian berdua ini, paling bisa deh…!” Tarjono ikut-ikutan bangkit dari duduknya hanya untuk menonjok lengannya Alan.
“Aduh sakit atuh…!, hayu Gar buruan balik ah…!, tuh kebetulan ada si Nuke baru pulang …!” Alan menunjuk kearah si Nuke yang sedang berjalan sambil tertunduk.
“Oke Jon..!, Teh Nining, kami pulang dulu  ya…!” pamitku pada mereka berdua, sambil segera berlalu mengejar Alan yang sudah lebih dahulu kabur hanya untuk menyapa Nuke yang baru saja pulang dari sekolah.
“Neng Nuke…! Baru pulang  ya…?” aku dengar Alan sudah mulai mengeluarkan jurus rayuan jitunya untuk mendekati Nuke.
“Iya  nih a…!” Jawab Nuke singkat, sambil buru-buru berlari meninggalkan Alan dan juga aku yang baru saja berpapasan dengannya.
“Wah, gara-gara kamu sih Gar…! Nuke jadi buru-buru pergi deh…!” Alan menjawil kupingku untuk melampiaskan kekesalannya.
“Ih, kok aku sih yang disalahin…?. Nuke juga tahu, jika ada buaya di depannya, makanya dia buru-buru lari ketakutan” aku balas menjitak kepalanya dengan gemas.
“Ihh… buaya, ngomong buaya….!” Candanya, sambil menarik lenganku menuju rumah kontrakan.
“Iya, embahnya buaya….!” Aku berlagak seperti menyembahnya, Kami berdua akhirnya  terbahak tanpa menghir aukan sekitar.
Peristiwa itulah yang terakhir kali aku ingat, ketika pada akhirnya aku harus pergi meninggalkan Alan disini, di kota Bandung. Sebenarnya, pada awalnya aku hanya ingin memanfaatkan masa tenggang libur, sambil menunggu pengumuman hasil ujian saringan masuk PTN. Alan  juga tahu jika aku akan menghabiskan waktu libur ini di Jakarta. Sementara dia sendiri pergi ke Jogja, karena kakaknya ada yang di wisuda disana sekalian juga liburan bersama keluarganya. Baik aku maupun Alan selama liburan ini tidak saling berkirim kabar, kami berdua sama-sama asyik menikmati liburan kami masing-masing. Disinilah awal mula peristiwa retaknya persahabatanku dengan Alan. Sebenarnya peristiwa ini tidaklah aku sengaja ciptakan untuk menjauhi Alan, semuanya hanya serba kebetulan saja. Ketika aku menginjakan kaki di kota Jakarta, aku benar-benar terkesima dengan gemerlapnya sang kota Metropolitan ini, aku seperti terbius oleh daya magisnya. Di Jakarta ini sebenarnya banyak sekali kerabat dekat keluargaku, termasuk kedua kakak-kakakku. Aku sengaja tinggal berpindah-pindah dari satu rumah kerabatku, ke rumah kerabtaku yang lainnya. Akan tetapi aku lebih betah tinggal dirumah kakakku yang nomor dua, yang biasa aku panggil  A’Ende, karena dia adalah kakak laki-laki yang paling gede. Kehidupan keluarganya aa ini sangatlah sederhana, tinggal dirumah dinas yang dikanan kirinya dipenuhi rumah-rumah kumuh, terutama di bantaran kali yang ada dibelakang komplek, tempat dimana daerah langganan banjir pada setiap musim penghujan.
Tinggal dirumah aa, diharuskan hidup mandiri, semua serba dikerjakan sendiri, karena memang tidak ada pembantu. Sementara kakak iparku, baru saja melahirkan anak keduanya, sepertinya tidak memungkinkan untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian. Sebenarnya sih ada adik perempuannya yang ikut tinggal dirumah ini. Maklum saja namanya juga anak gadis remaja yang baru saja menginjak usia puber, paling  bisanya hanya mematut diri didepan cermin sambil bersenandung lagu-lagu cinta, baik sebelum maupun sepulang dari sekolahnya. Hanya itu-itu saja yang biasa  dilakukannya. Begitulah yang aku perhatikan pada setiap harinya.  Adik ipar si aa ini namanya Nunik, gaya serta  penampilannya mirip atau lebih dipaksakan mirip dengan Paramitha Rusadhy  yang pada saat itu memang tengah naik daun karena kesuksesannya memerankan tokoh Nyi  Iteung, dan juga peran-peran lainnya di  beberapa film yang sedang trend dikalangan muda-mudi era 80-an. Sebagai penyanyi, Paramitha Rusadhy ini juga  termasuk yang laris manis, meskipun tema lagu-lagu yang dinyakinnya ini selalu  melankolis, namun sangat digandrungi sekali oleh semua kalangan.
            Selama aku tinggal di Jakarta, Nunik sering mengajakku ketempat-tempat gaulnya anak-anak remaja kota Jakarta. Nongkrong di Melawai tempat JJS-nya anak-anak remaja kalangan jet set, hingga ke sebuah tempat yang pada akhirnya membawaku untuk tinggal dan menetap di kota Jakarta ini. Suatu pagi diakhir pekan, Nunik mengajakku jalan ke sebuah acara pagelaran music yang diadakan oleh sebuah stasiun radio yang sangat digandrungi para kawula muda seantero kota Jakarta. Aku benar-benar merasakan sesuatu yang baru dalam kehidupanku, aku seperti menemukan diriku yang sesungguhnya, dapat mengekspresikan apa yang aku rasakan dan apa yang aku inginkan. Bukan hanya karena pengaruh Nunik, mungkin sesuatu yang berbeda dalam hidupku, aku sendiri juga tidak tahu hal apa yang membuatku merasa seperti ini. Sepertinya dalam sekejap, aku sudah bisa melupakan sesuatu yang pernah aku lewatkan bersama sahabat-sahabatku dulu, termasuk Alan. Jangankan berhasrat untuk kembali  bersamanya, mengingatnya saja sepertinya aku juga enggan. Aku yakin Alanpun akan bersikap sama denganku, ketika dia sedang menikmati liburannya  di Jogja sana. Biarlah semua berjalan sendiri-sendiri seperti ini.
“Nik, bentar deh..!, bangunan yang didepan studio radio itu kampus ya…?” tanyaku pada Nunik, sambil menunjuk kearah bangunan besar yang dipenuhi pepohonan berdahan rindang.
“Iya kak..!, kenapa…?” jawab Nunik sambil memandang kearahku penuh tanda Tanya.
“Wah, kampus yang keren ya Nik…?” tanyaku lagi sambil setengah bergumam.
“Ini kan salah satu kampus impian semua orang kak. Lihat tuh kak…!, para mahasiswanya juga keren-keren kan..?” Nunik menunjuk pada segerombolan mahasiswa yang tengah duduk-duduk dikursi yang terletak dibawah salah satu pohon yang rindang.
“Antar kakak kesana  Nik…!” aku menarik lengan Nunik tiba-tiba.
“Tunggu sih Kak…!” Nunik sedikit berjingkat-jingkat sambil membetulkan letak sepatunya yang tadi dia lepaskan saat duduk-duduk bersamaku di belakang stage.
“Ayo buruan…!” aku kembali menarik lengannya setengah menyeretnya.
“Ihhh…., mo kemana sih kak…?” Nunik berusaha mengikuti langkahku yang berjalan dengan terburu-buru.
“Pokoknya kamu harus anterin kakak, beli formulir CPMB” aku kembali mengajak Nunik menuju pelataran kampus ini.
“Kak Edgar mau kuliah disini..?” Tanya Nunik sambil menghentikan langkahnya, wajahnya yang cantik menyiratkan mimik penuh keheranan.
“Yah, coba-coba aja Nik..!” jawabku sekenanya.
“Trus, bagaimana dengan rencana kuliah kakak di Bandung?” Tanya Nunik lagi sambil terus mengikuti langkahku, menuju loket pengambilan formulir pendaftaran CPMB.
Sejak saat itu, aku memutuskan untuk tinggal dan meneruskan kuliahku di kampus itu dan tidak pernah kembali lagi ke Bandung. Itu artinya aku juga meninggalkan Alan, Jono dan semua janji-janji untuk selalu bersama mereka terutama Alan sahabatku ini. Sepertinya aku tidak memiliki keberanian untuk berterus terang kepada mereka terutama Alan atas keputusanku ini. Aku takut sekali jika Alan akan marah dan pada akhirnya akan membenciku. Untuk itu aku putuskan untuk tidak memberitahukannya samasekali. Bahkan aku juga berpesan kepada orangtuaku di kampung, jika Alan atau teman-temanku yang lainnya datang kerumah. Berharap orangtuaku tidak akan memberitahukan yang sebenarnya kepada mereka. Bisa saja beralasan  jika aku lebih memilih untuk bekerja di Jakarta dan tidak melanjutkan kuliahku di Bandung bersama-sama mereka. Rupanya hal ini membuat Alan dan juga teman-temanku  yang lainnya dapat memakluminya, ketika mereka mendengar penjelasan dari orang tuaku ini. Meskipun harus menelan kekecewaannya terhadapku. Ketika itu  Alan yang memang sengaja mampir kerumahku untuk mengantarkan barang-barangku yang tertinggal dirumah kontrakan kami di Bandung.  Sejak saat itu pula, semua teman-temanku tidak pernah ada lagi yang datang kerumahku dikampung, begitu menurut kabar dari orang tuaku. 
            Tahun pertama kuliahku berjalan dengan lancar, aku sungguh benar-benar menikmatinya berbaur bersama anak-anak Jakarta dan juga anak-anak dari daerah-daerah lainnya. Aku sangat bersyukur sekali dapat memiliki banyak teman disini. Ada Jamal yang berasal dari Brebes, seorang teman yang sangat brilliant, selalu asyik saat diskusi  dengan ide-ide cemerlangnya dan juga keritikan-kritikannya yang sangat pedas, meskipun  dialek serta logat jawanya sangat lucu terdengar dikuping, saat dia tengah berbicara dengan begitu berapi-api, baik ketika di depan forum maupun saat dia melakukan orasi di depan massa. Masih ada temanku yang lainnya, ada Ali dan Maksum temanku dikegiatan Rohis dan juga kegiatan kemahasiswaan lainnya. Terakhir adalah teman-temanku yang sering mengajakku lebih mengenal seluk-beluknya pergaulan kota Jakarta. Salah satunya Ari, si anak borju. Juga  Indra yang jago main bilyard serta basket, tidak heran jika dia sangat digandrungi cewek-cewek cantik di fakultas ekonomi khususnya yang memang gudangnya cewek-cewek cantik di kampusku. Temanku Yang paling menarik adalah Andre yang asal Padang. Andre ini boleh dibilang anak paling popular diantara kami berdelapan, selain orangnya yang supel dia juga termasuk anak yang paling pandai memanfaatkan keadaan dan juga  setiap kesempatan yang ada.  Masih ada dua lagi teman-teman baikku di kampus , yaitu Marihot dan Rai Subisma. Marihot ini termasuk teman yang cukup menyenangkan sebenarnya, hanya saja sifat dan karakternya sulit sekali untuk difahami. Di kampus ini, dia hanya akrab denganku. Tidak heran jika semua orang mengacungkan jempol terhadapku, karena aku dapat berteman baik dengannya, bahkan aku juga kenal baik dengan keluarganya yang tinggal di daerah Rawamangun. Sementara temanku  yang terakhir, adalah Rai Subisma. Cowok bongsor asal Bali ini orangnya sangat lucu sekali, dimanapun ada dia, pasti suasana akan hiruk pikuk oleh gelak tawa bagi setiap orang yang mendengarkan lawakannya ini. Meskipun aku sudah memiliki banyak teman-teman baru, namun tetap saja aku selalu merindukan saat-saat bersama Alan. Bagiku Alan tidak hanya sebagai sahabat saja, melainkan sudah seperti saudara kandungku sendiri. Ingin rasanya aku menyuratinya atau berkirim kabar untuknya, akan tetapi aku malu sendiri dan selalu dihantui oleh rasa bersalahku karena telah mengkhianati dan meninggalkannya. Suatu waktu, aku pernah mencoba menyempatkan diri untuk mengunjunginya di Bandung. Memang sengaja, saat itu aku pergi diam-diam dan tidak ingin diketahuinya. Biarlah cukup dari kejauhan saja aku mengawasinya. Aku hanya ingin melihat dia dalam keadaan yang baik-baik saja, juga untuk sekedar mengobati rasa rinduku terhadapnya. Benar saja, dari informasi yang aku dapat, ternyata Alan masih tinggal sendirian di kontrakan yang dulu kami tinggali, dia kuliah disalah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di kota Bandung. Dia juga mengambil jurusan yang sama sepertiku di jurusan teknik dan manajemen industry. Sepertinya Alan sangat menikmati kesendiriannya ini. Dia tidak memiliki banyak teman sepertiku,  dia juga cenderung menutup diri. Kegiatan kesehariannya sangat monoton sekali. Selain pergi ke kampus untuk kuliah, sisa waktunya dia habiskan hanya untuk berdiam diri saja di rumah kontrakannya. Meski tidak tahu persis apa yang Alan lakukan, tapi itulah apa yang aku amati selama beberapa hari ini, hal ini sudah membuatku merasa lega dengan melihat kondisinya  dalam keadaan yang baik-baik saja. Meskipun dia terlihat sangat berubah sekali. Karena jika aku perhatikan, kini dia jadi lebih pendiam, tidak tampak lagi dalam dirinya keceriaan dan kehangatan yang dulu selalu dia ekspresikan kepada siapapun.  Tapi sudahlah, aku tidak ingin berlebihan dan terlalu mendramatisir keadaan, biarlah kehidupan ini  berjalan sebagaimana air mengalir.  Aku yakin suatu saat nanti kami akan dipertemukan kembali dalam kondisi yang lebih baik lagi. Aku selalu yakin akan hal ini.  Yang terpenting bagiku adalah menjalani kuliahku dengan baik dan dapat ditunjukkan kepada Alan  saat bertemu dengannya suatu saat nanti.
            Seiring waktu berjalan, kuliahku berjalan semakin lancar dengan hasil yang sangat memuaskan tentunya. Lambat laun aku juga sudah bisa melupakan Alan karena kesibukanku di Kampus dan juga pekerjaanku sebagai partimer bersama teman-temanku, hal ini semakin menyibukkanku sehingga aku sama sekali tidak pernah pulang ke kampungku meski dihari lebaran sekalipun. Terkadang orang tuaku yang malah sering mengunjungiku, bahkan sebagai ancaman atas restu mereka ini, mereka mengharuskanku untuk tinggal bersama keluarga Om Jaka di daerah  kawasan elit di selatan kota Jakarta. Sengaja orangtuaku menitipkanku pada keluarga Om  Jaka adiknya Ayah ini, supaya orangrtuaku dapat tetap mengawasiku dari jauh. Sejujurnya aku sangat tidak betah untuk tinggal bersama mereka, selain kehidupannya yang super borju,  semua anggota keluarganya sepertinya tidak saling perduli satu sama lainnya, sibuk dengan dunianya masing-masing. Rumah hanya mereka jadikan tempat persinggahan saja, selebihnya waktu mereka lebih banyak dihabiskan diluar rumah. Mungkin hanya sekitar dua bulan saja aku tinggal bersama mereka, sebelum pada akhirnya aku memutuskan untuk tinggal dirumah tanteku di daerah Tanjung Priok yang udaranya sangat panas dan juga terik. Tante Eni adalah adik bungsunya mamaku, wanita paruh baya ini seorang janda tanpa anak dan hanya tinggal sendirian saja dirumahnya. Kegiatan sehari-harinya, dia berjualan di sebuah pusat perbelanjaan dengan membuka beberapa toko pakaian. Tante Eni sangat sayang terhadapku, kasih sayangnya ini mengingatkanku pada mamaku sendiri. Jika berkesempatan, aku juga sering membantunya berjualan di tokonya, meskipun dia banyak memiliki karyawan yang bertugas di beberpa konter pakaian, akan tetapi aku hanya ingin menunjukkan kepedulianku terhadapnya dengan membantunya semampuku. Bahkan, terkadang aku juga sering menemaninya pergi kemana saja, berobat ke dokter saat dia sakit, atau hanya untuk sekedar jalan-jalan saja saat dia merasa suntuk. Bagiku Tante Eni sudah seperti mamaku sendiri, selain wajahnya yang sangat mirip dengan mamaku, sifat keibuannya juga  tidaklah begitu jauh berbeda dengan mamaku. Hanya saja, Tante Eni  tidak dikaruniai seorang anakpun hingga sepeninggal suaminya. Selain aku, kini  tidak ada lagi orang yang menemaninya di masa-masa sendirinya seperti sekarang ini. Mungkin saja kehadiranku ini yang menjadi salah satu sebab, jika dia begitu menyayangiku. Hal inilah yang membuatku semakin betah untuk tinggal bersamanya, selain karena kebaikan-kebaikan Tante Eni sendiri,  aku juga memiliki banyak teman disini. Teman dari berbagai macam kalangan. Mulai dari Bonar mahasiswa teknik mesin yang memiliki usaha warung mie bakso di perempatan jalan yang selalu ramai oleh lalu lalang mobil-mobil angkot dan juga truk container. Tidak hanya  Bonar saja, aku juga akrab dengan Ayub si anak betawi yang memiliki bengkel bubut berlokasi di perempatan juga.  Bahkan aku juga berteman baik dengan Toni dan Edo dari suku Batak, kakak beradik ini seorang pengusaha lapo tuak yang buka selama 24 jam. Selain itu, aku juga kenal baik dengan yang namanya Bujang dan Bucek, sebenarnya ini adalah nama panggilan mereka saja, sebuah nama yang diambil dari singkatan nama-nama mereka, hanya untuk membedakan antara Bujang yaitu Budi Jangkung dan Buce, Budi Cebol. Ada-ada saja memang nama-nama akrab kami ini. Satu lagi teman akrabku disini, dia bernama Rosadi, tapi kebanyakan orang lebih sering memanggilnya dengan sebutan Bonyok, karena hobinya yang sering ngebut dengan motor vespanya dan sering pula mengalami kecelakaan lalu lintas,  sehingga sering membuat wajahnya lebam-lebam dan juga luka-luka. Maka jadilah sebutan bagi panggilan populernya dengan nama “Bonyok”.
            Waktu bergulir begitu cepat sekali, nyaris tidak terasa dari menit-kemenit hingga tahun demi tahunpun segera berlalu tanpa meninggalkan jejaknya. Pada akhirnya kuliahku dapat aku selesaikan dengan baik, tidak hanya selesai sarjanaku saja, bahkan aku juga sudah menyelesaikan S2- ku di Jepang atas beasiswa yang aku peroleh dari sebuah perusahaan asing hingga mengantarku mendapatkan pekerjaan yang baik pula. Tidak hanya aku sendiri saja yang merasa senang dengan semua yang telah aku capai, akan tetapi bagi orang-orang terdekatku terutama kedua orangtuaku. Sepertinya lengkap sudah kehidupanku saat ini, aku dapat meraih semuanya diusiaku yang masih belia. Tidak heran orangtuaku mengadakan acara syukuran khusus untuk menyambut kepulanganku ke kampung halamanku. Aku begitu dielu-elukan oleh orangtuaku, semua kakak-kakaku dan juga keluargaku yang lainnya. Aku benar-benar bahagia sekali dapat menunjukkan prestasiku kepada mereka. Dulu juga, ketika semua kakak-kakakku lulus sarjananya, ayahku selalu mengadakan acara syukuran, bahkan pada saat kakak pertamaku lulus sebagai sarjana pertanian, yang merupakan orang pertama yang lulus sarjana di kampungku. Waktu itu ayahku sengaja mengadakan syukuran besar-besaran dengan menyuguhkan acara pementasan wayang golek semalam suntuk sebagai wujud kebanggaan ayahku,   atas keberhasilan anak pertamanya sebagai seorang sarjana. Dan kini giliran aku sebagai anak bungsunya dari tujuh bersaudara. Meskipun ayah tidak mengadakan acara syukuran yang besar-besaran, akan tetapi aku sangat senang sekali, karena semua keluarga besarku dapat berkumpul bersama dirumah besar ini. Rumah panggung tempat dimana kami sekeluarga tinggal bersama selama ini, tidak heran jika kami selalu rindu pada rumah ini. Kemanapun kami pergi jauh, pasti akan selalu ingin segera kembali kesini. Sebenarnya kakak-kakakku juga hampir semuanya sukses dengan studinya dan juga karirnya, ada yang menjadi dokter, apoteker, guru atau mengelola usaha sendiri. Kedua orangtuaku sudah berhasil mengantarkan semua anak-anaknya dalam kehidupan yang layak. Kini mereka berdua hanya tinggal menghabiskan masa tuanya dirumah tua ini, dengan mengurusi sawah dan juga ladang yang selama ini menghidupi kami semua. Sebenarnya mereka tidak perlu lagi untuk bersusah payah mengurusi sawah dan juga ladangnya ini, bahkan sudah seringkali aku mengajaknya untuk tinggal bersamaku disebuah rumah yang aku beli dari hasil kerjaku selama ini. Namun apa daya, sekuat apapun aku membujuknya, mereka tetap saja bersikukuh dengan keputusannya ini. Sama halnya dengan Tante Eni, dia juga sama saja. Tidak ingin merepotkanku untuk tinggal bersamaku, selalu saja itu alasannya. Untuk itu aku selalu berusaha dalam seminggu dapat selalu membagi waktu untuk mereka ini. Aku tidak mungkin meninggalkannya disaat aku benar-benar sudah memiliki kehidupanku sendiri. Justru saat inilah aku ingin menunjukkan baktiku kepada mereka, orang-orang yang paling berjasa dalam hidupku. Aku selalu menyempatkan diri untuk menginap dirumahnya, mengajaknya mengobrol hingga larut, makan bersama, atau menemaninya membereskan koleksi kain-kain batiknya yang tersusun rapi dilemari khusus. Biasanya orang-orang seumuran Tante Eni dan juga mama serta ayahku ini, sangat sensitive sekali perasaannya, selalu ingin diperhatikan meskipun dengan hal-hal sekecil apapun. Aku harus dapat berusaha untuk memenuhinya sebaik mungkin. Semua yang aku lakukan ini memang terlihat sangat sepele, namun sangat berat sekali untuk menjalankannya. Betapa tidak, aku ini seorang anak muda, yang memiliki kehidupan sendiri bersama teman-temanku. Akan tetapi aku selalu berusaha menyempatkan waktuku demi mereka, karena aku sangat menyayanginya. Aku akan selalu melakukan yang terbaik untuk mereka selama mereka masih hidup. Sebenarnya tidak hanya aku saja yang melakukan hal ini, akan tetapi semua kakak-kakakku juga melakukan hal yang sama denganku, kami saling bergiliran untuk menjenguk mereka, bahkan sudah menjadi acara wajib pada setiap akhir bulan, kami semua harus berkumpul di rumah panggung milik orangtuaku di Desa.                  
Tinggal satu belokan lagi, aku sudah tiba digedung tempatku meeting bersama klienku yang memang berkantor di satu gedung pencakar langit ini. Gedung-gedung yang berdiri megah menghiasi sepanjang jalan-jalan protocol kota Jakarta. Usai memarkirkan mobilku, aku langsung menuju lobby gedung ini, dengan melalui beberapa pemeriksaan khusus oleh para petugas keamanan yang selalu siaga dibagian pintu masuk gedung ini. Gedung ini memiliki rancang bangun yang luar biasa modern, selain artistic juga multi fungsi pada setiap spacenya. Tidak henti-hentinya aku mengedarkan pandangan kesekeliling gedung ini sambil terus berdecak kagum, tidak terasa hingga aku sudah tiba di lantai 22 gedung ini. Begitu aku keluar dari pintu lift, aku masih saja celingukan dengan keadaan disekelilingku yang sunyi senyap, seperti tidak ada kehidupan disini. Mungkin jika petugas resepsionis yang cantik ini tidak langsung menyambutku dengan segala  kehangatan dan keramahannya,   aku masih saja terus asyik dengan kekagumanku terhadap tata ruang dan arsitektur gedung ini. Setelah mengutarakan maksud dan tujuanku datang ke kantor ini, selanjutnya petugas resepsoinis ini, mempersilahkanku masuk kedalam ruangan meeting yang letaknya bersebelahan dengan pintu masuk tadi.  Setibanya diruangan meeting ini, aku langsung memepersipakan segala sesuatu untuk keperluan meeting nanti, baik data-data yang akan aku presentasikan kepada klienku ini, maupun alat-alat penunjang lainnya. Untung saja segala sesuatunya telah aku persiapkan dengan baik dan tepat waktu, ketika klienku sudah hadir diruang meeting ini. Ada tiga orang yang mewakili perusahaannya ini, satu orang pimpinan perusahaan dan dua orang lainnya adalah staf pelaksana proyek yang akan dijalankan nanti.  Yang duduk sebagai pimpinan perusahaan adalah Mr. Tanokuro,  orang yang tidak asing lagi bagiku, karena sudah beberapa kali aku bekerjasama dengannya dalam beberapa proyek produksi sebelumnya. Sementara yang dua orang lagi adalah orang-yang baru pertama kali bertemu denganku, mungkin saja mereka ini adalah para tenaga ahli yang baru direkrut oleh perusahaannya Mr. Tanokuro. Orang yang pertama dikenalkan bernama Agung, dia adalah seorang sarjana teknik elektro yang pernah di training di Jepang, yang menjabat sebagai R & D, sementara orang yang satunya lagi adalah orang yang tidak pernah aku duga-duga sebelumnya untuk bertemu dengannya disini, dia adalah Alan. Baru beberapa bulan saja Alan bekerja disini dan menjadi staf procurement yang bertugas menganalisa proposal atas perencanaan proyek yang aku buat ini.
Sekian tahun lamanya aku baru dipertemukan kembali dengan Alan, sahabat lamaku yang memang ingin sekali aku kembali merajut tali persahabatan bersamanya yang sempat terputus karena terpisahkan oleh keadaan.  Kini Alan yang duduk dihadapanku  terlihat sangat berbeda sekali penampilannya dengan Alan yang dulu. Dia tampak lebih dewasa dan juga matang. Aku belum bisa bertegur sapa dengannya karena aku harus menyelesaikan presentasiku dihadapan mereka. Aku berharap semuanya akan berjalan dengan lancar sesuai rencanaku, selain aku tidak ingin mengecewakan Mr.Tanokura sebagai klienku, aku juga ingin terlihat sempurna dihadapan Alan. Bukan bermaksud ingin menyombongkan diri  dihadapannya, aku hanya ingin membuat kesan baik untuknya. Aku berusaha seprofesional mungkin ketika menyampaikan materi presentasiku ini, supaya dapat dengan mudah di fahami oleh klienku, dan juga supaya terkesan lebih transparan. Dan benar saja, pada akhirnya tatapan puas dari Mr. Tanokura beserta semua staffnya dapat aku rasakan begitu aku usai menyelesaikan presentasiku, Hingga  pada saat  proses negosiasipun dapat berjalan dengan mudah dan juga lancar. Mungkin sekitar dua jam lamanya meeting ini berlalu bersama  mereka. Untuk itu, begitu meeting ini selesai, barulah aku dapat menarik nafas lega atas kesan puas mereka saat penandatanganan kontrak kerja bersama.
 Usai mereka menyalamiku secara bergiliran, aku meminta izin pada Mr.Tanokura untuk tetap berada di ruang meeting ini bersama Alan. Selain untuk membicarakan masalah teknis dan juga progress proyek ini, aku juga ingin berbicara lebih banyak lagi dengannya, tentang persahabatan kami berdua, yang sempat terputus selama beberapa waktu lamanya. Saat meminta izin tadi, Mr. Tanokuro hanya mengangguk saja sambil meninggalkan ruangan ini yang terus diikuti oleh Pak Agung. Aku kembali duduk di tempatku, tepat dihadapan Alan, yang masih saja terdiam.
“Apa kabar Lan…?, sudah lama sekali kita tidak pernah bertemu” aku mulai  mengawali pembicaraan dengannya setelah beberapa saat lamanya saling berdiam diri.
“Aku baik-baik saja, aku fikir kamu sudah lupa denganku..!” dia hanya tertunduk saja,sepertinya ada sebuah kekecewaanya yang dia pendam selama ini.
“Maafkan aku Lan…!, aku sudah meninggalkanmu begitu saja, sejujurnya aku sangat kehilangan kamu Lan…!, aku ingin sekali mengulang kebersamaan kita seperti dulu lagi, itupun jika kamu masih menganggapku sebagai sahabatmu,” aku berusaha ingin meyakinkannya, sementara dia masih saja tertunduk tanpa reaksi apa-apa.
 “Paling tidak, kamu dapat memberiku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku itu. Tapi, kalaupun kesempatan itu tidak aku dapatkan saat ini, aku akan selalu menunggunya hingga kapanpun. Karena bagiku, kamu adalah orang yang sangat berarti dalam hidupku selama ini. Sekali lagi, maafkan aku Lan…!” kulihat Alan masih saja tertunduk, dan mungkin saja tidak ingin merespon apa yang aku katakan tadi. Untuk itu, aku kembali membereskan semua file-fileku yang menumpuk diatas meja dan memasukkannya kedalam tas kerjaku. Saat ini lebih baik aku segera beranjak dari ruang meeting ini.
 “Gar, tunggu…!,” Dia memanggilku  dengan suara sedikit tertahaan. Seketika aku hentikan langkahku dan menoleh kearahnya. Kupandangi wajahnya lekat-lekat, hanya untuk memastikan jika dia benar-benar ingin agar aku tidak pergi darinya.
“Gar, maafkan aku juga ya…!” dia tersenyum lebar, sambil menghamburkan diri kedalam pelukanku.
“Ini semua salahku Lan, kamu tidak perlu meminta maaf padaku..!” kulepaskan pelukannnya, kamipun sama-sama kembali duduk dikursi semula.
“Sudahlah Gar..!, kita lupakan saja semua yang sudah terjadi dimasa lalu !. Yang terpenting, saat ini kita dapat kembali bersahabat seperti dulu lagi kan…?”  dia menatap kearahku seolah ingin meminta persetujuanku.
“Alan, sejak dulu kita berdua ini adalah memang sahabat dan akan selalu seperti itu selamanya. Aku berharap kita akan selalu bersama lagi..!, seperti dulu…!” kujabat tangannya dengan erat, dia hanya membalas genggaman tanganku dengan begitu eratnya.
“Kamu sekarang sudah hebat Gar…!, aku sangat jauh tertinggal olehmu…!, bahkan kamu  lulus sarjanapun jauh lebih awal bila dibandingkan denganku, padahal kita brdua masuk kuliah ditahun yang sama. Dulu secara tidak sengaja, aku melihat foto wisudamu yang dipajang dirumahmu. Saat itu pula aku mendengar semua cerita yang sebenarnya tentang kamu dari mamamu. Sejak itu pula, aku bertekad untuk mengejar semua ketinggalan ini, meski aku sendiri tidak begitu yakin untuk dapat mengejarnya. Sejak dulu, kamu memang selalu saja unggul bila dibandingkan denganku. Si anak mama yang  hebat surebat…!” Pujinya sambil menatap tajam kerahku dengan senyumnya yang selalu mengembang. Aku yakin, ini adalah senyum kebanggaannya sebagai sahabatku atas semua yang telah aku raih saat ini.
“Semua ini, mungkin berkat do’amu juga Lan…!, aku yakin kamu sendiri pun akan dapat meraih suksesmu suatu saat nanti, pastinya  dengan semua kerja kerasmu Lan..!” aku sengaja ingin selalu mensupportnya untuk selalu optimis.
“Amin, terimakasih Gar…!, kamu memang tidak pernah berubah, selalu baik hati dan tidak pernah sombong…!”   
“Dan rajin menabung tentunya…!” ledekku sambil tertawa, sengaja memotong perkataannya tadi. Alan pun akhirnya ikut  tertawa, begitu dia menyadari ucapannya tadi aku ledek.
“Aku serius Gar…!”
“Aku juga serus kok…!, lucu saja omonganmu ini…!” kami berduapun kembali tertawa cekikikan.
“Oh ya Gar, dulu kamu suka kepikiran aku enggak sih…?” tanyanya dengan mimik yang serius, aku sedikit mengernyitkan dahi, sambil memikirkan jawabannya.
“Pastinya inget lah..!, terutama disaat-saat aku sedang membutuhkan dukungan dari seorang teman dekat. Aku yakin disaat yang bersamaan, kamu juga dapat merasakan hal ini kan…?” tanyaku, sambil menatapnya lekat-lekat.
“Iya, benar Gar..! jujur saja, dulu sepeninggal kamu, aku benar-benar limbung, seperti tidak lagi memiliki pijakan hidup. Tapi aku selalu berusaha menjalaninya sendirian. Aku selalu yakin, jika kepergianmu akan memberikan dampak positif untuk hidup aku. Paling tidak, aku lebih mandiri, tidak melulu bergantung padamu Gar…!” dia meraih cangkir tehnya sambil membetulkan letak duduknya. Sesaat kemudian teh yang ada didalam cangkir tersebut sudah mengalir kedalam perutnya melalui kerongkongannya.
“Syukurlah Lan, jika demikian adanya…!, sebenarnya aku juga tidaklah sekuat seperti yang kamu kira Lan, untung saja, aku banyak memiliki teman-teman yang selalu berbaik hati terhadapku, dan selalu ada disaat aku membutuhkan mereka” akupun ikut meneguk teh yang sudah tersaji sejak meeting tadi.
“Itulah hebatnya kamu Gar, selalu saja mudah menemukan teman, dimanapun kamu berada. Tidak seperti aku, mungkin bisa dihitung dengan jari, semua teman-temanku selama aku kuliah di sana. Aku selalu tidak percaya diri disaat akan memulai sebuah pertemanan. Tidak heran, jika teman-temanku selalu itu-itu saja Gar…!” dia sedikit tertawa seolah mentertawakan dirinya sendiri.
“Sudahlah bro…!, Yang terpenting, saat ini ada aku, yang selalu ada kapanpun kamu butuh aku, oke…?” kutatap wajahnya dengan sorot mataku yang tajam untuk lebih meyakinkan dirinya.
“Thanks Gar…!”
“Yups…!”
“Oh ya Gar, ada cerita nih..!”
“Cerita apaan..?” tanyaku sedikit heran.
“Pasti kamu tidak akan pernah tahu, tentang cerita yang satu ini deh..?” sepertinya dia dengan sengaja mengulur-ulur waktu untuk membuatku penasaran.
“Iya apa…?, bagaimana aku akan tahu, jika kamu mengulur-ulur terus ceritamu” jawabku sedikit kesal.
“Kamu masih ingat kan..?” tanyanya lagi, semakin membuatku bertambah kesal saja
“Ingat apa.. ?, cerita kamu ini kok diputus-putus gitu sih..!”
“itu lho Gar..!, Teh Nining dan juga si Nuke…!”
“Iya, aku masih inget dengan mereka kok..!  kenapa memangnya…?” tanyaku semakin bertambah heran saja.
“Gar, ternyata mereka ini suka sama kamu lho…!”
“Kok bisa… ?” aku semakin mengernyitkan dahiku atas keheranan ini.
“Iya bener Gar..!, pokoknya semenjak kamu pergi, mereka berdua selalu menanyakanmu. Hingga pada akhirnya, mereka berdua berterus terang pada aku dan juga Tarjono. Rupanya selama ini, mereka ini naksir kamu Gar..!” awalnya aku tidak percaya denagn ceritanya Alan ini, bisa saja dia ngarang, akan tetapi Alan serius sekali menceritakannya.
“Kenapa harus aku Lan…?, bukannya Teh Nining suka dengan Tarjono..?. Sedangkan si Nuke, bukannya kamu memang suka dengan dia kan..?” tanyaku, sambil menatap tajam kearahnya.
“Iya sih..!, akan tetapi pada kenyataannya mereka suka sama kamu Ga.  Menurut Teh Nining, kamu ini orangnya  asyik, enggak sombong, dan ganteng katanya..!” Alan cengengesan sambil menirukan gayanya Teh Nining berbicara.
“Weleh…!, paling kamu tambah-tambihin deh….!, aku enggak bakalan GE-ER Lan..!” aku mencibir kearahnya.
“Kok ngarang sih…?, aku cerita yang sebenarnya kok…!, malah versinya Nuke lain lagi deh. Pasti kamu akan klepek-klepek mendengarnya” ledeknya sambil terus cengengesan.
“Impossible…!, memangnya kamu Lan…!” Kujentikkan jariku didepan hidungnya. Diapun buru-buru menepisnya.
“Enak aja…!”
“Lho, Bener kan..?”
“Terserah deh…!, Kamu mau dengerin atau enggak…!”  dia sepertinya mulai jengkel dengan sikapku tadi.
“Ya sudah, aku denger deh…! Terus menurut Nuke aku ini bagaimana…?” tanyaku, aku berusaha membujuknya.
“Dasar, munafik juga kamu Gar…!” Dia hanya cengengesan saja atas kepenasaranku ini.
“Iya deh, aku sangat  ingin tahu tentang Nuke…!”
“Akhirnya….!’
“Ya sudah, buruan…!” kutarik tangannya dengan gemasnya.
“Ihhhh, kok maksa sih…!”
“Kamu sih…!, bikin orang parno aja…!”
“Oke-oke Gar…!, dengar baik-baik ya….!”  Dia sengaja menghentikan kembali ceritanya, dengan berpura-pura meminum kembali sisa tehnya tadi.
“Huh…!, kamu ini Lan…!” Aku semakin keki saja melihat ulahnya Alan ini, yang sengaja mengulur-ulur ceritanya dan membuatku semakin penasaran dibuatnya.
“Aku haus Gar…!” elaknya, sambil kembali meletakkan cangkir tehnya di meja.
“Ya sudah buruan dong…!” aku kembali memaksanya, dengan nada yang memelas.
“Edgar…!, rupanya kamu suka juga ya sama Nuke…?” tanyanya, sambil memandang wajahku lekat-lekat.
“Alan…!, semua laki-laki normal, pasti akan jatuh cinta pada Nuke. Dia itu cantik, baik dan juga lembut. Sempurna sekali sebagai seorang perempuan. Hanya saja, waktu itu Nuke masih terlalu kecil untuk kita jadikan pacar kan…?, apalagi waktu itu juga, kamu sangat gencar sekali untuk pedekate dengannya…! ” aku hanya dapat tersenyum hambar, sambil kembali membayangkan sosok Nuke yang pernah aku tahu.
“Kamu tidak salah Gar…!.  Dulu, aku memang sangat menyukainya. Namun pada akhirnya aku harus berbesar hati. Ketika aku tahu, jika Nuke sebenarnya menyukaimu Gar…!. Menurut Nuke, selain kamu tampan. Kamu juga baik, pokoknya sosok laki-laki yang menjadi idamannya Nuke. Dan satu hal, kamu juga  adalah  orang yang sangat lembuuuut sekali…!,”
“Tepung kali…!” potongku, sambil terkekeh.
“Eh beneran…!, udah gitu, kamu tuh perhatian sekali katanya, Nuke ingin sekali jadi pacar kamu Gar…!” kali ini suara Alan begitu tegas sekali terdengar dikupingku.
“Oh ya, apa kabar ya Nuke..?, mungkin sekarang dia sudah kuliah ya Lan…?” tanyaku, sambil kembali membayangkan sosok cantiknya Nuke.
“Dia kuliah di kampusku juga kok…!”
“Oh ya…?”
“Wah, serius tertarik nih…?” ledek Alan dengan mengerlingkan mata kearahku.
“Ya enggak gitu juga Lan…!”
“Iya juga, enggak apa-apa Gar…!, aku masih kontak kok sama dia kok…!” aku sedikit lega mendengarnya, entah mengapa bisa seperti ini perasaanku.
“Enggak usah Lan…!, lupakan saja…!” aku buru-buru menepisnya perasaan tadi.
“Jangan begitu Bro…!, kamu sendiri kan…?, yang selalu bilang ke aku untuk selalu optimis dalam segala hal, termasuk dengan masalah Nuke juga dong…?” Alan menggenggam tanganku untuk lebih meyakinkanku lagi.
“Aku tidak bisa berharap banyak Lan..!, bisa saja, saat ini Nuke sudah memiliki seseorang yang tidak pernah kita tahu itu! “ kali ini aku merasa benar-benar takut, jika pada kenyataanya Nuke sudah memiliki seorang kekasih hatinya.
“Aku jamin belum Gar..!, aku langsung telpon dia nih….!” Alan buru-buru mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
“Eit, tunggu Lan…!, kok hantam kromo gitu sih…!” cegahku, sambil sedikit merengut.
“Yah, biar kamu lebih yakin aja Gar…!”
“Maksudku, gimana caranya untuk bertemu dia secara diam-diam gitu Lan..!” aku kembali mengernyitkan dahi untuk sedikit berfikir mengenai hal ini.
“Gini saja Gar..!, weekend ini kamu ada waktu kan…?,” aku menjawabnya hanya dengan mengangguk saja kearahnya,  “Kebetulan setiap weekend, aku pulang ke Bandung untuk menemui pacarku, sepupunya Nuke juga Gar…!. Nah, bagaimana jika kamu ikut aku ke Bandung..?. Soal Nuke, biar pacarku yang akan mengaturnya deh…!, oke kan…?” tanyanya sambil menunggu persetujuanku.
“Thanks Lan…!, aku setuju. Hebat juga idemu ini…!” aku tersenyum sumringah sambil menepuk-nepuk bahunya Alan.
Kami berdua akhirnya semakin larut dalam obrolan yang mengasyikan, mungkin jika bukan pada jam kantor, bisa saja kami berdua akan terus asyik saling berbagi cerita tentang apapun, untuk melepaskan semua kerinduan diantara kami berdua. Aku sangat bersyukur sekali, karena pada akhirnya Tuhan mempertemukan kembali kami berdua, disaat segalanya telah berubah lebih baik. Semuanya karena Alan dan untuk Alan, sahabat terbaikku. Dulu, kini dan untuk selamanya.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar