Senja di tepi sungai
By : Ganta Vaksie
Kubelokkan SUV ku menuju jalanan yang mulai menanjak dan sedikit berkelok-kelok mengelilingi sisi bukit. Di kanan dan kiri jalan tampak hamparan perkebunan teh yang luas menghijau bak permadani raksasa yang membentang mengelilingi perbukitan dan juga lembah serta ngarai yang ada di sekitarnya. Jalanan yang aku lalui pun sedikit terjal oleh bebatuan gunung yang belum teraspal secara merata. Hanya tinggal satu kelokkan lagi aku akan segera tiba di rumah peristirahatan milik keluargaku. Rumah besar sengaja dibangun menyerupai resort yang banyak bertebaran di Pulau Bali dengan hamparan taman-taman yang indah mengelilinginya. Aku dan keluargaku hanya sesekali saja datang ke tempat ini. Selain untuk menghabiskan liburan bersama sekaligus melepaskan segala penat yang ada dari segala rutinitas dan hiruk-pikuknya kota metropolitan.
Weekend kali ini sengaja aku ingin menghabiskan waktuku di sini sendiri tanpa siapa-siapa, mungkin hanya Mak Unah saja yang akan menemaniku menghabiskan hari-hariku disini. Seperti biasanya Mak Unahlah yang dengan setia akan menyiapkan semua kebutuhanku selama liburanku ini. Tidak begitu banyak barang bawaan yang aku bawa, hanya beberapa stel pakaian dan beberapa perlengkapan grooming yang aku masukkan kedalam small bag kit. Selain karena liburannya tidaklah terlalu lama dan juga dekat. Sepertinya liburan disini juga tidaklah memerlukanku untuk berganti-ganti pakaian, selain karena memang udaranya yang sangat dingin tidaklah mungkin aku akan banyak berkeringat ataupun aku akan datang ke sebuah acara tertentu. Makanya aku hanya memabawa pakaian salin seperlunya saja atau bahkan boleh dibilang seadanya saja. Beberapa buah T-shirt, short pants dan celana boxer, pakaian dalam dan juga satu buah straight jeans serta v-neck shirt berbahan rajut. Hanya itu saja barang bawaanku, selebihnya adalah perlengkapan elektronik yang biasanya selalu aku bawa kemanapun aku pergi. Seperti note book including internet modem, Ipod, digital camera dan pastinya handphone. Tanpa semua perlengkapan itu aku seperti mati kutu, garing nyaris tidak dapat melakukan kegiatan apapun.
Duduk berlama-lama di teras belakang rumah sambil mendengarkan lagu-lagunya Miley Cyrus adalah hal yang paling aku sukai. Biasanya aku betah berjam-jam duduk bersandar pada bantal empuk diatas kursi rotan dengan kaki bersilang yang aku selonjorkan di atas meja kayu. Biasanya Mak Unah menyiapkan beberapa kudapan dan juga bercangkir-cangkir kopi maupun teh selama aku duduk disini. Sungguh pemandangan yang menakjubkan dapat aku nikmati ketika aku duduk berlama-lama di sini. Halaman belakang rumah peristirahatan ini persis menghadap ke arah bertenggernya gunung dan juga beberapa perbukitan, dimana siluetnya terlihat indah mengikuti garis bumi sejauh mata memandang. Di kejauhan nampak aliran sungai yang berkelok-kelok seperti ular yang sedang melata. Dimana-mana tampak deretan pohon cemara yang menjuntai indah menghadap cakrawala. Terkadang ujung dahannya meliuk-liuk tertiup angin gunung bergoyang-goyang mengikuti haluan angin yang membawanya kemana pun arah yang ditujunya. Setelah bosan berlama-lama duduk di sini. Jenuh juga fikirku. Lalu kuputuskan untuk keluar rumah, tentunya setelah berpamitan pada Mak Unah yang tengah sibuk menyiapkan untuk makan malam nanti. Hari masih terlalu siang menjelang sore, akan lebih seru jika aku gunakan untuk berkeliling Desa. Untuk sekedar melihat-lihat suasananya dan juga kesibukkan para penghuninya. Hal ini sering aku lakukan pada setiap kunjunganku di sini. Bahkan ada beberapa tempat favorit yang sering aku jadikan tempat persinggahan selama aku berkeliling Desa. Seperti saung yang ada di tepi sungai dengan aliran airnya yang lumayan deras pada bagian sisi dan juga tengahnya hampir dipenuhi oleh bebatuan besar yang menghubungkan beberapa jalanan setapak yang mengarah ke saung ini. Dari tempat aku duduk ini, aku dapat melihat para petani perkebunan teh yang melintas sibuk berlalu-lalang sepulang dari ladang mereka. Sesekali mereka saling bertegur sapa ketika mereka saling berpapasan, termasuk ketika mereka melintas dihadapanku paling tidak sebuah senyuman dan juga anggukan kepala sebagai tanda hormat mereka terhadap tamu yang berkunjung ke Desa mereka. Kuteruskan perjalananku mengikuti jalanan setapak di sepanjang tepian sungai yang mengarah ke sebuah pancuran kecil. Dan dibawah sana tepat di balik bebatuan besar dan sedikit terlindung oleh rindangnya semak belukar yang tumbuh di sepanjang sisi sungai, aku dapat melihat beberapa gembala sedang memandikan ternaknya disana. Mereka asyik bercanda ria nyaris tanpa beban. Tidak hanya bercanda ria bersama sesama teman penggembala melainkan juga dengan ternak mereka yang enggan untuk dimandikan. Beberapa saat lamanya aku terus memperhatikan tingkah polah mereka yang tanpa sadar telah membuatku senyum-senyum sendiri.
Diantara mereka ada yang sangat menyita perhatianku sejak tadi. Dia berjarak sedikit lebih jauh ke hulu dari gerombolan teman-temannya. Sepertinya dia tengah asyik memandikan ternaknya tanpa menghiraukan teman-temannya yang lain, bahkan ketika semua temannya tersebut segera berlalu meninggalkannya, sepertinya dia pun sama sekali tidak memperdulikannya, dia terus saja asyik dengan kesibukannya ini. Pemuda Desa ini mungkin umurnya baru saja menginjak usia 25 tahunan, namun terlihat sedikit lebih matang dari usianya. Tubuhnya kekar dengan guratan otot pada bagian lengan dan juga dadanya yang sedikit berkilat oleh semburat matahari senja. Usai memandikan ternaknya dan mengikatnya di pohon yang ada di pinggir sungai. Kini giliran si pemilik tubuh perkasa ini yang menceburkan dirinya kedalam sungai berair jernih. Byuuurrrr....Tampaklah buih-buih putih yang mengapung ke permukaan sungai ketika dirinya mulai tenggelam dan menyelam kedasr sungai. Beberapa kali kulihat tubuhnya timbul tenggelam, spertinya dia sangat menikmatinya. Beberapa kali pula kulihat dia berenang kesana-kemari dengan asyiknya tanpa memperhatikan keadaan di sekelilingnya termasuk dengan kehadiranku di sini.
Perlahan aku mulai melucuti pakaianku satu persatu. Hingga berbalutkan pakaian dalam saja yang melekat ditubuhku ketika aku mulai ikut menceburkan diri kedalam sungai yang ternyata arusnya sangat deras sekali. Awalnya aku fikir aku dapat mengimbanginya dengan keahlianku berenang yang biasa aku lakukan di rumahku. Tapi ternyata berenang di derasnya air sungai ini sungguh menguras tenagaku. Awalnya aku ingin berusaha mencapai tempat dimana pemuda desa itu berenang, tapi ternyata aku benar-benar kewalahan, aku nyaris tak berdaya bahkan ketika hantaman arus sungai yang semakin deras semakin membawaku hanyut kehulu. Bebrapa kali aku timbul tenggelam diantara derasnya air, dan beberapa kali aku meminum air tersebut. Pndanganku semakin kabur ketika kurasakan secara tiba-tiba ada sebuah tangan kokoh yang dengan sigap mendekapku begitu erat dan membawanya ketepian. Dalam keadaan yang setengah sadar dia membopong tubuhku keatas dengan kedua tangan kekarnya, lalu enidurkanku diats sebongkah batu besar. Kurasakan dia mulai menekan-nekan bagian perutku, sesaat kemudian kurasakan bibir lembutnyamulai menyentuh bibirku dengan menghembuskan hawanya yang menghangatkan seisi mulut dan juga kerongkonganku. Hal ini dia lakukan berulang-ulang selama tiga kali hingga aku terbatuk-batuk dan sadarkan diri. Ketika aku mulai tersadar, yang pertama aku lihat adalah dia, wajahnya yang polos dengan senyum mengembang penuh kebahagiaan. Jantungku berdegup sangat kencang sperti bunyi bedug lebaran, iramanya seperti dentuman musik saat dugem, sangat keras dan menghentak. Seketika itu pula darahku berdesir dengan hebatnya saat melihat tubuh telanjang yang tengah duduk mengangkang disebelahku yang masih terbaring di atas batu. Sepertinya dia baru tersadar ketika aku pandangi dia dengan kedua bola mata sedikit terbelalak. Dia pun akhirnya terseak kaget menyadarinya dalam kondisi bertelanjang bulat. Buru-buru dia menutupi bagian alat vitalnya yang sedari bergelayut hampir menyentuh batu dengan kedua buah tangannya. Aku hanya mesem saja sembari mengucapkan rasa terimakasihku karena telah menolongku tadi. Dia hanya sedikit berpaling sambil menundukkan kepala malu-malu. Aku pun mulai bangkit dari tidurku secara perlahan. Saat terbangun barulah aku menyadari ternyata aku sendiri pun dalam keadaan telanjang bulat. Rupanya celana dalam yang aku kenakan tadi telah hanyut terbawa arus derasnya air sungai. Aku pun buru-buru menutupi bagian alat vitalku dengan kedua tanganku seperti halnya yang dilakukan pemuda desa tadi sambil tersenyum kearahnya. Pada akhirnya kami berdua pun saling terbahak atas kelucuan ini, bahkan saling menepiskan tangan kami masing-masing yang menutupi sang jagoan kami. Tanpa isyarat apa-apa akhirnya kami berdua kembali menceburkan diri ke sungai untuk berenang. Mungkin karena dia terlalu mengkhawatirkanku takut tenggelam seperti tadi, sejak tadi tangannya selalu melingkar di pinggangku, sedetik pun sepertinya dia tidak ingin melepasnya, yang aku rasakan tangan kokohnya malah semakin erat mendekapku bahkan kita tubuh kami berdua mulai saling berhimpitan, saling menyentuh, melumat penuh gelora hingga senja menjelang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar