Love is blind
By : Ganta Vaksie
Begitu selesai meeting, aku langsung menghambur menuju ruang kerjaku karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan sesegera mungkin. Biasanya kalau aku sudah disibukkan oleh segala rutinitas pekerjaan di kantor, aku akan lupa segalanya. Apalagi jika aku harus berkutat dengan pekerjaan hitung-menghitung yang memerlukan daya konsentrasi tinggi dan juga ketetelitian. Deretan angka-angka ini seperti layaknya candu yang memabukkan sulit untuk aku hentikan, sehingga aku tidak mau diganggu oleh siapa pun. Memang sengaja aku matikan handphoneku sejak meeting tadi dan juga line telpon yang masuk melalui resepsionis memang sengaja aku batasi.
Mungkin jika bukan karena rasa lapar yang teramat sangat dan juga perutku yang sudah keroncongan minta untuk di isi. Mungkin saja aku masih terus asyik meneruskan pekerjaanku. Lumayan kaget juga, saat aku melirik jam di pergelangan tanganku waktu sudah menunjukkan hampir jam 4 sore, itu artinya sudah melebihi batas jam makan siang atau bahkan mungkin orang tengah menikmati istirahat cofee break. Sementatara aku masih terus berkutat dengan pekerjaanku. Sebenarnya hanya tinggal sedikit saja aku sudah dapat merampungkan seluruh pekerjaanku yang sedari pagi menumpuk diatas meja kerjaku. Mungkin hanya perlu waktu sekitar setengah jam atau mungkin paling lama satu jam aku sudah dapat terbebas dari semuanya. Sedikit tanggung, jika aku harus memaksakan diri keluar kantor untuk makan siang. Aku fikir lebih baik aku minta di buatkan minuman sereal saja pada office boy, meski hanya untuk sekedar mengganjal isi perutku, paling tidak untuk satu jam kedepan. Aku mulai beranjak dari tempat dudukku menuju toilet dan ruangan pantry yang letaknya memang sangat berdekatan. Sebelum memasuki toilet aku sempatkan masuk ke ruang pantry yang ternyata memang tidak ada siapa-siapa. Kemana gerangan si Cecep OB ?, mungkin saja dia sedang mengantarkan pesanan karyawan lainnya di lantai lain atau juga tengah mengantar minum untuk tamu yang datang ke kantor. Tanpa berfikir lama lagi aku langsung meneruskan langkahku menuju toilet. Dengan sedikit tergesa sambil berlari-lari kecil kebelet pipis dan nyaris jebol yang aku tahan sejak tadi. Mungkin karena saking lari terburu-buru langsung menuju urinoir yang lantainya sedikit licin aku hampir menubruk seseorang di sana yang ternyata adalah Cecep OB, rupanya dia sedang pipis juga. Dengan setengah kaget Cecep pun ikut terperanjat sambil seketika berbalik badan kearahku. Kami pun akhirnya bertubrukan dengan posisi saling berpelukan. Duarrr...jidatku persis menempel di jidatnya seperti orang hendak berciuman, karena kurasakan nafsnya Cecep berhembus kencang hangat menyapu wajahku, kami saling berpandangan dalam jarak yang begitu dekat beberapa detik lamanya tanpa berkata-kata. Gemuruh dada kami saling bergejolak tanpa arti. Ketika kami sama-sama tersadar dari kejadian ini, dengan spontan kami pun saling menjauh seketika dengan melepaskan pelukan kami masing-masing. Yang membuatku terkaget-kaget adalah ketika melihat kearah selangkangannya Cecep OB, ternyata dia belum sempat menutup rensleting celananya sehingga aku dapat dengan jelas melihat perabotannya yang setengah tegang bergelayut disana. Ukuran yang lumayan besar menyembul pada bagian atas celana dalamnya. Aku pura-pura tidak melihatnya dengan sedikit memalingkan wajahku ke arah lain. Sementara dia hanya tersipu malu dengan wajah yang bersemu merah dan buru-buru membetulkan letak celananya tersebut dengan tergesa. Mungkin dia merasa malu sekali sudah memamerkan barang pribadinya dihadapanku, atau entah apa yang difikirkannya saat ini. Secara tidak langsung kejadian tadi sebenarnya lumayan sedikit membuatku senang, sejujurnya Cecep OB ini orangnya lumayan manis, berkulit putih bersih dengan postur yang lumayan, sedikit kurus namun lumayan berotot tidak ceking atau kerempeng seperti orang tinggi kurus pada umumnya. Selama ini aku sering sekali memperhatikannya jika dia tengah mengantarkan minuman atau pesanan lainnya ke ruanganku. Tutur katanya yang halus dan juga sopan membuatku sedikit simpatik terhadapnya. Bahkan aku juga sering memintanya untuk memijat bagian pundakku saat aku lembur atau pulang larut. Dia setia menunggui siapa saja orang yang tengah lembur di kantor ini meskipun hingga larut malam. Termasuk aku yang selalu langganan pulang paling larut. Dan mungkin untuk malam ini, meskipun hampir semua pekerjaan telah aku rampungkan. Sepertinya aku punya rencana lain untuk pergi bersamanya. Hanya untuk sekedar menemaniku jalan dan juga hunting makan-makanan enak dengan berkeliling kota. Aku yakin dia pasti mau aku ajak kemana pun yang aku tuju. Tidak terasa akhirnya aku senyum-senyum sendiri, tanpa aku sadari jika dia masih berdiri terbengong dihadapanku. Usai dia meminta maaf, dia pun segera berlalu meninggalkanku. Aku hanya mengangguk perlahan kearahnya sambil meneruskan rencana pipisku yang tertunda tadi.
Sekeluarnya dari toilet, aku sempatkan mampir kembali ke ruang pantry untuk memesan minuman sereal pada Cecep. Kulihat dia sedikit terkaget ketika aku menghampirinya, mungkin saja dia berfikiran jika aku akan memarahinya atas kejadian tadi. Sengaja aku berbicara selembut mungkin supaya Cecep tidak lagi ketakutan seperti tadi. Usai memesan minumanku dan sedikit berbasa-basi, aku pun segera berlalu dari hadapannya menuju ruang kerjaku kembali untuk melanjutkan sisa pekerjaanku sedikit lagi yang sempat tertunda karena kejadian di toilet tadi. Kembali lagi aku berkutat dengan perhitungan angka-angka dan juga dimensi serta ukuran tertentu yang membuat pening di kepalaku. Kukerahkan segenap kemampuanku demi ingin segera merampungkannya sesegera mungkin, karena sore ini aku ingin segera pergi bersama Cecep meski aku belum bilang padanya. Tapi aku yakin, dia pasti akan menuruti apa kataku karena dia pernah bilang jika aku ini adalah orang yang paling baik tehadapnya di kantor ini. Tidak heran jika dia akan dengan suka rela dan senang hati tentunya pada setiap melayani semua permintaanku. Sebenarnya aku tidak pernah memintanya untuk melakukan hal-hal yang aneh-aneh atau diluar batas kewajaran, paling aku hanya minta dibuatkan minuman kopi, teh atau sejenisnya seperti teman-teman kantor lain pada umumnya, atau paling tidak untuk hal lainnya aku hanya minta dibelikan makanan cemilan, obat atau apa pun di luar area kantor. Hal lainnya paling aku hanya memintanya untuk membereskan dan merapihkan ruang kerjaku. biasanya aku tidak pernah lupa untuk menyelipkan beberapa lembar uang sepuluh ribuan untuk dia beli bakso atau jajan yang lainnya. Pastinya dia akan menerimanya dengan wajah penuh sumringah sambil mengucapkan rasa terimakasihnya secara beulang-ulang nyaris tanpa henti hingga dia meninggalkan ruanganku.
Sedikit deg-degan juga sebenarnya menunggu Cecep datang mengantarkan minuman ke ruanganku ini. Hitungan menit sedemikian lamanya serasa menunggu berjam-jam hingga beberapa kali aku menolehkan muka ke arah pintu masuk ruang kerjaku. Akan tetapi dia belum juga menunjukkan batang hidungnya hingga aku selesai merampungkan semua pekerjaanku. Kemanakah gerangan ?, apakah dia masih memikirkan kejadian tadi?, semua pertanyaan-pertanyaan ini semakin menggangguku. Sebaiknya aku harus segera menyusulnya kesana. Ya ke ruang pantry, aku takut terjadi sesuatu dengan Cecep. Hatiku semakin gusar, perasaanku pun seperti tidak menentu menyiratkan sesuatu yang buruk telah terjadi pada diri Cecep. Dan benar saja, sesampainya aku di ruang pantry kulihat tubuhnya sudah tergeletak di lantai dengan bersimbah darah pada bagian kepalanya, sementara di sekitar tubuhnya banyak pecahan gelas berserakan bercampur dengan beberapa tumpahan minuman yang mungkin tadi dibawanya. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi dengan diri Cecep, yang jelas dalam keadaan panik seperti sekarang ini aku masih dapat berfikir jernih untuk menghubungi security dengan menggunakan telpon yang ada di pantry. Dalam waktu yang tidaklah begitu lama mereka pun sudah tiba di lokasi kejadian. Sambil menjelaskan apa yang kejadian yang aku lihat tadi, aku juga mengintrusikan mereka untuk segera membopong tubuh Cecep masuk kedalam mobilku dan segera membawanya ke Rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Selama dalam perjalanan menuju rumah sakit hatiku benar-benar tidak tenang, ada rasa cemas, takut dan khawatir semuanya menjadi satu. Akan tetapi aku berusaha bersikap setenang mungkin di hadapan semua orang dan juga di hadapan para petugas Rumah sakit saat mengurus segala sesuatunya agar dapat berjalan dengan lancar.
Hampir dua jam lamanya Cecep berada di ruang IGD, aku hanya bisa terduduk gelisah di ruang tunggu ini sendirian, sementara petugas security yang tadi ikut mengantar sudah aku suruh kembali ke kantor untuk mengurus laporan kejadian tadi ke pihak manajemen kantorku. Dalam kondisi seperti ini aku berusaha untuk tetap tenang sambil berusaha memanjatkan semua do’a semampu yang aku hafal. Rasa lapar dan juga rasa haus yang aku rasakan sejak tadi, sepertinya sirna begitu saja manakala harus dihadapkan dengan kejadian seperti ini. Aku baru kembali merasa tenang ketika aku dipanggil oleh dokter yang tadi memeriksa Cecep, darinya diperoleh keterangan jika kondisi Cecep baik-baik saja. Dia hanya sedikit mengalami luka gores pada bagian pelipisnya yang diakibatkan oleh pecahan gelas pada saat dia terpeleset, kepalanya sedikit membentur lantai dan terkena pecahan gelas yang terjatuh berserakan di lantai pantry. Kini Cecep sudah berada di ruang perawatan dengan kondsi yang lebih baik. Dia tersenyum lebar ke arahku ketika aku menghampirinya di pembaringan. Pelipisnya masih di plester perban, tidak tampak sedikitpun diwajahnya yang menunjukkan gejala serius yang diakibatkan kejadian tadi. Malah jika diperhatikan wajahnya tampak lebih fresh dan juga lebih tampan dari biasanya. Aku semakin terpana memandangi raut wajahnya yang kini berada persisi di hadapanku, kedua belah tangannya direntangkan untuk menyambut kehadiranku dihadapannya. Kubalas pelukannya penuh haru dan kudekap tubuhnya sangat erat saat dia mengucapkan sesuatu di telingaku. Sebuah kata maaf yang tulus, karena dia tidak jadi mengantarkan minuman sereal pesananku tadi sore. Kusilangkan jari telunjukku dibibirnya, hanya sebuah isyarat tanpa kata-kata. Kupandangi lekat-lekat mata teduhnya, hidungnya yang bangir dan juga alis tebalnya, sungguh pahatan luar biasa yang telah Tuhan ciptakan atas wajah tampannya. Perlahan wajahku mendekat ke wajahnya hingga nafas kami pun salaing memburu penuh gemuruh yang bersahutan. Kulumat bibir lembutnya secara perlahan penuh cinta dengan mata terpejam. Hanya hati kami berdua yang dapat mengartikan sebuah ungkapan perasaan hati kami berdua selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar