Penatku membawa lelap…
By : Ganta Vaksie
Sudah setengah jam lamanya aku duduk dalam antrian, menunggu giliran wawancara kerja pagi ini. Lumayan deg-degan juga sebenarnya, selain karena ini adalah kali pertama aku melakukan wawancara kerja. Juga terlalu banyak hal-hal yang teramat aku fikirkan saat menghadapi orang yang akan mewawancaraiku nantinya. Perasaan kurang percaya diri dan juga entah apalagi yang berkecamuk dalam kepalaku ini. Beberapa kali aku mencoba menenangkan diriku dengan sedikit berdo’a dan beberapa kali menarik nafas panjang. Hasilnya lumayan sedikit dapat kembali menenangkan diriku.
Sebenarnya kekhawatiranku yang berlebihan ini tidaklah harus terjadi pagi ini. Betapa tidak, aku sudah mempersiapkan segalanya sebaik mungkin sesaat setelah salah satu staff HRD perusahaan ini menghubungi melalui ponselku 3 hari yang lalu. Dia memintaku hadir hari ini untuk melakukan beberapa tes tulis dan juga tes wawancara atas surat lamaran yang pernah aku kirimkan beberapa waktu yang lalu. Aku ingat betul iklan lowongan kerja yang mereka pasang melalui surat kabar nasional yang biasa aku beli pada setiap akhir pekan, karena biasanya koran yang terbitan pada akhir pekan ini banyak sekali memuat iklan lowongan kerja yang di tawarkan. Tidak heran jika aku tidak pernah melewatkan untuk selalu membelinya. Menurut iklan lowongan kerja yang ditawarkan perusahaan ini. Sepertinya aku sudah memenuhi beberapa kualifikasi yang mereka inginkan. Baik dari segi umur, setatus, latar belakang pendidikan dan juga beberapa persyaratan tambahan lainnya. Jadi apalagi yang sebenarnya harus aku khawatirkan lagi?.
Aku telah benar-benar mempersiapkan segalanya, mulai dari berkas salinan dokumen penting yang mungkin akan diperlukan nanti, hingga alat-alat tulis dan juga hal-hal kecil lainnya yang mungkin saja terlewatkan namun bisa jadi fatal nantinya. Bahkan pagi ini pun aku sengaja berpesan pada ibuku untuk membangunkanku lebih pagi lagi, selain karena aku takut terlambat datang, maklum saja lalulintas di kota Jakarta ini akan sulit sekali diprediksi. Aku fikir datang lebih awal akan lebih baik lagi, supaya aku akan lebih siap menghadapi tes yang akan aku jalani nanti.
Ibu hanya tersenyum-senyum saja, saat melihatku mematut diri di depan cermin, sepertinya tidak ada lagi yang kurang dari diriku. Kemeja putih bergaris lembut dengan dasi bergaris vertical yang didominasi warna biru dipadu dengan celana pantalon tanpa lipit telah rapi aku kenakan. Tidak lupa pula aku semprotkan wewangian beraroma cedarwood, citrus dan amber yang menyegarkan, tidak hanya bagi aku sendiri yang mengenakannya akan tetapi bagi setiap orang yang berada di dekatku. Hal ini lumayan membantuku untuk tampil lebih percaya diri lagi.
“Wah, anak ibu memang keren” ibu sudah berdiri di belakangku dengan menepuk-nepuk bagian pundakku penuh kasih sayang.
“Iya bu, mohon do’akan aku ya!” kugenggam kedua tangan ibu yang masih berada di bahuku.
“Ade sayang..! ibu selalu dan akan terus mendo’akanmu tanpa kamu minta sekali pun” ibu memelukku dari belakang dengan kelembutan hati seorang ibu yang selalu mengasihiku sejak kecil.
“Terimakasih bu!” kucium kedua tangannya penuh hormat.
“Ayo sayang..!, ayahmu sudah menunggumu di meja, kita sama-sama sarapan pagi” ibu membimbingku untuk segera keluar dari kamarku.
“Sebentar bu, aku mau mengambil tas dulu” kuraih tasku yang tergeletak di atas tempat tidurku dan segera menyusul ibu yang masih berdiri dekat pintu kamar.
Ingin sekali rasanya aku segera membahagiakan kedua orangtuaku dengan segera mendapatkan pekerjaan yang baik seperti harapan semuanya. Akan tetapi di zaman yang serba sulit seperti sekarang ini, sangatlah sulit sekali untuk mendapatkan pekerjaan sesuai yang diinginkan. Terlalu banyak pengangguran di negeri ini bila dibandingkan dengan kesempatan kerja yang ada. Tidak hanya calon tenaga kerja yang baru saja lulus dari sekolah atau pun perguruan tinggi, akan tetapi banyaknya pengangguran akibat korban PHK maupun pengangguran-pengangguran yang diakibatkan oleh dampak krisis ekonomi maupun sosial. Semakin menambah deretan panjang populasi pengangguran.
“Kok bengong De?” suara ayah sedikit mengagetkanku dari lamunanku ini.
“Enghhh.., gak apa-apa kok yah..!” aku sedikit gugup, sambil terus menyuapkan sarapanku.
“Kamu jangan terlalu terbebani De, dibawa santai saja!. Bapak yakin kamu bisa melewatkan tes hari ini dengan baik” suara ayah begitu menyejukanku, bagiku ayah adalah orang yang selalu berusaha memberiku semangat pada setiap kesempatan.
“Iya sayang, Apapun yang kamu hadapi, ayah dan ibu akan selalu mendo’akan untuk kebaikanmu..!” ibu kembali menepuk-nepuk bahuku dan juga membelai rambutku dengan lembutnya .
“Terimakasih ayah dan juga ibu!, Ade akan terus berusaha sebaik mungkin, untuk mewujudkannya” aku tersenyum ke arah mereka berdua untuk sekedar membuat mereka yakin.
“Ayo sarapannya segera dihabiskan, nanti terlambat lho!”
Kami bertiga pun kembali asyik dengan sisa sarapan kami masing-masing. Aku sangat bersyukur memiliki kedua orang tua yang sangat bijaksana dan selalu menyayangiku sepenuh hati mereka. Ayahku hanyalah seorang pegawai biasa yang cukup loyal dan juga idealis. Ayah bekerja sudah puluhan tahun lamanya, pada salah satu departemen pemerintahan yang mengurusi masalah lingkungan hidup. Keluarga kami adalah keluarga yang sangat sederhana. Sementara Ibuku adalah seorang ibu rumahtangga biasa. Wanita yang dipilih ayah untuk menjadi pendamping hidupnya selama ini. Ibu dengan segala kelembutan hatinya selalu mencurahkan segenap jiwaraganya hanya untuk keluarganya. Aku memiliki dua orang kakak perempuan yang kini telah berumah tangga. Kakaku yang pertama bersuamikan seorang dokter yang mengabdikan dirinya di sebuah Puskesmas di pinggiran kota Sumedang. Mereka berdua sudah dikaruniai dua orang putra dan putri yang lucu-lucu, mereka masih bersekolah di Sekolah Dasar dan TK. Meski kakaku ini seorang Sarjana Komunikasi salah satu lulusan terbaik di Universitasnya, akan tetapi dia lebih memilih menjadi seorang ibu rumahtangga yang mengabdikan dirinya untuk suami dan juga anak-anaknya. Sementara kakaku yang kedua belum genap setahun menikah dan kini tengah mengandung anak pertamanya, mungkin sudah memasuki triwulan pertama kehamilannya. Suaminya seorang pembawa berita di salah satu stasiun televisi swasta. Sementara kakakku sendiri adalah guru bahasa asing pada sebuah sekolah kejuruan yang lumayan cukup ternama di Jakarta ini. Sepertinya rumahtangga mereka tengah dipenuhi kebahagiaan yang luar biasa dengan akan hadirnya sang buah hati mereka. Biasanya saat weekend, mereka berdua selalu menyempatkan diri untuk menginap disini, dirumah ayah dan ibu. Kami semua turut bahagia dengan kehidupan rumahtangga mereka. Sementara aku sendiri merupakan anak terakhir ayah dan ibu dan merupakan anak laki satu-satunya di tengah mereka. Jarak usiaku dengan kedua kakak-kakaku terpaut lumayan jauh. Tidak heran, jika di rumah aku selalu menjadi pusat perhatian seluruh keluargaku. Meski mereka tidak memanjakanku secara berlebihan, akan tetapi aku dapat merasakannya, apabila perhatian mereka terhadapku teramat sangat berlebihan. Boleh dibilang over protective. Aku tahu mungkin karena mereka terlalu menyangiku dan selalu ingin melindungiku, sehingga terkadang sikap mereka ini sering membuatku tertekan. Tapi untunglah ayahku selalu tegas menyikapi semuanya, sehingga hal ini tidaklah terus berkelanjutan dan terasa berimbang. Kasih sayang yang ayah berikan sangatlah berbeda dengan ibu dan juga kedua kakakku ini. Aku bersyukur dapat memiliki kasih sayang dan perhatian yang penuh dari semua keluargaku.
Aku baru saja menyelesaikan sarjanaku di jurusan teknik mesin. Prestasi akademisku termasuk yang biasa-biasa saja, tidak sebagus kedua kakak-kakaku. Tapi aku cukup bersyukur, pada akhirnya aku dapat menyelesaikan kuliahku tepat pada waktunya. Tiadaklah membuang-buang biaya dan juga tenaga untuk mengulur-ulur kelulusanku ini. Hanya saja, ketika aku selesai sarjana pun, aku kembali dihadapkan pada masalah baru, yakni mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginanku dan juga disiplin ilmu yang aku sudah pelajari selama duduk di bangku kuliah. Belum lagi masalah tanggungjawab terhadap orangtua dan juga lingkungan, andai aku tidak kunjung mendapatkan pekerjaan seperti yang selama ini aku harapkan. Hal inilah yang terus saja berkecamuk dalam diriku selama beberapa hari ini, termasuk pagi ini disaat aku akan memulainya.
“De…? Kamu sudah siap…?” suara berat ayah kembali membuyarkan semua lamunanku.
“Iya yah, sebentar!” aku kembali dapat menguasai diriku dan buru-buru menghampiri ibuku untuk berpamitan.
“Ade berangkat ya bu !, do’akan Ade ya bu..!” kucium tangan ibu dan memeluknya.
“Iya sayang, Ibu yakin kamu akan bisa melewatkan tes hari ini dengan baik. Ibu akan selalu mendo’akanmu nak..!” Ibu mencium bagian rambutku dengan penuh kasih sayang.
“Terimakasih bu!” pelukan ibu telah membuat hatiku terasa damai dan siap menjalani hari ini dengan semangat.
“Ayolah De..!” ayah kembali memanggilku, mungkin karena terlalu lama menungguku di dalam mobilnya.
“Iya yah…!” setengah berlari aku segera menuju mobil ayah.
Pagi ini, ayah sengaja ingin mengantarku ke tempat dimana aku akan menjalani tes kerja hari ini. Di sebuah gedung bertingkat yang lokasinya tepat berada di pusat bisnis kota Jakarta. Salah satu gedung pencakar langit yang berdiri kokoh dan megah memenuhi kanan dan kiri sepanjang jalan protokol semakin menambah gemerlapnya ibukota. Begitu aku turun dari mobil dan berpamitan pada ayah, aku langsung menuju lobby gedung ini dengan melewati beberapa pemeriksaan oleh beberapa petugas keamanan yang menggunakan beberapa alat detector khusus. Mereka cukup sopan dalam menjalankan tugasnya ini. Usai pemeriksaan keamanan aku dipersilahkan untuk melapor pada petugas resepsionis. Seorang perempuan muda, cantik dengan dandanan yang sedikit menor untuk ukuran seorang pegawai kantoran. Mungkin karena dia bertugas di bagian depan yang berhubungan dengan banyak orang yang keluar-masuk gedung ini. Sehingga memerlukan penampilan yang extra ordinary bila dibandingkan dengan karyawati lain yang bertugas di bagian lainnya.
“Selamat pagi” sapanya begitu ramah saat aku sudah berdiri di hadapannya.
“Selamat pagi ” kusapa salamnya, sambil terus memerhatikannya.
Perempuan dengan senyum yang menawan ini, selalu memperlihatkan sederet gigi-gigi putih dihiasi kawat behel artistik semakin menambah pesona senyumannya. Senyum itu tidak pernah lepas saat dia tengah berbicara kepadaku, bibir mungilnya terus bergerak-gerak sensual dengan sapuan lipstick translucent color, belum lagi tata rias wajahnya yang pure velvet dramatic membuatku semakin terpana dibuatnya. Sesekali dia mengibaskan bagian poninya yang sedikit menghalangi pandangannya. Rambut panjangnya yang bergelombang dibiarkan terurai indah, dimana bagian ujungnya dikikis dengan men-trap sedikit pada ujung rambut, sehingga berkesan seksi dan sehat. Mungkin dia butuh waktu yang lumayan lama untuk menata rambutnya ini, mulai dari mencucinya, mengeringkan, membubuhkan rusk thickening cream atau volumenizing lotion sebelum di set dengan roll, itu pun harus menunggu beberapa saat lamanya untuk mendapatkan hasil roll yang bagus, setelah itu barulah rambutnya dikeringkan dengan hair dryer sambil menyemprotkan hair spray yang mengandung silicone shine sehingga rambutnya ini semakin terlihat indah berkilau. Tidak sia-sia semua usahanya ini, sebanding dengan hasil yang didapatkannya, bahkan bisa saja, jika aku menjulukinya sicantik berambut indah. Ups, sepertinya aku terlalu jauh membayangkan dirinya, tanpa kusadari aku senyum-senyum sendiri dengan apa yang aku fikirkan tadi. Untugnya dia sama sekali tidak mengetahui atas apa yang aku fikirkan barusan. Dengan sikapnya yang ramah dia menyuruhku untuk mengisi buku tamu dan menyerahkan kartu identitasku yang dia tukar dengan visitor tag. Tidak perlu berlama-lama lagi aku berdiri di depan mejanya, selain karena memang sudah selesai urusanku, dia pun harus melayani tamu lainnya yang sudah mulai berdatangan. Sebelum berlalu dari hadapannya, tidak lupa aku mengucapkan rasa terimakasihku padanya karena sudah melayaniku dengan baik. Langkahku semakin mantap menuju lift sesuai petunjuk sang resepsionis tadi. Aku pun ikut berbaur menaiki lift bersama karyawan lainnya yang berkantor di gedung ini. Sepertinya akulah orang pertama peserta tes yang datang di kantor ini, terbukti dari urutan daftar tamu yang aku isi ini masih blank, baru aku saja yang akan mengisinya. Bahkan petugas resepsionisnya pun masih sibuk memoleskan make-upnya saat melayaniku. Diam-diam aku perhatikan betapa ribetnya saat dia mempersiapkan dirinya. Melentikkan bulu mata, mengukir bentuk alisnya, memoles pemerah pipi bahkan mengganti aksesoris segala, mulai dari anting-anting, kalung dan juga sepatu yang berhak tinggi. Hal ini dia lakukan mungkin karena dia tidak mau repot-repot untuk berdandan sejak dari rumah. Bisa jadi jarak dari rumahnya ke kantor ini lumayan jauh harus di tempuh beberapa kali naik angkutan umum. Bisa jadi saat berangkat dari rumah penampilannya yang cantik ini, akan menjadi lusuh kembali saat dia tiba di kantor. Pantas saja dia sengaja melakukan semuanya ini di kantor karena untuk menghindari hal seperti tadi. Hanya saja, mungkin dia harus datang lebih awal, untuk skedar mempersiapkan segalanya ini.
Masih ada waktu sekitar setengah jam lagi sebelum pelaksanaan tes di mulai. Mungkin aku datang terlalu pagi di kantor ini, tapi tidak ada ruginya jika aku datang lebih awal, bahkan dari para karyawan perusahaan ini. Aku sengaja mengambil posisi duduk yang menghadap ke semua arah di ruang tunggu ini. Lumayan aku bisa sambil memerhatikan lalu-lalang para karyawan yang hendak memulai aktivitasnya di kantor ini. Ada yang datang bergerombol sambil mengobrol, ada yang tergesa, bahkan ada yang melenggang santai. Ada-ada saja gaya mereka ini, lumayan juga sedikit mengusir rasa jenuhku saat menunggu. Terbukti, beberapa saat kemudian para peserta tes pun sudah mulai berdatangan. Aku sedikit merasa lega, karena aku fikir aku akan mendapatkan teman banyak untuk sekedar bertegur sapa atau pun mengobrol. Orang yang pertama datang, seorang laki-laki muda mungkin seumuranku. Wajahnya sedikit berkarakter, jika aku menebak-nebak, mungkin dia seorang yang sedikit keras atau tegas sikapnya. Perawakanya lumayan tegap dan berkulit gelap. Dia seorang sarjana kimia berasal dari daerah Sumatera. Dia bernama Charles, nama yang di sebutkannya saat berkenalan denganku. Mungkin Charles belumlah begitu lama datang ke Jakarta, terlihat dari logat bicaranya yang sangat kental sekali dengan dialek daerah asalnya. Akan tetapi aku merasa senang bisa kenal dengannya. Sepertinya dia orang yang baik, polos ,jujur dan juga orang yang mudah bergaul. Terbukti dalam waktu singkat aku sudah mulai akrab dengannya. Sementara yang datang berikutnya, dua orang laki-laki dan satu orang perempuan, mereka datang bertiga secara bersamaan, mungkin saja mereka bertemu secara kebetulan saat menaiki lift. Atau bahkan benar-benar teman satu almamater di Jakarta ini. Ketiganya termasuk orang yang lumayan asyik, mereka tidak sungkan-sungkan langsung memperkenalkan dirinya saat hendak duduk bersama kami.
“Selamat pagi, saya Faisal ” sapa salah satu dari mereka yang berperawakan paling tinggi di antara ketiganya dan berlogat arek Suroboyo ini.
“Saya Pamungkas” susul temannya yang berkulit putih yang ternyata berasal dari Pasuruan.
“Saya Teti..!” suaranya lembut sekali, karena dia perempuan satu-satunya di sini selain petugas resepsionis yang tengah asyik menelpon.
“Selamat pagi, saya Agan..!” aku membalas salam ketiganya, begitu pun dengan Charles, dia pun melakukan hal yang sama denganku.
Dan ternyata benar saja, mereka bertiga ini secara kebetulan bertemu di sini, meski di antara mereka ada yang satu almamater namun berbeda jurusan. Akhirnya kami semua terlibat dalam percakapan yang lumayan seru, saling menimpali saling mengisi, sehingga waktu menunggu pun tidaklah begitu terasa membosankan. 15 menit kemudian ruangan tunggu ini semakin terasa hiruk-pikuk oleh kehadiran seluruh peserta tes, mungkin ada sekitar 30 atau bahkan 50 orang yang datang pagi ini. Itu artinya banyak sekali saingan untuk menempati posisi yang ditawarkan peruasahaan ini. Ruangan tes kami dibagi-bagi berdasarkan jurusan kami masing-masing. Dari teknik, ekonomi, hukum dan juga bidang administrasi atau pun jurusan yang lainnya. Kelompok aku terdiri dari 17 orang termasuk Charles. Bahkan di antaranya ada 4 orang perempuan yang ada di ruangan ini, lumayan sedikit memberikan udara segar di antara para laki-laki lulusan teknik yang rata-rata berpenampilan seadanya.
“Gan, sepertinya kita akan bersaing lumayan berat ya?” tanya Charles, yang duduk di sebelahku dengan sedikit berbisik.
“Iya nih, pesertanya lumayan banyak. Sementara yang dibutuhkan paling hanya 3 orang saja” jawabku, sambil terus memerhatikan peserta yang lainnya.
“Semoga saza, diantaranya adalah kita berdua Gan!” dia sedikit tertawa dengan mimik yang sedikit miris .
“Amin” aku menimpalinya dengan perasaan yang sama pula.
Tidak lama kemudian, masuk beberapa petugas yang akan memberikan pengarahan serta mengatur jalannya tes hari ini. Ada sederet tes yang harus kami semua lalui. Mulai dari test potensi akademik yang meliputi matematika, bahasa Inggris serta pengetahuan umum lainnya. Dilanjutkan dengan beberapa sesi psikotest dan mungkin akan diakhiri dengan tes wawancara.
Saat ini aku hanya tinggal menunggu keajaiban serta hari keberuntunganku saja. Bahkan beberapa test tulis yang mereka berikan pun, puji syukur aku dapat melewatkannya dengan baik. Paling tidak, itu menurut penilaianku sendiri. Mulai dari psikotest, pengetahuan umum serta test potensi akademik dan terakhir mungkin ada beberapa test wawancara yang sudah membuatku semakin tidak tenang.
Aku sangat berharap banyak dapat diterima bekerja di perusahaan ini. Selain karena perusahaan ini merupakan perusahaan yang baru saja buka dan belum beroperasi. Itu artinya aku juga berkesempatan mengikuti job training di Jepang. Tempat dimana investornya berasal. Karena ternyata perusahaan ini adalah murni PMA Jepang. Bahkan yang melakukan recruitment hari ini pun adalah perusahaan jasa konsultan HRD. Hanya ada satu orang staf lokal yang mewakili perusahaan ini. Seorang laki-laki muda berumur sekitar 35 tahunan yang sangat fasih berbahasa Jepang. Kehadirannya di sini mungkin sengaja mendapingi bosnya yang berkewarganegaraan Jepang untuk ikut melakukan proses recruitment ini.
Aku semakin diliputi perasaan yang tidak menentu saat menunggu giliranku untuk tes wawancara. Sejak tadi tanganku sudah mulai berkeringat bahkan di bagian pelipisku. Mungkin karena aku sedikit tegang, padahal ruangan tunggu ini berpendingin dengan suhu yang lumayan dingin. Sepertinya jarum jam berjalan begitu tetatih-tatih dari menit ke menit bahkan dari detik ke detik. Semakin menguji kesabaranku untuk terus duduk tenang menunggu giliranku. Aku merasa heran saja, jika dilihat dari daftar hadir, akulah yang paling lebih dahulu datang di sini, akan tetapi aku mendapatkan giliran wawancara yang paling terakhir bila dibandingkan peserta lainnya yang datang belakangan. Aku mencoba terus berbesar hati atas kondisi ini. Perutku sudah mulai keroncongan tanpa kompromi, bahkan jika dihitung aku sudah dua kali keluar masuk toilet, selain untuk buang air kecil, juga untuk sekedar membasuh mukaku agar tidak terlihat lelah dan sedikit tampil lebih fresh lagi.
Ruang tunggu ini kembali mulai lengang seperti saat aku datang pagi tadi. Karena semua peserta sudah pulang. Satu persatu mereka bergantian meninggalkan tempat ini, begitu mereka selesai tes wawancara tadi. Seperti halnya tadi pagi, aku kembali menyendiri diliputi perasaan yang tidak menentu. Sudah beberapa menit lamanya Charles berada di ruangan itu. Mungkin saat ini dia tengah di cecer oleh beberapa pertanyaan-pertanyaan yang mungkin saja akan sulit untuk di jawab. Hal ini bisa saja terjadi padaku nanti. Akan tetapi aku akan berusaha menjawabnya sebaik mungkin semampu yang aku bisa lakukan. Berkali-kali sudah aku melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Mungkin sudah hitungan yang ke-100 kali atau bahkan lebih. Hal ini hanya untuk sekedar mengalihkan rasa kegelisahanku. Aku sudah mencoba mengalihkannya dengan membaca koran yang tersedia di ruangan ini maupun buku yang aku bawa. Akan tetapi hasilnya sama saja, aku belum dapat mengendalikannya. Sulit sekali aku dapat berkonsentrasi pada bacaanku ini. Jangankan untuk dapat memahami isi bacaanya, untuk sekedar melihat-lihat gambarnya pun sama sekali tidak membuatku berselera. Seluruh perhatianku tercurah pada ruangan yang berada di seberang ruangan ini. Dimana saat ini Charles tengah berjuang keras menghadapi beberapa orang yang tengah mewawancarainya.
Beberapa saat kemudian, pintu ruangan itu benar-benar terkuak. Sosok Charles berjalan gontai menuju kearahku. Kulihat ada butiran-butiran keringat di pelipisnya yang dia seka dengan ujung kemejanya. Aku masih saja terpaku memandanginya dengan segudang pertanyaan yang ingin kutanyakan padanya, akan tetapi sepertinya tidaklah memungkinkan untuk dapat mengobrol banyak dengannya, karena kini giliranku yang harus masuk ke dalam ruangan itu.
“Gan, kini giliran kau yang di panggil, Sukses ya!” Charles menyalamiku.
“Thanks bro!” kugenggam tangannya, sambil beranjak dari tempat dudukku ini.
“Oh ya, aku akan tunggu kau di sini Gan, Kita pulang sama-sama nanti!” Charles kembali duduk di tempatku tadi.
“Oke, thanks ya!” Aku segera berlalu dari hadapannya menuju ruangan yang sudah membuatku resah selama menunggu tadi.
Kuketuk pintu kayu berplitur hitam dengan ornament garis vertical bergaya modern. Meskipun perasaanku sedang tidak menentu, dimana dadaku berdegup semakin kencang serta sekujur tubuhku terasa sedikit menggigil. Namun aku berusaha untuk meredamnya sekuat tenagaku, jangan sampai mereka melihatku segugup ini. Aku bersyukur aku mulai menguasai diriku, sesaat setelah aku dipersilahkan duduk oleh mereka. Semuanya ada 4 orang, satu orang perempuan warga keturunan, 2 orang berkewarganegaraan Jepang dan yang terakhir ini adalah laki-laki muda pribumi yang sangat fasih berbahasa Jepang itu, yakni assistennya bos pemilik perusahaan tempat aku melamar pekerjaan ini. Mulanya wawancara dilakukan dalam bahasa Indonesia yang langsung di terjemahkan kedalam bahasa Jepang oleh asistennya, namun selanjutnya secara keseluruhan dengan menggunakan bahasa Inggris. Aku sangat bersyukur sekali, meski kemampuan bahasa Inggrisku tidaklah terlalu baik, akan tetapi aku dapat melewatkan proses wawancara ini dengan baik, karena sepertinya mereka pun dapat memahami komunikasi bahasa Inggrisku ini. Semoga saja pada akhirnya akan memberikan hasil yang baik pula bagiku. Waktu 20 menit ini awalnya merupakan sebuah siksaan bagiku, karena aku harus menjawab beberapa pertanyaan mereka yang cukup mendasar. Mulai dari ethos kerja, loyalitas, self improvement serta self contribution untuk perusahaan ini nantinya. Namun pada akhirnya aku dapat melewatkannya dengan baik, waktu 20 menit bukan lagi sebuah siksaan, akan tetapi menjadi ajang diskusi serta sharing antara aku dengan mereka, karena mereka memberikanku banyak kesempatan untuk sekedar memberikan opini dan juga beberapa pertanyaan tentang perusahaan ini. Aku benar-benar memanfaatkan waktu yang ada ini, untuk menggali informasi-informasi mengenai banyak hal, tidak hanya sebatas visi dan misinya saja, akan tetapi mengenai apa pun yang mereka kemukakan termasuk korelasi antara perusahaan ini dengan perusahaan konsultan HRD yang melaksanakan proses recruitment ini. Tidak terasa waktu yang semula hanya sekitar 20 menit saja untuk proses wawancara bagi setiap pelamar. Alhasil setengah jam lebih waktu yang mereka habiskan untuk melakukan wawancara pertamaku ini. Mungkin jika tidak berbenturan dengan jam makan siang mereka yang hampir terlewatkan, hal ini akan terus berlanjut. Karena aku benar-benar antusias atas opini-opini serta berbagi pengalamannya Mr.Tanakura yang menjabat sebagai presiden direktur dan merupakan anak dari pemilik perusahaan ini. Secara pribadi aku sangat terkesan sekali dengan mereka, aku banyak sekali mendapatkan hal-hal baru dan pastinya akan menambah wawasanku serta pengalaman baruku. Semoga saja merekapun sebaliknya akan merasakan kesan yang baik mengenai aku ini. Akhir dari wawancara ini, mereka akan memberitahukan hasilnya dalam kurun waktu 1 minggu lamanya.
Perasaanku sangat lega sekali, karena pada akhirnya aku dapat melewatkan hari ini dengan baik. Berkali-kali aku mengucapkan rasa syukurku pada Tuhan atas berkahnya hari ini. Dan pastinya hal ini juga berkat do’a dari ayah dan ibuku. Aku jadi ingin buru-buru pulang ke rumah untuk segera bertemu ibuku dan pastinya akan aku ceritakan semua pengalamanku hari ini.
Wajah Charles terlihat sangat lesu saat aku keluar dari ruangan tadi. Mungkin saja Charles terlalu lelah menungguku atau mungkin ada hal lain yang tengah dia fikirkan. Aku buru-buru menghampirinya dan mengajaknya untuk segera berlalu dari kantor ini. Dia hanya menurut saja, langkahnya gontai mengikutiku dari arah belakang, aku berusaha berjalan sedikit perlahan untuk mengimbanginya jalan berdampingan.
“Kamu sepertiya sangat lelah sekali Les?” kataku, sambil menjejeri langkahnya di sepanjang koridor menuju lift.
“Iya Gan, aku sangat lelah. Oh ya, aku heran wawancara kau lama kali bah?” tanyanya penuh heran.
“Masa sih ?, bukannya waktunya memang dibatasi ?” jawabku, sambil terus memerhatikan lampu lift yang hendak turun ke lobby gedung.
“Ah kau ini, masa kau sendiri tidak merasa bah? ” mata bulatnya sedikit mendelik kearahku.
“Iya sih, tapi memang tidak terasa sih, kami membahas banyak hal Les” kulangkahkan kakiku memasuki pintu lift yang sudah terbuka, Charles hanya mengikutiku saja dari belakang.
“Apa sajakah yang kalian obrolkan itu?” Tanya Charles lagi dengan sangat penasaran.
“Banyak Les, selain aku harus menjawab beberapa pertanyaan yang mereka ajukan, namun pada akhirnya wawancara ini berakhir seperti sebuah diskusi singkat. Itu saja gambarannya Les” aku berusaha menjelaskannya apa adanya.
“Kok bisa?, hebat kali kau. Ya, semoga saza kau yang diterima di perusahaan ini, meskipun aku tidak” nada suaranya sedikit pesimis, sambil tidak henti-hentinya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Amin, pastinya kamu juga bisa diterima Les” kugandeng bahunya sambil berjalan beriringan menuju lobby gedung.
“Aku bersyukur sekali, dapat mengenalmu Gan. Kau sangat baik kali bah” dia balas menggandeng bahuku, meskipun cukup kerepotan baginya, karena postur tubuhku jauh lebih tinggi dari posturnya yang hanya sekitar 160 sentimeteran.
“Sama-sama Les. Bagiku kamu adalah teman senasib yang pertama aku kenal di sini. Semoga saja kita berdua akan segera mendapatkan pekerjaan yang kita inginkan dalam waktu dekat ini, bukankah begitu Les?” tanyaku, sambil melepaskan tanganku dari bahunya, karena kami sudah berada di depan meja resepsionis yang jelita itu. Untuk menukarkan visitor tag dengan kartu identitas.
“Betul kali Gan” tidak henti-hentinya dia menepuk-nepuk bahuku, sementara tangan yang satunya sibuk membuka dompet yang disimpan dibelakang saku celananya, yang sedikit kesempitan.
“Bagaimana hasil tesnya Mas?” Tanya sicantik tiba-tiba, sedikit membuatku kaget juga.
“Lancar Mbak, kok tahu sih Mbak?” aku sedikit mengernyitkan dahi karena keherananku.
“Ya tahulah Mas, tadi pagi Mas mengisi buku tamu kan?” jawabnya dengan suara manja dan sedikit nakal.
“Oh gitu toh?” aku garuk-garuk kepala yang memang tidak gatal.
“Semoga saja diterima ya Mas!, biar kita satu kantor nih!” candanya dibarengi tawa riangnya, begitu sangat menggemaskan.
“Terimakasih Mbak !, kami permisi” dia hanya tersenyum saja sambil sedikit menganggukan kepalanya. Kutarik lengannnya Charles untuk segera berlalu dari gedung ini.
Aku berpisah dengan Charles di halte busway yang tidak begitu jauh dari gedung itu. Arah rumah kami saling berlawanan, sehingga halte ini menjadi titik perpisahaan kami berdua. Langkahku terasa sangat ringan sekali saat menjejakkan kakiku menaiki bus trans Jakarta ini. Aku benar-benar ingin segera sampai di rumah, makan makanan yang dimasak oleh ibuku. Perutku terasa sudah sangat lapar sekali, sepanjang jalan ini, aku terus membayangkan semua masakan yang biasa dimasak ibu. Sayur lodeh yang di beri irisan tempe bongkrek berbentuk dadu kecil-kecil dan juga cabai hijau. Ikan bandeng goreng bumbu kunyit atau cabai merah. Sambal bajak dengan tomat yang diulek kasar, tidak ktinggalan pasangan ikan asin japuh atau ikan asin bulu yang digoreng kering, terasa kriuk-kriuk saat di kunyah di mulut. Belum lagi pepes-pepesan apa saja, kalau ibu yang memasaknya pastilah enak rasanya. Membayangakannya saja sudah semakin membuat rasa laparku tambah menjadi-jadi. Beberapa kali aku menelan ludah, karena tergiur oleh bayanganku sendiri tentang semua masakan-masakan ibu. Aku merasa sedikit rileks duduk bersandar pada jok belakang tanpa menghiraukan sekelilingku, aku berusaha memejamkan mataku, hanya untuk sekedar mengusir rasa lapar dan juga penat ini. Udara dingin yang menyejukkan yang berasal dari mesin pendingin bus ini, semakin meninabobokanku. Tidak heran dalam sekejap pun aku sudah mulai terlelap dalam tidur nyenyakku. Membawaku ke alam mimpi yang indah. Dan entah mimpi tentang apa gerangan?. Penatku membawa lelap semakin membawaku mengembara mengitari sisi-sisi lain tentang hidup yang tidak pernah aku lalui sebelumnya. Ada cinta kasih, ada haru biru dan juga pilu yang selalu mendera. Bahkan tentang seseorang yang tidak pernah aku temui sebelumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar