Kamis, 31 Maret 2011

Ode buat Didi...


Sahabat Kecil
By : Ganta Vaksie

Kupacu mobilku di jalanan beraspal yang lurus membentang di sepanjang jalur Pantura menuju kota Cirebon. Dengan kecepatan sedang aku tetap saja asyik mengendalikan laju kemudiku disepanjang perjalanan yang nyaris tidak ada kelokan ini. Sengaja aku tidak menghidupkan mesin pendingin udara, kaca jendelanya aku biarkan terbuka lebar-lebar, aku ingin menikmati pemandangan disekitar jalan yang akan aku lalui ini. Sesaat udara dari luar  berhembus terasa kering dan sedikit hangat menerpa wajahku. Bau aroma khas jerami kering mulai tercium mengingatkanku pada suasana usai musim panen di pedesaan sepanjang jalur Pantura ini. Udara di daerah ini memang lumayan terik, tidak hanya karena tengah di musim kemarau saja. Di sebelah kanan dan kiri jalan tampak tanah sawah-sawah yang mulai mengering dan retak-retak selepas panen musim kemarau ini. Sementara musim penghujan baru akan tiba beberapa bulan kemudian, itupun jika berdasarkan perhitungan musim yang seharusnya dan biasanya terjadi disini. Akan tetapi untuk saat ini, kondisi dua musim tersebut akan sulit sekali untuk ditebak kapan datangnya. Sebagai contoh saja, biasanya musim penghujan akan datang di kisaran bulan September hingga di penghujung bulan Pebruari, seharusnya sisa bulan-bulan seterusnya adalah merupakan musim kemarau. Tapi pada kenyataannya tidaklah demikian, sehingga akan terasa sulit bagi para petani yang mengandalkan musim tanamnya berdasarkan kondisi dua musim tersebut. Tidak heran jika sawah-sawah mereka sering kekeringan sebelum musim panen tiba. Sementara air irigasi atau drainase yang diharapkan dapat menjadi sumber air alternative untuk mengairi sawah-sawah mereka ini, keberadaannya sulit sekali dapat diharapkan. Betapa tidak, air irigasi tersebut selain volumenya yang memang sangat minim, biasanya air  tersebut sudah dialirkan terlebih dahulu ke sawah-sawah yang lokasinya berada di hulu sungai-sungai yang menjadi sumber aliran pendistribusian air untuk sawah-sawah disekitar irigasi. Sedangkan para petani lainnya yang memiliki sawah di wilayah hilir, hanya bisa mendapatkan air sisanya saja, itupun airnya ini akan segera kering kembali sebelum sampai di sawah-sawah mereka. Dapat dibayangkan betapa sulitnya kehidupan para petani ini. Belum lagi dengan kesulitan harga pupuk yang biasanya sering melambung tinggi disaat musim tanam tiba, padahal belum tentu dapat menyelesaikan masalah jika ada serangan hama tiba. Berbagai macam insektisida dicobanya berharap dapat menanggulanginya. Namun hasilnya belum terlihat secara nyata, sifatnya hanya penanggulangan sesaat saja. Ada berbagai macam hama yang sering menyerang sawah-sawah mereka sejak mulai tanam hingga panen menjelang. Mulai dari hama wereng, belalang, keong emas hingga musuh bebuyutan para petani sejak dahulu kala, yakni tikus. Tikus-tikus ini sering membabat habis apapun itu, tidak hanya padi saja melainkan juga tanaman palawija lainnya. Penderitaan para petani ini tidak hanya berhenti sampai disitu saja, masih ada sederet penderitaan lainnya. Musim panen yang mereka sangat tunggu-tunggu segera tiba, berharap mereka akan memetik hasilnya dengan segudang harapan untuk kelanjutan hidup keluarganya. Sungguh diluar dugaan, meskipun Pemerintah sering menggembor-gemborkan mengenai swasembada pangan dan kesejahteraan lainnya bagi para petani ini. Namun pada kenyataannya, hal ini tidaklah demikian. Yang terjadi sebenarnya adalah petani semakin terpuruk saja pada kehidupan pra-sejahtera. Dengan hasil panen yang sangat minim harga jual hasil panenpun akan anjlok di pasaran saat musim panen tiba. Jangankan untuk dapat menuai hasil yang lebih bagi kelangsungan hidup keluarganya, pada kenyataannya hasil panen tersebut nyaris tidak bersisa. Sementara mereka harus melunasi beberapa tunggakan pupuk yang diutangnya saat mulai musim tanam hingga musim panen ini. Belum lagi masalah hutang pajak dan juga zakat yang wajib mereka keluarkan. Tinggal sedikit sisanya ini, mereka akan gunakan bagi kelangsungan hidup keluarganya termasuk menyekolahkan anak-anak mereka. Dengan bersekolah berharap kelak dikemudian hari, anak-anak mereka ini menjadi orang-orang yang pandai dan berguna bagi bangsa ini, dan pastinya mampu mengangkat kehidupan keluarganya terlepas dari belenggu kemiskinan.
            Tidak terasa laju mobilku sudah melewati daerah Pamanukan yang terkenal macet pada saat musim mudik tiba. Untung saja saat ini pemerintah setempat sudah mengantisipasinya dengan dibangunnya jembatan playover yang menghubungkan jalur pantura ini dengan jembatan Cipunagara yang airnya terlihat jernih saat musim kemarau seperti sekarang ini, dan selalu terlihat pekat seperti warna tanah jika musim penghujan tiba, dimana airnya terkadang sering meluap membanjiri kampung-kampung yang berada di sekitar bantaran sungai ini. Sebenarnya lumayan menarik juga kisah jembatan playover Pamanukan dan jembatan Cipunagara ini. Disaat bulan Ramadhan tiba, biasanya di sepanjang jalan ini akan ramai oleh muda-mudi yang menghabiskan waktu menjelang bedug Maghrib dengan melakukan ngabuburit istilahnya.  Ngabuburit adalah semacam jalan-jalan sore baik dengan berjalan kaki, bersepeda, maupun berkendaraan bermotor lainnya sambil menunggu saat berbuka puasa tiba. Dikanan-kiri jalan ini tidak hanya  dipenuhi oleh lalu-lalang orang-orang yang ngabuburit saja, melainkan banyak sekali dipenuhi oleh pedagang-pedagang musiman semacam pedagang-pedagang yang menyajikan penganan untuk berbuka puasa maupun pedagang-pedagang lainnya yang menjajakan aneka ragam dagangan yang mungkin saja dapat melengkapi kehadiran bulan penuh berkah ini.
            Hari semakin terik saja, ketika mobilku sudah melewati daerah Eretan yang merupakan daerah pesisir Indramayu. Disebelah kiri jalan tampak bibir pantai dengan buih putihnya berlari kesana-kemari mengikuti gelombang ombak silih berganti menerjang pantai yang kian hari semakin mengikis daratan, bahkan hanya tinggal beberapa meter saja dari jalan raya ini. Warna biru lautan yang indah menghembuskan udara lembab khas pantai. Belum lagi bau aroma laut ini semakin terasa menyengat berasal dari jemuran hasil laut yang berderet di sepanjang jalan ini. Ada jemuran ikan asin, udang-udang kecil bahan untuk membuat terasi, bahkan ladang-ladang pembuat garam. Kulirik jam tanganku yang melingkar manis dipergelanganku. Ups…aku sedikit kaget, rupanya sudah hampir jam setengah dua siang. Pantas saja sejak tadi perutku selalu melilit-lilit minta segera diisi. Aku mulai berpikir untuk segera mencari tempat makan di sekitar pantai yang tengah aku lalui ini. Kupelankan sedikit laju kendaraanku untuk sekedar melihat ke kanan dan kiri jalan mencari tempat makan yang ada. Agak lumayan susah juga sebenarnya untuk mencarinya, kecuali dimusim-musim tertentu, seperti musim mudik Lebaran misalnya. Disekitar sini, pasti banyak ditemui warung-warung dadakan yang menjajakan aneka makanan dan minuman. Akan tetapi tidak untuk saat ini mungkin. Usaha pencarianku ini sepertinya akan segera membuahkan hasil, terbukti  tidak sampai lima menit, aku sudah menemukannya. Sebuah warung makan kecil beratapkan ilalang, namun terlihat bersih dan asri. Letaknya persis berada disisi jalan yang menghadap ke tepi pantai. Asyik juga pikirku, sambil makan aku juga dapat menikmati indahnya deburan ombak di siang bolong seperti sekarang ini. Usai memarkirkan mobilku, aku segera masuk kedalam warung ini yang langsung disambut ramah oleh pemiliknya. Seorang ibu muda berpakaian serba ketat dengan dandanan yang sedikit mencolok untuk ukuran dandanan seorang perempuan desa. Parasnya lumayan cantik, berkulit kuning langsat dengan potongan rambut kriting papan ala penyanyi dangdut masa kini.

“Mangan Kang..?” tanyanya dengan sopan, sesaat setelah aku duduk disebuah bale-bale bambu yang orang sini menyebutnya amben.

“Iya mbak…!” jawabku, sambil menyeka wajahku yang sedikit lembab dengan saputangan.

“Mangane karo apa ya Kang...? ana iwak, endog, jangan lodeh, pilih dewek bae jeh kang..!” Aku hanya bisa tertawa saja karena kebingungan dengan bahasa ibu pemilik warung ini yang memang  tidak aku mengerti.

“Gagian Kang…!, aja gemuyu bae jeh..!, engko beli mangan-mangan” Ibu warung ini juga ikut tertawa sedikit genit memerhatikan kebingunganku ini.  

“Aduh Mbak…!, maaf saya tidak mengerti bahasa disini. Saya dari Jakarta Mbak…!” aku  sedikit garuk-garuk kepala berharap ibu ini mau menggunakan bahasa Indonesia.

“Kita ge, beli pisan weruh jeh Kang, enggo bahasa Jakarta kie ..! Ya uwis, sangartine bae ya ?, Kakang, tinggal jaluk atawa mengkono bae ya..!” jawab ibu warung dengan memberikan bahasa isyarat agar aku menunjuk saja makanan yang aku inginkan. Aku hanya tersenyum saja meskipun hanya sebagian saja yang aku mengerti .

“Baiklah Mbak, saya mau makan pakai ikan ini, sayur ini dan ini..!” kataku sambil menunjuk beberapa lauk yang ingin aku makan. Ibu warung hanya menurut saja dengan sedikit senyum mungkin merasakan kelucuan yang sama sepertiku.

            Aku mulai menyantap makan siangku dengan lahapnya, lumayan enak juga masakan ibu ini. Sebenarnya jika kita sedang lapar, makan apapun akan terasa nikmat dimulut. Tapi memang benar, untuk ukuran warung pinggiran seperti ini, masakannya memang termasuk lumayan enak. Selain tempatnya bersih, pemandangannya juga lumayan indah. Sambil mengunyah makanan yang aku suapkan, aku dapat menikmati pemandangan birunya laut yang berada di sekelilingku. Anginnya berhembus lumayan kencang mengibaskan anak-anak rambutku yang tumbuh lebat dipipi dan jambangku hingga ke janggutku. Alunan musik Tarlingan terus mendayu menambah kekhasan daerah ini. Lagu Damar Kanginan yang artinya kurang lebih menyiratkan tentang dalamnya sebuah kerinduan dan kekaguman seseorang terhadap kekasih hatinya.   Tidak banyak orang yang makan ataupun yang duduk-duduk di warung ini. Hanya ada beberapa nelayan dan juga pengendara motor yang tengah mengisi perut sepertiku. Mereka semua tengah asyik mengobrol bersama teman-temanya sambil menikmati makan siangnya yang sebenarnya sudah terlambat. Sekitar setengah jam saja aku makan dan sedikit beristirahat di warung ini, selanjutnya aku kembali memacu SUV di jalanan beraspal ini. Mungkin butuh waktu sekitar tiga jam lagi untuk segera tiba di kota tujuanku ini.
Sebenarnya sudah sejak lama aku ingin sekali berkunjung ke tempat tinggal sahabatku ini, akan tetapi baru kali ini aku dapat menyempatkan diri berkunjung ke kampungnya yang terletak di wilayah timur kota Cirebon. Mungkin sudah masuk hitungan belasan tahun lamanya kami berpisah. Waktu itu dia memutuskan untuk pindah sekolah ke kampung ibunya semenjak bapaknya meninggal. Aku juga sempat ikut mengantar kepindahannya bersama orangtuaku dan juga beberapa tetangga lainnya. Temanku ini bernama Didi, tinggi badannya hampir sama denganku, berbadan kurus, kulit putih dengan  rambut ikal dan bermata sipit. Dia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara dan anak laki-laki satu-satunya. Kedua kakaknya sudah menikah dan tinggal bersama suaminya di kota lain. Sebenarnya aku juga mengenal kedua kakak-kakanya ini ketika mereka berkesempatan berkunjung kerumahnya Didi.  Sekitar tiga tahun lamanya bapaknya menderita sakit-sakitan hingga akhirnya meninggal dunia. Sebulan setelah meninggal bapaknya ini, ibunya Didi memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya. Disana mungkin mereka dapat terus melanjutkan hidupnya dengan berjualan toko kelontong kecil-kecilan didepan rumah mereka. Lumayan sedih juga bagiku harus kehilangan salah satu sahabat terbaikku, selain Ayub, Ali, Bujang, Bucek dan Bonar. Bagiku Didi adalah sahabat terbaikku, aku sangat dekat sekali dengannya dan juga keluarganya. Kami sering menginap bergantian, karena kebetulan kami ini satu sekolah sejak di SD. Banyak sekali kenangan lucu yang pernah kami jalani bersama. Tidak hanya kenangan selama di sekolah saja, akan tetapi kenangan-kenangan lainnya yang mungkin sangat sulit untuk dilupakan. Sejak kepindahannya ke Cirebon, kami tidak pernah lagi bertemu muka, hanya beberapa kali saja kami saling berkirim surat untuk saling mengabari satu sama lainnya. Mungkin hal ini hanya berlangsung sekitar satu tahun saja, karena kesibukan-kesibukanku yang saat itu sudah mulai memasuki bangku perkuliahan, apalagi aku kuliah di fakultas kedokteran yang pastinya akan banyak sekali menyita waktuku, tidak hanya kegiatan rutin perkuliahan saja yang bergelut dari satu praktikum ke praktikum lainnya, melainkan aku juga disibukkan dengan beberapa kegiatan-kegiatan kampus lainnya. Hal ini secara lambat laun aku mulai sedikit mengabaikan surat-suratnya atau kartu ucapan ulang tahun, maupun kartu lebaran dan tahun baru yang sesekali masih di kirimkannya untukku, sebelum pada akhirnya sama sekali tidak pernah dikirimkannya lagi. Mungkin saja dia merasa kecewa dan marah terhadapku yang tidak lagi memperdulikannya. Sempat terpikirkan olehku untuk memaksakan diri menyempatkan membalas surat-suratnya itu, namun hal ini tidak pernah aku penuhi hingga aku lulus menjadi dokter dan ditempatkan di beberapa daerah di luar Jakarta bahkan meneruskan studiku di luar negeri dalam kurun waktu sekian tahun lamanya, hingga pada akhirnya aku kembali ke kota Jakarta ini. Untuk itu, ketika aku berkesempatan mendapatkan cuti panjang dari Rumah Sakit tempatku bekerja, aku langsung memanfaatkannya untuk segera mengunjunginya di kota Cirebon. Sebenarnya hal ini tidak begitu saja terlintas dalam rencana liburanku ini. Kemarin secara tidak sengaja sepulang dari Rumah Sakit  aku menemukan beberapa surat dan kartu-kartu ucapan lainnya yang ternyata itu dari Didi. Semua amplop-amplop ini diikat dengan karet gelang dan disimpan menumpuk di salah satu sudut  lemari pakaian di kamarku. Awalnya aku hanya ingin sekedar  berisitirahat dengan tidur-tiduran saja di atas kasur empuk  untuk melepaskan rasa penat yang ada. Tiba-tiba mami masuk ke kamarku hanya untuk sekedar menaruh pakaian-pakaianku di lemari yang baru saja selesai di setrika oleh Bik Mun. Karena begitu banyaknya gantungan pakaian yang dibawa mami, sehingga mami sedikit kerepotan, maka dengan sigap aku segera bangkit untuk membantunya meletakkan pakaian-pakaianku ini ditempatnya. Disaat yang bersamaan aku melihat sebuah tumpukan amplop yang seingatku, aku tidak pernah menyimpannya disini. Saat itu pula aku langsung menanyakannya pada mami.

“Mi, ini apa ya...?” Tanyaku sambil menunjukkan tumpukkan amplop itu kearah mami.

“Oh itu..?, semuanya surat-surat dari Didi sayang!, mami lupa bilang ke kamu saat kamu kembali dinas dari luar kota kemarin ini” jawab mami yang masih terus sibuk menggantungkan beberapa kemejaku di lemari.

“Udah lama dong mi?” kubuka ikatan karetnya yang hampir rapuh karena terlalu lama disimpan.

“Pokoknya selama kamu meninggalkan rumah ini, mulai dari kamu ikatan dinas dan juga melanjutkan kuliahmu di luar negeri hingga kamu ditempatkan di Kalimantan sana. Surat-surat dari Didi ini selalu mami simpan di lemarimu. Maafkan mami ya..!, mami lupa menyampaikannya ke kamu saat sesekali kamu pulang ke sini” mami menatapku sepertinya sangat merasa bersalah, tatapannya kali ini sepertinya penuh permohonan maaf  terhadapku.

“Apa kabarnya Didi ya mi ?” tanyaku sedikit bergumam sambil menerawang jauh, ada sedikit perih diulu hatiku dengan rasa bersalahku terhadapnya.

“Dulu, pernah beberapa kali dia mampir ke rumah kita De, dan terakhir kali kira-kira kapan ya ?, lumayan lama juga sih, dia datang bersama ibunya,” kulihat mami sedikit mengernyitkan dahinya seperti ingin mengingat-ingat sesuatu.

“Saat itu mereka berdua tengah mengunjungi saudaranya yang  mengadakan syukuran pernikahan gitu. Mereka baik-baik saja kok, kalau tidak salah, waktu itu Didi tengah merintis usaha kerupuk udang gitu deh, dan pastinya dia menanyakan kabarmu De,” mami kembali menatapku yang sejak tadi hanya bisa terdiam terpaku.

“Sayang, kalau kamu ada waktu, lebih baik kamu menyempatkan diri untuk mengunjunginya!. Didi anak yang baik, keluarga mereka juga sangat dekat dengan keluarga kita, jika kondisi mami sehatpun, rasanya mami ingin sekali untuk mengunjungi mereka De” Mami mengusap-usap bahuku seolah-olah mengharapkanku dapat mewakilinya untuk segera datang kesana.

“Iya mi, akan Ade usahakan dalam waktu dekat ini” Kudekap mami penuh kasih sayang.

            Seminggu setelahnya aku memutuskan akan menghabiskan masa liburanku disana, di kampungnya Didi. Kebetulan sekali pasca kepindahan tugasku dari Kalimantan, aku dapat sedikit meluangkan waktuku untuk sekedar berlibur sebelum pada akhirnya akan disibukkan kembali dengan tugas-tugasku di Rumah sakit, Klinik pribadiku dan kemungkinan aku juga akan mengajar di beberapa Universitas yang  memintaku mengajar disana sudah sejak lama.   
            Tidak terasa mobilku kini sudah memasuki kota Cirebon. Hari sudah menjelang senja, sebentar lagi mungkin malam akan segera tiba. Lampu-lampu dijalanan sudah mulai dinyalakan, kerlap-kerlipnya semakin menambah semaraknya kota Cirebon yang baru saja menggeliat dalam indahnya malam. Sama halnya dengan kota-kota lain di seluruh Indonesia, kota Cirebon juga memiliki nilai eksotisme malam yang gemerlap oleh lampu-lampu mercury dari papan-papan reklame yang berdiri megah disepanjang jalan-jalan protokol. Belum lagi hiruk-pikuk kehidupan malam yang akan segera beranjak menebar pesona keindahan malam. Udara cukup cerah, langit bersih dengan menyisakan semburat jingga menyambut datangnya kerlip sang bintang malam dengan sejuta pesona gemerlap serta kemilau sinarnya. Kumandang Adzan Maghrib menjadi salah satu sisi religi kota ini, dimana dahulu kala di kota ini pula merupakan tempat para wali dan  para pembesar kerajaan Islam di Indonesia berjuang membela bangsa serta negara dari koloni penjajahan.  Sebelum Adzan Maghrib selesai, aku sudah memarkirkan mobilku di pelataran sebuah Mesjid besar yang berada di pusat kota Cirebon ini, selain untuk sedikit beristirahat, aku juga harus menjalankan sholat Maghrib. Aku turut berbaur bersama jama’ah lainnya yang sama-sama hendak menjalankan ibadah seholat Maghrib. Rupanya tidak hanya masyarakat disekitar mesjid saja yang hendak melaksanakan sholat, melainkan banyak juga dari orang-orang  yang dalam perjalanan seperti aku ini. Terlihat dari banyaknya kendaraan-kendaraan yang diparkir di pelataran Mesjid ini dan juga dapat dilihat dari rombongan keluarga maupun kelompok lainnya yang saling bergerombol.
            Usai sholat Maghrib aku tidak langsung meneruskan perjalananku. Selain lokasi arah jalan yang akan aku tuju ini belumlah begitu aku ketahui, sepertinya perutku juga ingin segera minta diisi kembali. Tanpa berpikir panjang aku langsung saja mampir di warung nasi yang letaknya tidaklah begitu jauh dari pelataran Mesjid tempat kuparkir mobilku tadi. Banyak sekali para pedagang yang menjajakan aneka ragam penganan. Mulai dari penjual nasi goreng, nasi lengko, nasi jamblang, sate Cirebon, skoteng hingga bubur ayampun ada. Aku bingung sendiri hendak makan apa, terlalu banyak pilihan, kesemuanya begitu menggiurkan. Akhirnya aku lebih memilih sate ayam dengan lontong bumbu sambal kacang yang tidak begitu pedas. Selain tempatnya yang lumayan nyaman menghadap kearah pusat kota, di tempat tukang sate ini juga aku dapat bertanya banyak mengenai arah jalan yang akan aku tuju ini. Si Abang tukang sate ini sudah berbaik hati mau menunjukkan jalan yang aku maksudkan dengan begitu jelas, juga dengan segala keramah tamahannya yang merupakan simbol pribadi masyarakat kota Cirebon pada umumnya.
            Berdasarkan petunjuk jalan yang diberikan Si Abang tukang sate tersebut, aku kembali memacu mobilku menuju arah timur kota Cirebon ini. Malam belumlah begitu larut mungkin baru selepas Adzan Sholat Isya saja, akan tetapi namanya di daerah perkampungan seperti ini, malam terasa sangat sepi mencekam. Jalanan yang aku lalui ini begitu gelapnya, hanya satu dua lampu saja yang dapat aku temui disepanjang jalan perkampungan ini. Dari kejauhan terkadang tampak kerlip lampu-lampu pijar yang berasal dari rumah-rumah penduduk di perkampungan yang berada lumayan jauh di sebalah kiri dan kanan jalan. Sebenarnya agak sedikit ketar-ketir juga  bagiku menyetir dalam kondisi jalanan gelap seperti ini. Padahal dulu aku sering melakukan hal seperti ini, bahkan kondisinya boleh dibilang lebih dari ini. Ketika dulu aku bertugas di pedalaman Kalimantan maupun daerah-daerah lainnya, aku sering melakukan tugas yang harus melewati medan-medan berat baik di darat maupun di laut. Apalagi di daerah-daerah yang pernah terkena bencana alam, hal ini belumlah seberapa rasanya. Aku harus konsekwen dengan tugas dimanapun tempat aku mengabdikan profesiku sebagai seorang dokter ahli ini.
            Aku terus saja berusaha setenang mungkin mengendalikan laju mobilku, aku yakin mami akan terus mendo’akan kepergianku ini. Mamilah orang yang selama ini selalu mengkhawatirkanku bila dibandingkan dengan ayah yang selalu saja bersikap tenang dalam situasi apapun. Sejak aku berangkat tadi, sudah tidak dapat kuhitung lagi berapa kali mami  terus menelponku. Aku jadi merasa jika mami selalu bersamaku menemaniku dalam perjalanan ini dengan telpon-telponnya. Selain gelap, kini jalanan yang aku lewati mulai tidak bersahabat, disana-sini banyak sekali jalanan berlubang dan juga terjalnya bebatuan dari urugan jalan yang tidak di ratakan terlebih dahulu. Laju mobilku mulai tersendat, aku merasa sedikit kesulitan untuk melewatinya. Namun aku berusaha untuk tetap tenang dan bersabar melalui semua ini. Aku bersyukur dalam waktu yang tidak terlalu begitu lama, aku sudah dapat melihat pijaran cahaya lampu-lampu dikejauhan, itu artinya aku sudah mendekati sebuah perkampungan penduduk. Diperkirakan tidak begitu lama lagi aku akan segera tiba di tempat tujuan, menurut petunjuk tukang sate tadi, setelah melewati perkampungan ini yang letaknya tidaklah jauh dari Sebuah stasiun kereta, aku tinggal belok kekanan kearah perkebunan tebu yang jaraknya sekitar 2 kilometeran, setelahnya baru aku akan menemukan kampung Babakan yang akan aku tuju ini. Dan benar saja waktu belasan tahun, kampung ini tidaklah banyak berubah, hanya sedikit saja yang berubah disini. Saat ini banyak mini market waralaba yang tersebar kepelosok-pelosok pedesaan dan juga perkampungan-perkampungan seperti disini. Aku masih ingat betul, rumahnya Didi ini ada pada tikungan jalan desa dan menghadap kearah sawah, halaman rumahnya di tumbuhi dua buah pohon mangga besar yang hingga kini masih bertengger, dahan-dahannya tumbuh memayungi seluruh halaman rumah. Kuhentikkan laju mobilku persis di depan pagar sebuah rumah yang bentuknya tidak berubah, masih asri seperti dulu aku pertama kali datang kesini. Kulihat lampu teras dan juga beberapa lampu lainnya, termasuk lampu ruang tengah rumah inipun masih menyala. Itu artinya jika penghuni rumah ini belumlah lelap dalam mimpi indahnya. Semoga saja ini benar adanya, karena aku takut jika akan mengganggu istirahat tidur mereka. Dengan sangat hati-hati aku memberanikan diri untuk segera membuka pintu pagar besi yang memang tidak terkunci. Perlahan kudorong tungkai pintu pagar ini berharap tidak menimbulkan suara berisik, begitu pintu pagar ini terbuka, aku langsung  masuk menuju halaman rumah dengan langkah perlahan dan sedikit berjingkat. Ada beberapa bebatuan dan juga kerikil kecil yang menyembul di rerumputan sempat terinjak olehku hingga menimbulkan sedikit suara gaduh. Ketika aku berdiri persis di teras rumah, barulah aku mengucapkan salam. Awalnya suaraku sedikit tertahan karena rasa deg-degan dan juga rasa khawatir jika aku salah masuk rumah orang atau bahkan Didi serta keluarganya sudah tidak lagi tinggal di rumah ini. Sepertinya belum ada jawaban dari salam yang aku ucapkan tadi, akhirnya aku mencoba kembali mengucapkan salamku untuk yang kedua kalinya dengan suara yang sedikit lebih keras lagi. Tidaklah sia-sia salam yang kedua ini dengan suara sedikit lebih keras, karena tidak lama berselang aku dengar ada yang menjawab salamku berasal dari dalam rumah. Suara seorang perempuan, menurutku ini adalah suara perempuan seumuran mamiku, mungkin saja ini adalah suaranya mimih, ibunya Didi. Kulihat ada bayangan seseorang yang melangkah dari dalam rumah menuju teras tempat dimana aku berdiri saat ini. Suara derit pintu dibuka begitu terdengar keras menyeruak keheningan malam diantara nyanyian-nyanyian jangkrik di pinggir sawah depan rumah ini. Awalnya hanya bagian kepala yang menyembul keluar dari balik pintu rumah, kulihat mimik wajah perempuan setengah baya ini masih kebingungan dengan sosok aku yang tengah berdiri didepan teras rumahnya ini. Keningnya sedikit berkerut bukan hanya karena kulit rentanya, melainkan karena hanya ingin lebih meyakinkan lagi siapa orang yang berdiri dihadapannya ini. Kedua alisnya semakin bertaut seolah akan menjadi satu baris. Aku yakin sosok perempuan setengah baya di hadapanku ini adalah mimih. Meski mimih tidak mengenaliku lagi karena sudah sekian tahun lamanya tidak lagi bertemu denganku, akan tetapi aku masih dapat mengenalinya dengan baik. Sebenarnya mimih tidak banyak berubah juga, hanya sedikit bertambah kerutan-kerutan diwajahnya saja yang banyak berubah. Kerutan-kerutan ini tidaklah mungkin dapat disembunyikan seiring bertamabahnya usia seseorang, dari gurat-gurat diwajahnya, masih meninggalkan sisa-sisa kecantikan mimih diwaktu mudanya.

“Mimih…! Ini aku Agan dari Jakarta,” kuhampiri mimih sambil meraih tangannya untuk kucium dan kusalami. Mimih masih saja terdiam dengan segala kebingungannya.

“Mimih masih belum ingat juga…?, Aku putranya Pak Barata dan Ibu Ning tetangga mimih sewaktu di Jakarta dulu” aku kembali menegaskan pada mimih. Awalnya mimih hanya tertegun saja, namun pada akhirnya dia memelukku dengan begitu eratnya.

“Ya Alloh, Ya Robb…Anakku Ade….!,” mimih mulai terisak dalam pelukanku. Kurasakan rasa rindu mimih terhadapku yang selama ini membuncah kini meledak sudah. Tidak henti-hentinya mimih mengucap syukur atas pertemuan ini.

“Ayo sayang mari masuk..!, kamu sendirian saja toh..?” Tanya mimih sambil membimbingku masuk ke dalam rumah.

“Iya mih, aku hanya sendirian saja. Sebenarnya mami tadinya ingin ikut juga kesini, hanya saja kondisinya tidaklah begitu sehat mih, mami dan ayah hanya titip salam saja untuk mimih sekeluarga disini” kataku, sesaat aku duduk dikursi tamu ini.

“Wa’alaikum salam, semoga mamimu sehat-sehat selalu ya De..!” aku hanya bisa mengamini do’a dari mimih ini.

“Oh ya, Didi belum pulang De. Mungkin sebentar lagi, dia sedang ada pertemuan warga di rumahnya Pak RW dekat dari sini kok. lebih baik sekarang kamu masukkan saja mobilmu di pekarangan rumah, biar mimih buatkan minum dulu ya...!” aku pikir bener juga saran mimih ini karena hari semakin malam.

“Baik mih, terimakasih..!” aku beranjak keluar rumah untuk segera memarkirkan mobilku di pekarangan rumah persis dibawah pohon mangga yang menjorok kearah sawah.

“Dikunci saja mobilnya biar aman De...!” seru mimih setengah berteriak, kulihat mimih sudah kembali berdiri di depan teras rumah menungguku kembali masuk kedalam rumah.

“Iya mih, sebentar…!” jawabku sambil mengunci bagasi mobilku, setelah mengeluarkan travel bagku dan juga beberapa bungkusan titipan mami untuk mimih dan keluarganya.

“Banyak sekali barang bawaan kamu De..?, sini mimih Bantu...!” mimih membantuku membawakan sebagian bungkusan yang aku bawa ini.

“Oh ya mih, ini titipan dari mami dan ayah untuk mimih dan keluarga disini, semoga saja mimih menyukainya” aku menyodorkan beberapa bungkusan lainnya pada mimih yang masih kerepotan dengan beberapa bungkusan yang sudah ada di tangannya.

“Aduh terimakasih banyak, kok banyak banget sih De..? mamimu ini pasti selalu begitu deh..!, ayo sebagian di taruh di meja saja De…!” wajah mimih begitu sumringah sambil melihat-lihat isi beberapa bungkusan dari mami ini.  
    
            Tidak lama berselang, aku dengar ada suara langkah kaki orang menuju teras rumah, aku yakin itu adalah suara langkahnya Didi sepulang dari acara pertemuan warga. Sedikit deg-degan juga membayangkan raut wajahnya ketika dia tahu bahwa yang datang itu adalah aku, sahabtnya yang selalu mengabaikan surat-suratnya selama ini. Benar saja sosok itu kini tengah berdiri mematung dipintu rumah. Aku tidak tahu persis perasaan apa yang ada padanya atau apa yang tengah dipikirkannya. Sama halnya aku, aku hanya bisa terdiam mematung melihatnya terbengong-bengong. Didi tampak kurus sekali, kulitnya sedikit gelap, mata sipitnya semakin cekung seperti kurang beristirahat, apa yang terjadi pada Didi selama ini, ingin rasanya aku segera mengetahui semua perjalanan hidupnya selama ini dengan berbagi cerita bersamaku. Kulihat dia mulai tersedu, ada cairan bening yang meleleh dari mata sipitnya itu, aku tidak kuasa melihatnya seperti ini, buru-buru kuhampiri dia dan langsung memeluknya. Diapun balas memelukku dengan eratnya, kami berdua sama-sama menangis sambil terus berpelukan saling melepaskan kerinduan setelah sekian belas tahun terpisahkan oleh jarak dan waktu. Didi tidak akan pernah menyangka jika kini aku benar-benar sudah berada di hadapannya, tengah di peluknya. Begitupun juga aku, tidak pernah menyangka jika aku akan bertemu kembali dengan sahabat kecilku  ini. Seketika semua kenangan indah bersamanya berkelebat seperti film yang tengah di putar ulang.

“Maafkan aku Di...!, aku tidak pernah lagi membalas surat-suratmu dan juga mengabarimu, sekali lagi maafkan aku ya...!, Aku janji, aku akan menebus semua waktu yang pernah terlewatkan selama ini” aku masih terisak ketika sudah duduk kembali dikursi tamu.

“Aku sangat mengerti kok Gan, saat itu kamu memang benar-benar sibuk kan...?” Didi kembali menggenggam tanganku sepertinya tidak ingin melepaskannya lagi.

“Tidak hanya itu Di, mungkin saja aku memang benar-benar bukan sahabat yang baik buatmu Di” aku kembali membalas genggaman tangannya Didi.

“Sudahlah Gan, yang terpenting saat ini kamu sudah ada disini, bertemu aku lagi. Dan pastinya aku bangga sekali dengan segala kesuksesanmu Gan” Didi kembali memelukku dengan eratnya.

“Terimakasih Di…!. Oh ya, apa kabar kamu Di...? Cerita dong selama kita tidak ketemu” pintaku, sambil meminum teh hangat yang mimih sediakan tadi.

“Nanti saja ceritanya, lebih baik sekarang kamu mandi saja dulu..! Mimih sudah siapkan air panas buat kamu mandi De..!” mimih menyuruhku untuk segera mandi.

“Iya Gan, lebih baik kamu mandi saja dulu, nanti sehabis makan kita bisa saling bertukar cerita” tambah Didi, sambil mengajakku menuju kamar mandi dan membawa tasku kedalam kamarnya. Kamar yang dulu aku pernah menginap disini.    
                
            Guyuran air hangat yang kusiramkan kesekujur tubuhku terasa sangat menyegarkan, merambat ke seluruh pori-pori kulitku. Sengaja kubasahi rambutku untuk mengusir penatku karena usai melakukan perjalanan yang lumayan jauh. Hari ini aku benar-benar bahagia sekali dapat bertemu dengan sahabat kecilku kembali yang selama ini menghilang. Segudang rencana telah aku persiapkan untuk menghabiskan waktuku bersamanya selama aku mengisi liburan disini. Jalan-jalan pagi mengitari pematang sawah dan sepanjang jalan kampung. Atau naik kereta tebu dari perkebunan menuju pabrik pengolahan gula. Sambil tidak henti-hentinya saling bercerita tentang apa saja, pengalaman masing-masing, terutama tentang kisah cinta yang pernah kami alami  masing-masing. Untuk urusan yang satu ini kami belum saling mempertanyakannya. Aku bingung bagaimana harus memulainya. Dari surat-suratnya Didi terdahulupun, belum pernah ada bercerita tentang hal yang satu ini. Entahlah, mungkin saja Didi memang tifikal orang yang sama sepertiku, yang selalu berhati-hati untuk urusan seperti ini. Biarlah cinta itu akan datang dengan sendirinya untuk kami berdua, kini, esok dan entah kapan....Yang terpenting bagiku, kini aku telah kembali menemukan seorang sahabat kecil...   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar