Rindu…
By : Ganta Vaksie
Sekitar jam sembilan pagi pesawatku sudah tiba di Lapangan Udara Abdurahman Saleh Malang, Sebuah Lapangan Udara yang letaknya tidak begitu jauh dari kota Malang, mungkin hanya sekitar duapuluh menit saja dengan menggunakan mobil, kita sudah bisa berada dipusat kota Malang yang sejuk. Jika aku banding-bandingkan, kota Malang ini hampir mirip dengan kota Bogor, di sepanjang jalan masih banyak pohon-pohon besar dan berumur sudah tua, tumbuh rindang memayungi jalanan semakin menambah keasrian kota ini. Selain itu pula, disini juga masih banyak gedung-gedung tua peninggalan sejarah yang masih dilestarikan keberadaannya. Yang membedakan kota Malang dengan kota Bogor hanya kondisi lalulintasnya saja, dimana kota Bogor selalu saja dilanda kemacetan pada jam-jam sibuk, jauh sekali dengan kota Malang yang lumayan lengang disetiap waktu, sehingga para pengguna jalan akan selalu merasa nyaman dalam perjalanan dalam segala suasana.
Tidak terasa mobil sewaanku ini sudah tiba di hotel yang aku tuju, sebuah hotel berarsitektur zaman kolonial dulu yang masih berdiri megah diantara hotel-hotel lainnya yang bertebaran di kota ini. Setelah melakukan proses check in aku langsung menuju kamar yang akan aku tempati dengan bantuan seorang room boy. Usai menaruh semua kopor dan berganti pakaian dengan seragam kerjaku, aku langsung menuju mobil untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju lokasi tempatku melakukan audit di salah satu kantor cabang perusahaan tempatku bekerja. Kantor cabang tersebut letaknya di daerah Pasuruan disebuah kawasan industri. Mungkin jarak tempuhnya akan memakan waktu sekitar satu jam perjalanan dari hotel tempatku menginap ini. Jalanan yang lurus dan berdebu dimusim kemarau seperti sekarang ini semakin menambah polusi dimana-mana, apalagi ketika melewati perlintasan jalan yang menuju arah Singosari, jalanan agak terhambat oleh pembangunan proyek play over, dimana kendaraan dari segala arah silih bergantian untuk melaluinya. Jika pengemudinya tidak sabar untuk tetap dalam deretan antrian, biasanya mereka akan menerobos dengan melawan arah berharap dapat lebih dahulu melintas, akan tetapi pada kenyataannya justru ulah para pengemudi seperti ini akan semakin menambah kesemerawutan yang terjadi disini. Semoga saja pembangunan proyek ini akan segera rampung dalam waktu yang tidaklah begitu lama lagi, dengan demikian akan dapat mengatasi semua kesemerawutan ini.
Tepat jam duabelas siang aku sudah tiba di lokasi yang dituju, sebuah kawasan Industri modern tempat dimana para produsen pelaku industri melakukan proses produksinya disini. Lokasi yang sengaja disediakan berpuluh-puluh hektar ini diperuntukkan bagi para investor asing dan juga lokal untuk mengembangkan usahanya disini, selain untuk meningkatkan perekonomian daerah, juga dengan dibangunnya perusahaan-perusahaan ini akan dapat lebih banyak menyerap tenaga kerja pastinya. Paling tidak akan sedikit mengurangi jumlah angka pengangguran di kota ini.
Sederet jadwal kegiatan yang akan aku lalui selama dua hari disini sudah terjadwal dengan baik, mulai dari factory journey, stock taking, pengumpulan data-data, meeting bersama beberapa bagian terkait, hingga pembuatan laporan akhir. Semuanya harus selesai dalam waktu dua hari ini. Sebenarnya tidak hanya aku sendiri yang akan melakukan semua ini, akan tetapi kebetulan aku didampingi oleh dua orang staff asing yang sengaja diutus langsung dari kantor pusat yang berada di Jepang. Jika aku boleh jujur, sebenarnya yang menjadi beban bagiku bukannya setumpuk pekerjaan yang sudah menungguku, melainkan rasa rindu ini yang hampir membuncah sepertinya sudah tidak tertahankan lagi. Bila diibaratkan seperti rasa dahaga yang teramat sangat bagi seorang yang tengah berada dipadang pasir atau ditengah lautan luas dengan air yang semuanya pasti terasa sangat asin dan tidak memungkinkan untuk diminum.
Mungkin sekitar dua minggu yang lalu aku sudah mengabarinya jika aku akan berkunjung ke kotanya ini, sehubungan dengan tugas pekerjaanku. Namun pada akhirnya sengaja aku tidak mengabarinya lagi jika aku sudah tiba disini, di kotanya. Hal ini sengaja aku lakukan hanya untuk memberikannya sebuah kejutan untuknya. Aku dapat membayangkan pertemuanku dengannya nanti, sepertinya semua kerinduan ini akan segera tercurahkan hanya untuknya. Untuk itu, sore ini begitu aku selesai dengan semua kegiatan pekerjaan hari ini, aku langsung menghambur keluar untuk segera menemui dia di kantornya. Sengaja aku buru-buru memisahkan diri dari tim audit lainnya, termasuk para staff Jepang yang kebetulan menginap dalam satu hotel denganku. Perjalanan menuju kantornya ini terasa begitu sangat lamban sekali, beberapa kali aku menyuruh Pak Imam sopirku untuk menambah kecepatannya, karena aku ingin segera memberikan kejutan ini dengan tiba-tiba datang dihadapannya. Letak kantornya sebenarnya satu arah dengan perjalanan menuju lokasi tempatku bertugas ini. Mungkin hanya sekitar setengah jam perjalanan saja, aku akan segera tiba disana, namun tetap saja detik demi detiknya selalu kuhitung seperti perjalanan dalam satu hari saja. Karena memang aku belum pernah tahu letak persis kantornya ini, hanya berdasarkan petunjuk jalan yang pernah di berikannya saja, kebetulan Pak Imam sopirku ini juga tahu persis lokasi kantornya ini, sehingga tidaklah begitu sulit untuk segera tiba disana. Sebuah gedung perkantoran yang berlantai tiga atau tepatnya mungkin sebuah ruko, karena di sebelah kanan dan kiri gedung Bank tempatnya bekerja ini masih ada kantor-kantor lainnya pula. Begitu Pak Imam usai memarkirkan mobilnya tepat di depan gedung kantornya ini, aku langsung menghambur kedalam gedung untuk segera menemuinya. Sengaja aku tidak segera memberitahukan kedatanganku kepadanya, baik melalui petugas sekuriti yang tengah bertugas pada bagian lobby kantor yang biasa bertugas menyambut kedatangan setiap pengunjung Bank ini sambil membukakan pintu masuk dengan sikap yang begitu sopan dan juga ramah. Mungkin karena aku masih mengenakan seragam kantor dan juga sedikit memberikan isyarat kepadanya dengan buru-buru membisikan maksud dan tujuanku ini. Petugas security ini hanya mengangguk saja dengan senyum ramahnya, dia tidak begitu berpanjang lebar lagi menanyaiku, dia hanya mempersilahkanku masuk. Dengan sedikit terburu-buru aku masuk ke dalam ruang depan gedung ini. Kuedarkan pandanganku kesekeliling ruangan ini sambil duduk disalah satu kursi yang berderet di sepanjang lobby Bank ini. Mungkin karena Bank ini sudah tutup untuk semua transaksi hari ini, sehingga suasanannya begitu lengang, hanya sedikit orang saja, baik tamu maupun nasabah lainnya yang masih berada disini. Sisanya adalah semua karyawan Bank yang tengah sibuk melakukan closing report sebelum jam kantor berakhir. Jika tidak, mungkin mereka harus melakukan lembur hingga seluruh pekerjaan hari ini selesai.
Sejak tadi pandanganku hanya tertuju pada salah satu sudut ruangan kantor ini, seharusnya sebagai seorang customer service, dia akan berada duduk di deretan meja-meja yang ada di bagian sisi kanan dan kiri deretan meja kasir yang memang berada persis ditengah lobby kantor ini. Dari keempat meja dihadapanku ini aku tidak melihatnya, memang sih ada satu meja diantaranya yang kosong, mungkinkah itu adalah meja kerjanya yang tengah dia tinggalkan. Sedang kemanakah dia ?. Mungkin saja dia tengah pergi ke toilet atau sedang berada diruangan lainnya, aku berusaha menghibur diriku sendiri sambil mengkhayalkannya. Hampir setengah jam lamanya aku duduk disini, namun dia belum juga terlihat batang hidungnya, aku mulai resah dan juga gelisah karenanya. Ingin rasanya menanyakannya pada petugas security yang sejak tadi aku lihat sering memperhatikanku, mungkin saja gerak-gerikku ini begitu mencurigakannya, apakah aku ada tampang yang memang mencurigakannya ?, aku rasa mungkin ini hanya perasaaku saja karena kegelisahanku ini. Bisa saja karena sudah sekian lama aku duduk di tempat ini tanpa melakukan apapun, akhirnya ada seseorang yang menghampiriku, seorang perempuan muda berparas lumayan cantik dengan menggunakan seragam Bank ini. Sikapnya yang sopan dan bersahaja menyapaku dengan senyum ramahnya.
“Selamat sore Pak…! Ada yang bisa kami Bantu…?” tanyanya sambil duduk disebelahku.
“Ehmmmm, terimakasih Mbak…!, saya hendak bertemu seseorang disini..!” aku sedikit gelagapan saat dia memandang kearahku dengan sorot matanya yang tajam.
“Oh begitu Pak, kalau boleh saya tahu, kira-kira siapa ya Pak orang yang hendak Bapak temui ini…?” tanyanya lagi masih dengan sikap sopannya.
“Ehmmm, maaf Mbak…! Tadinya sih saya berniat ingin memberikannya sebuah kejutan dengan kehadiran saya disini, di meja kerjanya. Tapi ternyata dia tidak ada disini ya…?, akhirnya saya jadi bingung sendiri Mbak…!” aku sedikit garuk-garuk kepala bingung sendiri dengan sikapku ini.
“Wah..saya jadi ikut penasaran Pak…!, siapakah orang yang akan menerima kejutan dari Bapak ini ya…? Apakah dia ini rekan kerjaku juga…?” dia tersenyum begitu manisnya dan sangat bersahabat.
“Saya jadi malu sendiri Mbak...! akhirnya saya harus berterus terang juga jadinya…!” aku cengengesan sendiri akhirnya karena rasa malu ini.
“Oh dengan senang hati Pak, jika saya secara pribadi dapat membantunya Pak..!” sesekali dia mengibaskan rambutnya yang sedikit terurai kebagian depan bahunya.
“Baiklah Mbak, saya sebenarnya datang jauh-jauh dari Jakarta, selain karena sedang ada pekerjaan di sekitar sini, saya juga sengaja khusus datang untuk menemuinya disini. Saya sengaja tidak memberitahukannya mengenai kedatangan saya kali ini, hanya sekedar ingin memberikannya kejutan saja…!” aku sedikit tersipu saat dia dengan serius mendengarkan ceritaku ini.
“Sepertinya saya tahu orang yang Bapak maksudkan itu…!” dia tersenyum sambil manggut-manggut seperti tengah menebak-nebak sesuatu.
“Ah..Mbak bisa saja…!, seperti para normal saja...!” aku hanya bisa tertawa saja dengan sikapnya ini.
“Saya yakin Pak...! karena saya tahu pasti siapa Bapak ini. Mas Agan kan...?, kenalkan nama saya Farah teman dekatnya Lani…!” dia mengulurkan tangan kearahku mengajakku berjabat tangan. Aku benar-benar kaget dibuatnya, selain karena dia dapat menebak orang yang aku makasudkan tersebut, Lani juga sering bercerita banyak tentang Farah sahabatnya ini.
“Oh ya…?, Kok bisa sih kamu langsung mengenali saya...!” aku buru-buru menjabat tangannya dengan begitu eratnya.
“Sebenarnya sudah sejak tadi, saya memperhatikan Mas Agan saat mulai datang tadi hingga Mas lama duduk di lobby, hanya saja aku tidaklah begitu yakin , karena tadi siang Lani masih menelpon Mas Agan yang aku fikir memang ada di Jakarta” jawab Farah sambil mengajakku menuju ruang tamu khusus dan menyuguhiku minuman.
“Terus, kok pada akhirnya kamu sebegitu yakinnya jika saya adalah Agan...!”tanyaku sedikit heran.
“Jujur Mas, tadi aku sempat membuka komputernya Lani dan melihat foto Mas yang dia simpan disalah satu filenya, terus aku cocokkan deh dengan wajah Mas, simple kan...?” jawabnya sambil tertawa lebar.
“Kamu bisa saja Far...!. Oh ya, kok sejak tadi Lani tidak kelihatan ya Far...?” akhirnya aku penasaran juga tentang keberadaan Lani.
“Oh iya maaf Mas, saya hampir lupa..! tadi siang Lani sedang ada tugas ke kantor pusat di Malang Mas, dan mungkin dia tidak kembali ke kantor lagi, mungkin dia akan langsung pulang..!” jawab Farah dengan nada menyesal, mungkin karena kasihan terhadapku.
“Oh begitu toh…? Pantas saja sejak tadi tidak terlihat disini..!”gumamku sedikit kecewa.
“Kalau begitu, lebih baik Mas susul saja kerumahnya, tidak jauh dari sini kok Mas, mungkin sekitar satu kilometer saja, hanya tinggal lurus saja kok…!” sepertinya Farah melihat kekecewaanku ini, untuk itu dia memberiku alternatif lain untuk dapat segera bertemu dengan Lani.
“Wah ide bagus tuh…!, mungkin saya akan segera menuju kesana Far..!” aku segera beranjak dari tempat dudukku.
“Mas tahu kan alamatnya…?” Tanya Farah sambil ikut berdiri dari duduknya.
“Iya ada, mungkin Pak sopir akan membantu saya untuk mencarinya..!” jawabku sambil beranjak keluar dari ruangan ini.
“Semoga saja, Mas akan segera bertemu Lani ya...!” Farah kembali menjabat tanganku untuk bersalaman.
“Far, saya pamit ya…!, anyway thanks lho.., sudah menjamu saya dengan baik disini..!” aku kembali membalas jabat tangannya.
“Baik Mas, hati-hati ya…!” Farah mengantarkanku hingga aku masuk kedalam mobil.
“Bye Farah….!” aku melambaikan tangan kearahnya saat mobilku mulai beranjak keluar dari tempat parkir gedung kantor ini, Farahpun membalas lambian tanganku dengan senyum yang mengembang.
Dengan intruksi yang aku berikan kepada Pak Imam, laju mobilpun segera meluncur menuju daerah Karang Lo tempat dimana Lani tinggal selama ini bersama ibu dan juga adiknya yang masih duduk dibangku kuliah, sementara Bapaknya Lani masih tinggal di Medan karena harus mengurus bisnisnya disana bersama kakak sulungnya. Mungkin hanya sesekali saja mereka saling berkunjung satu sama lainnya. Meskipun mereka dipisahkan oleh jarak yang lumayan jauh, sepertinya hubungan antar keluarga mereka dapat terjaga dengan baik. Aku sering mendengarnya dari Lani jika mereka seakan memiliki jadwal untuk bertemu satu sama lainnya demi untuk menjaga keutuhan keluarga mereka.
Benar saja seperti yang Farah bilang, jika letak rumahnya Lani ini tidaklah begitu jauh dari kantor tempatnya bekerja. Hanya beberapa ratus meter saja dari jalan Singosari yang menuju kota Malang tinggal belok kekanan, lurus saja sekitar duaratus meteran, belok kanan sedikit, sekitar tiga rumah saja letak persis rumahnya Lani ini. Sebuah rumah dua lantai bergaya arsitektur modern, dimana bagian depannya menggunakan pilar-pilar besar sebagai penyangga antara atap rumah dengan sebuah balkon yang berhiaskan pagar berbentuk diagonal saling bertumpu, pada sisi kanan dan kiri tiang-tiang ini diletakkan dua buah pot berukuran besar hampir setinggi pinggang orang dewasa, diatas pot-pot tersebut ditanami tanaman hias yang berdaun lebar yang tumbuh dengan suburnya sehingga menambah keasrian rumah ini. Hari sudah mulai menjelang senja ketika aku berdiri di depan pagar rumahnya Lani. Lampu di teras rumahnya sudah dinyalakan menerangi area disekitarnya. Beberapa kali aku mencoba memencet bel yang menempel ditembok pagar rumahnya, tapi belum ada siapapun yang keluar dari dalam rumah dan membukakan pintu pagar untukku . Beberapa saat lamanya aku masih berdiri dengan gelisah, sedikit harap-harap cemas, jika ternyata Lani belum pulang ke rumah. Sepertinya aku sudah tidak tahan lagi jika harus menungggunya atau harus mencarinya yang entah harus kemana lagi. Pada akhirnya aku tidaklah perlu untuk menunggunya lebih lama lagi, karena dari kejauhan aku dengar ada suara orang yang tengah membuka pintu depan lalu berjalan menuju pintu pagar dimana saat ini aku tengah berdiri didepannya. Derit pintu pagar ini mulai dibuka secara perlahan, ada kepala seseorang yang menyembul dari balik pintu pagar, matanya sedikit dipicingkan dengan dahi yang berkerut, tidak hanya karena wajah tuanya, mungkin saja dia tengah berfikir keras untuk mengenaliku. Sepertinya tidak ada sesuatu apapun yang dapat mengingatkan perempuan setengah baya ini tentang aku, karena memang baru kali ini aku berkunjung kerumah ini dan bertemu dengannya. Daripada dia terus kebingungan sendiri, aku langsung saja buru-buru menyapanya.
“Permisi Bu...! Maaf, apakah betul ini rumahnya Lani...?”tanyaku pada perempuan paruh baya ini dengan hati-hati sekali.
“Iya betul Den...!, Aden ini temannya non Lani tah...?” logat jawa perempuan ini begitu kental sekali, dia sedikit membungkukan badannya sambil mempersilahkanku untuk masuk.
“Iya Bu...!, saya dari Jakarta. Apakah Laninya ada dirumah Bu...?” aku mengikuti langkah perempuan ini menuju ruang tamu.
“Jangan panggil saya Bu, panggil saja Bik Sumi Den..! saya yang bantu-bantu disini..!” Bik Sumi sedikit cengar-cengir seperti tidak enak hati terhadapku.
“Baiklah Bik Sumi…!” kataku sambil duduk disalah satu kursi empuk yang ada diruang tamu ini.
“Maaf Den…!, Non Laninya belum pulang, mungkin sebentar lagi. Lebih baik Aden tunggu saja ya…!, biar Bibik ambilkan minum dulu Den…!” dia buru-buru hendak beranjak pergi kedalam rumah.
“Baik Bik, saya akan tunggu disini, terimakasih ya Bik…!” aku tersenyum kearahnya, dia hanya sedikit membungkukan badannya dan segera berlalu dari hadapanku.
Kini aku kembali sendirian sambil menunggunya pulang dengan penuh harap-harap cemas, aku benar-benar tersiksa dibuatnya, tidak hanya karena terlalu penat menunggunya dengan kejutan yang tadinya akan aku buat untuknya, terenyata justru aku sendiri yang kebingungan sendiri dengan apa yang terjadi. Perutku sudah mulai keroncongan minta untuk diisi, terakhir aku isi hanya pada saat makan siang saja, biasanya sesore ini , mungkin aku sudah makan sore bahkan makan cemilan apapun, tapi kali ini benar-benar tidak secuil makananpun yang masuk kedalam perutku, hanya secangkir teh hangat saja yang tadi Farah suguhkan untuk aku, itupun belum cukup untuk menghilangkan dahaga ditenggorokanku. Untung saja Bik Sumi segera membawakanku minuman secangkir teh hangat lagi yang segera aku seruput, sesaat setelah Bik Sumi memeprsilahkanku untuk segera meminumnya. Sementara dia sendiri segera kembali kedalam rumah. Hampir separuh isi cangkir ini sudah masuk kedalam kerongkonganku, airnya yang hangat terasa sekali mengalir melalui kerongkonganku dan sedikit menghangatkan isi perutku yang bunyinya mulai tidak karuan. Bunyinya ini mungkin berasal dari amukan cacing-cacing diperutku yang tengah berkudeta menunggu jatah ransom mereka. Aku sedikit merebahkan diri dikursi empuk ini, lumayan nyaman juga dengan sejuknya hembusan angin yang masuk melalui jendela besar yang menghadap bagian taman, dimana taman ini adalah space yang menghubungkan antara ruang keluarga, ruang makan dan ruang tamu tempatku duduk saat ini.
Rasa penat , rasa gelisah dan entah rasa apalagi bercampur jadi satu membuatku semakin larut dalam fikiranku sendiri. Awalnya aku hanya ingin sedikit merebahkan badan saja sambil memejamkan mata, untuk sekedar menghilangkan segala kepenatan ini, akan tetapi tidak terasa lagi akhirnya aku terlelap dalam tidurku. Meskipun hanya bersandar pada kursi saja dengan kedua kaki yang aku rentangkan hampir menyentuh kaki meja. Namun posisi seperti ini sudah cukup membuatku terlelap beberapa saat lamanya. Kalau bukan karena perutku yang semakin keroncongan dan melilit-lilit tidak karuan, mungkin saja aku akan terus saja tertidur disini. Begitu mataku mulai terbuka aku sangat kaget sekali, tidak hanya karena tertidur disini, melainkan dihadapanku sudah berdiri seseorang yang sudah aku hafal betul, dia langsung memelukku begitu aku terbangun.
“Sayang...! Miss you so much...!” bisiknya ditelingaku dengan pelukannya yang semakin erat.
“Ehmmmm, Lani….?. miss you too…!” Aku masih sedikit gelagapan karena aku belum tersadar sepenuhnya.
“Sepertinya Mas capek sekali ya…?, tidurnya mirip orang pingsan saja…!” dia masih melingkarkan tangannya dipinggangku ketika dia duduk disebelahku.
“Kok, Mas tidak dibangunkan saja ketika kamu pulang tadi…!” kucium pipinya yang memerah.
“Aku enggak tega Mas…! tidurnya Mas sangat lelap sekali, bahkan ketika aku mecium pipi Mas saja, sama sekali Mas tidak terbangun…!” sebelah tangannya mengelus-elus pipiku dengan gemasnya.
“Masa sih…?, coba diciumnya sekarang deh!, pasti Mas terbangun..!” candaku sambil menjawil dagunya.
“Dasar genit…!,” dia membalasnya dengan mencubit lenganku yang melingkar dipinggangnya.
“Oh ya…!, kok Mas enggak bilang-bilang sih, datang kesini…?” tanyanya sambil mengerlingkan mata kearahku.
“Ceritanya sih, Mas ingin membuat kejutan buat kamu sayang…!, eh..tahunya Mas malah capek sendiri deh…!” aku kembali meneguk sisa air teh yang ada dicangkir tadi, yang ternyata sudah diganti dengan air yang baru lagi.
“Jadi waktu aku telpon siang tadi, sebenarnya Mas sudah ada di Malang kan…?” tanyanya dengan sedikit merengek manja.
“Iya...!, sore tadi Mas juga mampir ke kantormu, dan sempat bertemu Farah, atas idenya Farahlah, akhirnya Mas datang kesini..!” jawabku sambil membelai rambutnya.
“Sekarang lebih baik Mas mandi saja dulu...!, bau tau…!” dia menarik tanganku untuk segera bangkit dari tempat dudukku.
“Mas enggak bawa baju salin sayang...!” aku menghentikan langkahku sejenak sambil memandang kearahnya.
“Tenang Mas, sudah aku siapkan kok…! Semoga saja ukurannya pas di badanmu...!” dia mendelik genit sambil tersenyum lebar semakin membuatku gemas karenanya.
“Oh ya, mami dan juga adikmu pada kemana…?” tanyaku heran sejak tadi tidak melihat mereka di rumah.
“Oh, mereka sedang pergi ke Nganjuk Mas, mungkin hari Minggu lusa mereka baru akan pulang..!” Lani mengantarkanku hingga di depan kamar mandi.
“Ada acara apa memangnya...?” Tanyaku sambil menerima handuk yang diberikan oleh Lani.
“Hanya acara syukuran keluarga saja Mas. Sekarang Mas mandi saja deh...!, baju gantinya nanti aku letakkan diatas tempat tidur ya...!, habis itu baru kita makan...!” Lani memberikan isyarat agar aku buru-buru masuk ke dalam kamar mandi.
“Terimakasih sayang...!, Mas sudah lapar nih...!” candaku sambil memegang perutku. Lani hanya tersenyum saja sambil segera berlalu meninggalkanku.
Segarnya guyuran air dingin disekujur tubuhku, seakan mengembalikan kebugaran tubuhku, sepertinya otot-otot yang sedari tadi terasa sangat kaku, kini mulai normal kembali. Badanku terasa lebih fit setelah mandi dan berganti pakaian. Kulihat Lani sudah menungguku dimeja makan dengan senyuman manisnya.
“Wah kamu keren sekali dengan kaos ini Mas...!” puji Lani sambil menyuruhku duduk dihadapannya.
“Iya nih...kamu paling bisa memilihkannya untuk Mas...!, terimakasih ya…!” kubelai rambutnya yang terurai.
“Ayo Mas kita makan…!, aku ambilkan ya…!” Lani menyendokkan nasi dan juga beberapa masakan lainnya kedalam piring makanku.
“Terimakasih sayang..!” kataku sambil menerima piring makan yang Lani sodorkan.
“Makan yang banyak ya Mas…!” Lani mulai menyendokkan beberapa makanan kedalam piring makannya.
“Tenang…!, semuanya pasti akan Mas habiskan dalam sekejap” candaku sambil mulai menyuapkan makanan kedalam mulutku. Dia hanya tersenyum saja, sambil mengunyah makanan yang ada dalam mulutnya.
“Oh ya Mas, malam ini Mas menginap disini saja…!. Sopir Mas, sudah aku suruh pulang sewaktu Mas tidur tadi, besok pagi dia akan kembali lagi untuk menjemput Mas disini…!” dia memandang kearahku hanya untuk melihat reaksiku saja.
“Lho kok gitu…?. Mas enggak bawa baju seragam untuk besok sayang…!, semua baju Mas ada di hotel” jawabku dengan heran.
“Tenang Mas…!, tadi aku sudah menyuruh Bik Sumi untuk segera mencucinya, besok pagi Mas sudah bisa mengenakannya kembali kok…!” dia tersenyum genit seakan menggodaku.
“Baiklah kalau begitu, tapi nanti Mas tidur dimana…?” tanyaku pura-pura menggodanya.
“Ya di kamar tamu lah…!, masa tidur bareng aku…?, dilarang ya...!, mentang-mentang enggak ada mami dan juga adikku, begitu…?” dia membelalakkan matanya kearahku, aku hanya terkekeh saja melihatnya sesewot itu.
“Sayang, bagaimana perasaanmu, ketika Mas ada disini…?” tanyaku, setelah tadi lama saling diam karena sibuk dengan santapan kami masing-masing.
“Pastinya, aku sangat senang sekali Mas. terakhir kita bertemu sekitar satu atau dua bulan yang lalu kan…? Saat aku liburan ke Jakarta” jawabnya sambil menatapku dengan tajam.
“Oh ya bagaimana mengenai rencana pinangan Mas itu…?, kamu sudah bicarakan dengan keluargamu…?” tanyaku sudah tidak sabar lagi untuk segera mempersuntingnya.
“Sudah Mas…!, intinya keluargaku terserah aku saja Mas…! Untuk itu, Mas jangan buru-buru pulang ke Jakarta ya…! Soalnya hari Minggu nanti, kemungkinan semua keluargaku akan kumpul disini, aku yakin saat itu adalah waktu yang paling tepat untuk membicarakan hal ini. Bagaimana Mas, kamu ada waktu kan…?” tanyanya sambil terus menatapku, aku balas menatapnya dengan lembut, aku ingin melabuhkan cintaku melalui dalamnya tatapanku ini.
“Baiklah sayang, Mas pasti akan luangkan waktu untuk itu, karena pernikahan kita adalah masa depan kita berdua. Mas tidak ingin lagi kita berdua dipisahkan oleh jarak, dan terus-terusan menahan semua kerinduan Mas terhadapmu…!” kugenggam tangannya penuh kasih, dia hanya tertudnduk sambil tersipu.
“Terus bagaimana dengan keluargamu Mas..?” tanyanya sambil menatapku nanar.
“Mereka semua sudah setuju sayang, dengan rencana pernikahan kita ini. Papa dan mamaku juga sangat menyukaimu sejak mereka pertama kali bertemu kamu. Mas sangat senang sekali dengan semua ini sayang…!” aku semakin erat mengenggam tangannya.
“Terimakasih Mas, sudah mencintaiku setulus hati Mas dan akan menjadikanku sebagai pendamping hidup Mas…!” dia balas menatapku dengan sedikit terisak, perlahan cairan bening meleleh dipipnya, buru-buru aku mengusapanya dengan ujung jariku.
“Sama-sama sayang. Mas sangat berterimakasih juga, jika kamu sudah sudi menerima Mas apa adanya…!” aku tersenyum sambil menatapnya, dia balas tersenyum bahagia.
“Tapi sayang ya Mas!, aku belum bisa bertemu dengan kedua kakakmu Mas..!” dia sedikit murung karena rasa kecewanya.
“Iya sayang..!, kamu belum sempat Mas kenalkan dengan kedua kakak Mas. Tapi Mas yakin teteh akan setuju dengan pilihanku ini” aku jadi teringat dengan kedua kakakku ini, Teh Harum dan Teh Wening yang tinggal di kota Bandung.
“Iya Mas, aku ingin sekali berkunjung kerumah mereka dan bisa akrab dengan semua keluarganya termasuk semua keponakan-keponakanmu Mas…!” rengeknya kini dia tidak lagi terisak dengan segala keharuan tadi.
“Pasti sayang…!, suatu saat nanti kamu akan bertemu mereka dan semoga saja kamu dapat menyesuaikan diri dengan mereka. Sebenarnya hal yang mudah sih menurut Mas, karena keluarganya teteh ini termasuk keluarga yang mudah bergaul, apalagi suami dan anak-anak mereka termasuk keluarga yang sangat kompak” aku sedikit tertawa ketika membayangkan kelucuan-kelucuannya mereka.
“Aku sangat bahagia Mas, jika kelak dapat selalu bersamamu yang memiliki keluarga yang saling mengasihi satu sama lain” dia kembali tertunduk, mungkin karena rasa harunya ini.
“Semoga saja kita akan selamanya bahagia sayang…!, di seumur hidup kita berdua” kukecup keningnya dengan lembut.
“Amin…!” suaranya sedikit lirih dan nyaris tidak terdengar.
Kami berdua hanyut dalam makan malam yang romantis, kadang kami saling bercanda tertawa bersama bahkan terkadang terbawa suasana yang mengharukan. Banyak sekali hal-hal yang kami bicarakan selama makan malam ini, terutama mengenai rencana pernikahan kami berdua. Terimakasih Tuhan telah memberiku calon seorang pendamping hidupku yang teramat aku kasihi, semoga saja Tuhan akan memberikan segala kemudahan untuk kami berdua selamanya, amin.
Malam kian merambat secara perlahan, suara jangkrik dan juga laju kendaraan masih terdengar dikejauhan. Langitpun temaram oleh cahaya rembulan dan juga gemintang dengan sinar kemilaunya semakin menambah romantisme indahnya malam. Sepertinya malam ini hanya milik kami berdua, rasa bahagia karena rindu ini telah terobati ketika dua hati saling bertaut bersama kekasih hati, terimakasih Rindu….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar