Cinta tidak pernah salah…
By : Ganta Vaksie
Sudah dua hari ini badanku meriang, sepertinya seluruh tulang-belulangku terasa ngilu dan nyeri serta sedikit mengigil. Pening, pusing, entah apalagi namanya, semakin menambah berat dibagian kepalaku. Gejala apakah sakit ku ini ?, biasanya dengan sekali minum obat penghilang rasa sakit saja, aku sudah terbebas dari rasa sakit seperti ini. Akan tetapi untuk sakit kali ini, tidaklah semanjur seperti biasanya, sudah hampir empat kali aku meminum obat yang sama. Rasa sakit ini sepertinya enggan untuk segera hilang. Dengan sangat terpaksa mungkin besok pagi aku harus segera pergi ke dokter. Tadinya aku fikir dengan meminum obat biasa dan sedikit beristirahat saja sudah cukup. Ternyata hal ini mengharuskanku untuk segera pergi ke dokter. Aku juga takut jika sakitku ini akan terus berkelanjutan, bisa jadi malah membahayakan keselamatan jiwaku. Lumayan bergidik juga jika aku harus membayangkan hal yang terakhir ini. Sepertinya aku juga belumlah cukup bekal jika aku harus segera menghadapNYA.
Dengan sedikit sempoyongan, aku berusaha bangkit dari tempat tidurku, dipaksakan juga berjalan tertatih dengan bertumpu pada dinding yang aku lalui menuju arah pintu garasi. Secara perlahan akupun segera mengeluarkan mobilku yang terparkir disana. Meski aku sendiri merasa kurang yakin, jika aku akan kuat untuk memacu mobilku menuju rumah sakit yang jaraknya hampir 2 km dari rumahku ini. Tapi mau bagaimana lagi, tidak ada pilihan lain selain aku harus memaksakan diri seperti ini. Rasa sakit dikepalaku semakin menjadi-jadi, pandanganku sedikit kabur dan berkunang-kunang. Dengan sedikit meringis sambil memegangi bagian kepalaku, aku paksakan juga untuk menghidupkan mesin mobil. Baru saja aku hendak membuka pagar rumah. Dari arah samping, kudengar ada seseorang menyapaku. Dari suaranya aku sudah hafal betul, pasti itu suaranya Yasinta. Dia adalah keponakannya Pak Willy tetangga sebelah rumahku. dia ikut tinggal bersama keluarganya Pak Willy sudah 2 tahun ini, karena melanjutkan kuliahnya disini. Keluarganya sendiri sebenarnya tinggal di kota Bandung, paling hanya sesekali waktu saja dia pulang kesana, atau keluarganya sendiri yang berkunjung untuk menjenguknya disini.
“Pagi Mas !. Ngantor nih? Tumben pagi banget Mas ?” dia menghampiriku dengan tawa riangnya yang khas.
“Eh, kamu Yas? Pagi juga. Mas mau ke dokter nih !” Jawabku, sambil mendorong pintu pagar lebar-lebar.
“Lho, kamu sakit Mas ?, Pantes pintu rumahmu nutup terus!” Tanyanya lagi dengan sedikit heran, dia menghampiriku dengan pandangan dan gurat muka yang sedikit ditekuk, bahkan dahinya ikut berkerut, sebegitu herankah dia?.
“Gak tau nih Yas, Badan Mas sedikit meriang gitu” Suaraku sedikit gemetar, menahan rasa sakit yang semakin menjadi-jadi.
“Wah, sepertinya kamu serius sakit Mas?” Pertanyaan Yasinta ini, sedikit membuatku ingin tertawa, ada-ada saja fikirku.
“Aduh Yas, kamu ini !” Aku hanya membuang muka, ketika dia semakin ingin meyakinkan dirinya, dengan memandangku dalam jarak yang begitu dekat.
“Trus, memangnya kamu kuat nyetir sendiri Mas?” Dia menahan tangaku, saat aku hendak membuka pintu mobilku.
“Harus kuatlah Yas, mau bagaimana lagi” suaraku terdengar semakin parau, karena tenggorokanku terasa panas seperti terbakar.
“Maksudku, biar aku yang anter saja Mas, aku kuliah siang kok Mas!” Wajahnya ditengadahkan kearahku, menunggu persetujuanku. Belum juga aku memberikan jawaban, dia sudah menghambur pergi kerumahnya untuk berpamitan pada orang rumahnya. Tidak lama berselang dia sudah kembali lagi kerumahku dengan diikuti Bapak dan Ibu Willy. Wajah mereka berdua terlihat sedikit cemas saat mendengar kabar sakitku dari Yasinta.
“Nak Agan, biar saja Yasinta yang akan antar Nak Agan ke dokter” seru Pak Willy dengan begitu khawatir sekali.
“Iya Nak Agan, jangan dipaksakan nyetir sendiri, Bahaya !” Tambah Ibu Willy yang tidak kalah khawatirnya .
“Oke kan Mas?, sini mana kunci mobilnya!” Tangan Yasinta sangat cekatan sekali merebut kunci mobil yang sedang aku pegang sejak tadi.
“Wah saya jadi merepotkan nih..!” Aku sedikit tidak enak hati atas kebaikan mereka semua.
“Tidak usah berfikir begitu Nak Agan!. Yas, Hati-hati kamu bawa mobilnya, jangan neko-neko!” Mata Bu Willy sengaja di pelototkan kearah Yasinta.
“Beres Bos!” Yasinta cengar-cengir sendiri sambil duduk dibelakang kemudi.
“Ayo Nak Agan segera berangkat…!, Biar Bapak saja yang menutup pintu pagarnya” Pak Willy dengan segala keramahannya menyuruhku untuk segera masuk kedalam mobilku.
“Baik Pak..!, terimakasih banyak, sudah merepotkan Bapak dan Keluarga” Aku sedikit membungkukkan badanku kearah mereka hendak berpamitan.
“Iya Nak Agan, semoga saja sakitnya Nak Agan ini tidaklah parah dan akan segera sembuh..!” Ibu Willy membimbingku menuju pintu mobil.
“Terima kasih Bu..!” kututup pintu mobil, sesaat setelah aku duduk di sebelah Yasinta yang sudah siap tancap gas.
“Hati-hati di jalan ya!” Ibu Willy melambaikan tangan saat kami berdua melintas di hadapannya. Sementara Pak Willy sendiri, sudah siap-siap untuk segera menutupkan kembali pintu pagar rumahku.
“Thanks Yas, sudah mau menolong Mas..!” aku memulai pembicaraan, saat mobil kami sudah melewati beberapa blok dari rumahku.
“Ups, jangan salah Mas!, ini enggak gratis lho!” jawabnya sekenanya, sambil terus asyik menyetir, hanya sesekali saja dia menengok kearahku.
“Oh begitu ?. Ya sudah, nanti Mas bayar deh!” aku hanya tersenyum saja, sambil kupejamkan mataku karena rasa sakit dikepalaku semakin menjadi-jadi.
“Yups, harus itu!, nanti aku tagih!” kulihat dia hanya cengengesan saja, aku juga kurang tahu apa yang tengah dia rencanakan, yang terpenting bagiku, pagi ini dia sudah mau membantuku mengantar ke dokter.
Dalam waktu yang tidaklah begitu lama, akhirnya kami berduapun sudah tiba di Rumah Sakit yang dituju. Dengan sigapnya Yasinta membelokkan mobilku di tempat parkir yang dia pilih. Sepertinya Yasinta sangat terlatih sekali membawa mobil, aku perhatikan selama di perjalanan tadi, aku lumayan merasa nyaman saat dia mengendalikan kecepatan mobil dan juga saat melewati beberapa tikungan maupun disaat suasana jalanan begitu padat, bahkan disaat macet sekalipun. Maklum saja tadi kami melewati beberapa perempatan dan juga lintasan rel kereta api. Dia berusaha memapahku saat kami berdua mulai memasuki pelataran Rumah Sakit. Beberapa kali aku tepiskan tangannya, beberapa kali juga dia meraih kembali tanganku.
“Sudahlah Mas!, biarkan aku mengurusmu. Lumayan, bayaranku bisa berkalilipat kan Mas?” candanya, sambil terus menggandengku menuju loket pendaftaran.
“Kamu ini Yas…!” Aku berusaha tersenyum kearahnya, sambil menyerahkan buku pasien kepada petugas loket pendaftaran.
Pagi ini, suasana Rumah Sakit belumlah seramai seperti biasanya, maklum saja Rumah Sakit ibu dan anak yang selalu diwarnai tangisan anak-anak dari semua penjuru ruangan tunggu, dan juga bagian ruang lainnya. Rumah Sakit ini merupakan salah satu Rumah Sakit terbesar disini. Bangunannya lumayan besar, berdiri kokoh tinggi menjulang. Bangunan bergaya arsitektur modern dengan tatanan taman-taman hijau yang indah, semakin menambah keasrian tiap-tiap sekat yang menyatukan antara bangunan yang satu dengan yang lainnya. Seperti halnya pada lobby bagian depan pintu utama masuk. Seorang petugas doorman sudah menyambut kedatangan kita dengan keramah tamahannya, juga senyum manisnya yang terus mengembang kepada setiap tamu yang datang. Begitu kita memasuki bagian lobby utama ini, tampaklah sebuah patung kuningan berukuran besar yang berbentuk seorang ibu yang tengah menyusui buah hatinya. Patung ini menjadi point of interest dari kemegahan tatanan bagian interiornya. Dengan sorotan beberapa lampu, semakin memancarkan keindahan serta keartistikan dari patung ini.
Setelah selesai mendaftar, aku dan Yasinta menuju ruang tunggu pasien di poli umum yang sekaligus menjadi ruang Intalasi Gawat Darurat. Mungkin aku akan menunggu sedikit lama, karena dokter jaga tengah melakukan tindakan emergency untuk pasien kecelakaan lalulintas. Selain aku, ada beberapa pasien lainnya yang tengah menunggu giliran pemeriksaan. Aku tidak tahu persis penyakit apa yang tengah di derita oleh mereka, bisa saja penyakitnya sama seperti yang tengah menyerangku saat ini. Atau mungkin saja mereka akan melakukan operasi bedah kecil seperti bisulan, cantengan atau apalah itu. Yang jelas, pekerjaan menunggu ini adalah hal yang paling membosankan bagi setiap orang. Karena sebab hal yang membosankan tersebut, terkadang kita jadi berfikir macam-macam bahkan berfikir yang tidak karuan. Untuk mengungsikan rasa bosanku ini, diam-diam aku sibuk memerhatikan tifikal orang-orang yang ada di ruang tunggu ini.
Pasien yang duduk berseberangan denganku ini seorang wanita muda, dandanannya yang sedikit kurang lumrah dengan belahan rok disana-sini. Aku tidak dapat menyimpulkan dia hendak berobat apa disini, dan mau repot-repot mengantri disini. Sepertinya dia sehat-sehat saja dengan gayanya yang selalu tebar pesona kesekeliling ruangan ini. Sementara orang yang duduk disebelahnya adalah seorang laki-laki paruh baya yang dipenuhi perban pada bagian lengan dan juga kakinya, Sesekali dia meringis menahan rasa sakit saat dia harus menggerakkan kaki ataupun tangannya untuk merubah posisi duduknya. Mungkin saja dia adalah korban kecelakaan lalu-lintas yang akhir-akhir ini sering marak terjadi di jalanan. Pada bagian ruang tunggu lainnya aku perhatikan ada sepasang keluarga muda yang tengah sibuk mengurusi anaknya yang sejak tadi tidak henti-hentinya menangis. Sepertinya anak tersebut hendak dirawat di Rumah Sakit ini. Terlihat dari alat infuse yang terpasang dilengan kirinya tersebut. Mungkin karena ketidaknyamanan ini yang membuat anak ini terus menangis. Wajar saja, dia merasa ruang geraknya jadi terhambat oleh alat infuse ini. Orang tuanya sedikit kewalahan juga untuk mengendalikan amukan anaknya ini, yang terus saja meronta ingin melepaskan alat infuse yang menempel di lengannya. Semetara ruangan rawat inap untuknya masih dipersiapkan oleh petugas Rumah Sakit . Suara tangis anak ini begitu memekakan telingaku, membuat kepalaku semakin nyut-nyutan tidak karuan.
Sementara suasana di ruangan IGD ini, sepertinya masih disibukkan dengan penanganan pasien korban kecelakaan lalu-lintas tadi. Semoga saja aku tidak terlantar hanya karena kejadian ini, karena sepertinya aku tidaklah terlalu kuat untuk menunggu terlalu lama lagi. Wajahku terasa begitu panas sekali, tenggorokanku dan juga kepalaku sakitnya semakin menjadi-jadi dibarengi rasa mual dibagian ulu hatiku. Dengan posisi menyandar pada kursi ruang tunggu ini, aku terus memejamkan mata untuk meredam semua rasa sakit ini.
“Mas, wajah kamu pucat sekali ! Aduh, badanmu juga panas banget, Mas…?” Yasinta sepertinya sangat panik sekali dengan kondisiku ini, berkali-kali dia meraba kening dan juga tanganku yang aku kepalkan sejak tadi.
Aku tidak mampu berbuat apa-apa, hanya bisa merasakan sentuhannya di keningku , juga mendengarkan gumaman kekhawatirannya serta langkahnya yang panik. Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki beberapa orang bersama suara kereta dorong yang menuju kearahku. Samar-samar aku masih mendengar dan merasakan saat mereka mulai membopongku keatas kereta dorong tersebut menuju keruang tindakan. Tubuhku terasa sangat lemah sekali, seluruh tulang dan juga persendianku terasa lunglai, jangankan untuk menggerak-gerakkannya. Mataku saja tidaklah kuat lagi untuk aku buka, aku hanya mampu terpejam dengan sedikit kesadaranku. Sepertinya otakku juga tidak mampu lagi mengintrusikan apapun pada ragaku ini. Pada akhirnya hanya kegelapan yang aku rasakan di sekelilingku, aku seperti tertidur pulas, awalnya sayup-sayup aku masih dapat mendengar isak tangisnya Yasinta yang mengiringi kereta dorong yang membawaku hingga pintu masuk ruangan IGD.
Ketika aku sudah tersadar, aku sudah berada di ruangan khusus yang suasananya sangat hening sekali, hanya terdengar bunyi bip yang berasal dari beberapa monitor pemantau perkembangan kondisi pasien. Ruangan yang sangat menyeramkan sekali bagiku, meskipun ruangannya bercatkan warna hijau pupus yang lembut dengan aksen wall paper motif garis-garis abstrak berwarna hijau senada, tetap saja ruangan ini begitu mencekam, seperti ruangan eksekusi pada umumnya. Ruangan pertaruhan antara hidup dan mati dari semua pasien-pasien yang pernah singgah di sini. Salah satunya aku, semoga saja aku mampu melewatkan saat-saat kritis sakitku ini. Selama aku tidak sadarkan diri tadi, mungkin aku langsung ditindaklanjuti di ruang ICU ini. Ruangan yang tidak akan pernah ingin aku singgahi lagi. Entah sudah berapa lamanya aku tidak sadarkan diri. Saat ini aku hanya merasakan, kepalaku sangat berat sekali, perutku mual seperti ingin muntah. Berkali-kali aku bertanya dalam hatiku, sakit apa gerangan yang aku derita kali ini, karena seumur hidupku, barulah sekarang ini aku merasakannya. Rupanya sejak tadi ada seorang dokter berikut asistennnya dan juga beberapa suster yang standbye menjagaku. Mungkin mereka ini adalah para petugas yang terus memantau perkembangan kondisiku sejak masuk ke ruangan ini. Begitu aku sudah sadarkan diri, mereka langsung menghampiriku dan melakukan beberapa pemeriksaan dengan sangat teliti, aku hanya bisa terdiam saja. Seoarang laki-laki paruh baya yang sangat cekatan dan penuh perhatian menyapaku dengan ramahnya, rupanya dia ini adalah dokter yang bertanggung jawab di ruangan ini.
“Selamat sore Pak, rupanya Bapak sudah siuman ya..?” dia memeriksa semua alat deteksi yang menempel di tubuhku. Aku mencoba berusaha untuk meresponnya, akan tetapi aku hanya bisa terdiam saja, sepertinya sangat berat sekali untuk menggerakkan mulutku, sekalipun hanya untuk menyunggingkan sebuah senyuman kearahnya.
“Kondisi Bapak sudah membaik, masa kritisnya sudah terlewatkan. Mungkin nanti Bapak akan langsung kami pindahkan ke ruang perawatan.
Aku hanya dapat menganggukkan kepalaku perlahan saat dokter itu berlalu dari pembaringanku ini. Sementara para petugas lainnya, mereka sangat sibuk sekali mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pemindahanku ke Rumah Sakit terdekat lainnya. Karena semua ruangan perawatan Rumah Sakit ini di khususkan untuk ibu dan anak saja. Dalam beberapa saat saja aku sudah siap di pindahkan ke ruang perawatan yang sudah mereka konfirmasikan sebelumnya. Aku lihat ada Yasinta, Pak Willy dan juga Ibu Willy yang ikut mendampingiku menuju ambulan yang akan membawaku ke Rumah Sakit terdekat yang letaknya memang tidaklah terlalu jauh, hanya di batasi oleh aliran sungai yang membelah kota ini.
Sepertinya mereka semua sangat mengkhawatirkan sekali keadaaanku . Terlihat dari mata mereka yang sedikit berkaca-kaca meskipun mereka berusaha menyembunyikannya dariku. Sejak tadi, tangan Yasinta tidak pernah lepas dari tanganku, sambil mengiringiku mengikuti laju kereta dorong ini. Aku hanya bisa terdiam saja, hatiku saja yang sejak tadi berbicara. Aku dapat merasakan perhatian dan juga kebaikan yang tulus dari mereka. Meski mereka bukan keluargaku, hanyalah seorang tetanggaku. Akan tetapi selama ini mereka selalu baik terhadapku. Bahkan beberapa saat aku bearada dalam ruang perawatan ini, aku lihat para tetangga yang lainnya mulai berdatangan. Ada Bapak dan Ibu RT, Bapak dan Ibu Wisnu, Om Jamal, Tante Jean. Juga ada Andre serta Baron teman main basket dan juga jogging, boleh dibilang mereka berdua ini teman aku jalan. Setahuku Andre sedang bertugas keluar kota. Sementara Baron, harusnya jam segini dia masih berada di kantor, maklum saja lokasi kantornya berada di daerah perbatasan antara selatan kota Jakarta dengan wilayah kota Tangerang. Aku sangat terharu sekali, saat ini mereka semua ada disampingku dan begitu perhatian terhadapku. Aku berusaha bangkit dari tempat tidurku saat mereka datang. Akan tetapi Yasinta buru-buru mencegahku, dia hanya menambahkan tumpukkan bantal dibagian punggung dan juga kepalaku sebagai penyangga.
“Nak Agan..! Maaf, kami semua baru datang” Pak RT menyalamiku dan duduk dihadapanku.
“Terima kasih Pak !” suaraku sedikit lemah dan parau karena sakit di tenggorokanku.
“Oh ya, mami dan papimu dalam perjalanan dari Bandara menuju kesini Gan” Tante Jane mengelus-elus rambutku penuh kasih sayang, beliau ini adalah adik dari mamiku yang paling bontot, yang kebetulan satu kantor dengan Ibu Wisnu mamanya Baron.
“Terimakasih Tante, Om Jamal!” Aku berusaha tersenyum kearah mereka berdua, aku tidak ingin mereka terlalu mengkhawatirkanku.
“Iya Gan, Om dan Tante sangat mengkhawatirkanmu, begitu kami mendapatkan kabar kamu di bawa ke Rumah sakit ini” Om Jamal berusaha memijat-mijat kedua bagian kakiku, aku hanya tersenyum saja kearahnya.
“Selesai perawatan nanti, kamu pulang ke rumah tante saja, biar ada yang ngurusin kamu Gan!” nada bicara Tante Jane begitu tegas, mungkin karena kekhawatirannya itu.
“Jangan kuatir Bu Jane, biar nanti Yasinta yang akan merawatnya. Siapa tahu malah mereka berjodoh, bukan begitu Nak Agan?” canda Bu RT, seketika yang lainpun ikut mengiyakan yang disertai tawa mereka. Aku hanya tersenyum saja menanggapinya, sementara Yasinta sendiri tersipu malu dengan wajahnya yang memerah.
“Amin, semoga saja Pak Willy dan Bu Willy, juga keluarganya Yasinta yang di Bandung turut merestuinya ya..?” Tambah Pak RT semakin menegaskan candaan istrinya tadi.
“Wah Pak RT dan Bu RT ini paling bisa deh.! Saya sekeluarga sih, tergantung mereka berdua saja. Yang lebih penting saat ini Nak Agan segera sembuh dan cepat pulang ke rumah, berkumpul kembali bersama kita semua” Pak Willy memang orangtua yang paling bijaksana, tidak heran jika selama ini aku selalu mengaguminya.
“Amin, makanya kamu harus rajin minum obatnya dan banyak beristirahat, supaya kamu lekas sembuh ! kasihan Yasinta, dia sangat mengkhawatirkan sekali keadaanmu” Om Jamal menepuk-nepuk bahuku.
“Betul sekali yang Om kamu bilang itu. Soal Yasinta, biar Tante yang ngomong sama papi dan maminya kamu. Pasti mereka akan menyetujuinya deh. Yasinta ini gadis yang baik dan pastinya cantik, sangat cocok sekali dengan Agan. Betulkan Pak, Bu…?” Tante Jane begitu bersemangat sekali ingin menjodohkan aku dengan Yasinta. Sementara yang lainnya hanya manggut-manggut saja sambil senyum-senyum satu sama lain. Dalam waktu berselang. Papi dan mami sudah datang disini. Aku tidak tahu persis siapa yang mengabari mereka, sehingga secepat ini jauh-jauh terbang dari Malang menuju Jakarta hanya untuk menjengukku di Rumah Sakit. Begitu tergopoh-gopoh mami menghampiriku tanpa menghiraukan orang disekelilingnya. Berbeda halnya dengan Papi yang lumayan tenang pembawaannya. Papi menyempatkan diri untuk menyalami semua orang di ruangan ini. Bahkan bertegur sapa bersama Om Jamal dan juga Tante Jane.
“Sayang, ada apa denganmu ?, mami sangat mengkhawatirkanmu sayang!” mami memburuku dengan tangisnya, sambil tidak henti-hentinya mami mengelus-elus pipiku.
“Mami, aku baik-baik saja kok Mi..! Hanya perlu banyak istirahat saja” aku mencoba meyakinkan mamiku.
“Mih, sudahlah !. Kondisi Agan sudah membaik kok. Ingat Mi, jagoanmu sudah bukan anak kecil lagi lho !” Papi mencoba meyakinkan mami. Sambil mengusap rambutku. Lumayan mami sedikit dapat menguasai dirinya kembali, sambil mengusap airmatanya, mami mencoba bangkit dari duduknya dan mengangguk hormat pada semuanya.
“Terimakasih untuk semuanya!. Terimakasih sekali sudah perduli dan menyayangi Agan. Tanpa kebaikan Bapak-bapak dan juga Ibu-ibu semua, apa jadinya Agan. Saya tidak dapat membayangkannya” Mami berbicara pada semuanya, sambil terisak di bahunya Tante Jane.
“Betul sekali yang maminya Agan sampaikan tadi. Kami sekeluarga sangat berterimakasih sekali atas kebaikan semuanya, yang sudah sudi membantu Agan selama ini ” Papi ikut menambahkan apa yang disampaikan mami tadi.
“Mas dan Mbakyu.., harus berterimakasih juga sama Yasinta..! Karena Yasinta yang selama ini dekat dengan Agan, bahkan Yasinta pula yang mengantarkannya ke Rumah Sakit ini” Tante Jane membimbing mami untuk menghampiri Yasinta.
“Benarkah sayang ? Terimakasih nak. Kamu sudah berbaik hati terhadap Agan” Mami memeluk Yasinta penuh haru. Sementara Yasinta sendiri hanya terdiam saja sambil membalas pelukan mami. Yang disusul papi untuk menyalaminya.
“Mbakyu, kami semua disini, sudah sejak tadi menggoda mereka berdua untuk segera menikah saja, meskipun mereka belum resmi berpacaran” Tante Jane tetap saja melakukan misinya untuk menjodohkanku dengan Yasinta.
“Oh ya..?, wah mami bakal segera punya menantu nih” seketika wajah mami begitu sumringah menatap kearahku. Aku hanya bisa tersenyum saja sedikit malu-malu, terlebih Yasinta yang sejak tadi hanya menunduk saja.
“Papi, kita akan segera punya cucu Pih!” suara mami setengah berteriak dengan girangnya.
“Mami ini, belum juga mereka menikah, kok sudah ngomongin soal cucu segala sih” papi menimpalinya dengan terbahak, yang lainpun ikut terbahak atas kelucuan ini.
“Sini sayang ! Tante ingin lihat kemesraan kalian berdua” mami menarik tangan Yasinta untuk mendekatiku.
“Ayo sayang !, Bilang sesuatu sama Yasinta..! Mami ingin lebih yakin lagi ” mami menarik sebelah tanganku dan menaruhnya diatas tangan Yasinta. Sejak tadi Yasinta hanya menunduk saja dengan wajah bersemu merah. Meski malu, aku berusaha mengenggam tangan Yasinta dihadapan mami.
“Terimakasih Yas..!, sudah mau merawatku dengan baik” suaraku sedikit tercekat karena rasa malu yang tidak terhingga.
“Iya Mas!” suara Yasinta nyaris tidak terdengar, lebih mirip dengan bisikan.
“Pak Willy dan juga Bu Willy, sepertinya kita semua harus sesegera mungkin mengabari orang tuanya Yasinta di Bandung deh. Jika kita hendak melamar anaknya” Tante Jane semakin menjadi-jadi melancarkan misi perjodohan ini.
“Iya nih, lebih cepat lebih baik bu!” Bu RT ikut menambahkan. Sementara yang lainnya hanya manggut-manggut saja dengan senyum mengembang.
Entah perasaan apa yang tengah berkecamuk dalam dadaku, dibalik penderitaan sakitku ini, terselip rasa bahagia yang membuncah. Tidak dapat aku pungkiri, jika pesona kecantikan Yasinta sudah membuatku jatuh hati kepadanya. Meski selama ini aku tidak memiliki keberanian untuk mengutarakannya. Akan tetapi sikap serta perhatianku terhadap Yasinta sudah cukup mewakili jika sesungguhnya aku memiliki perasaan berlebih terhadap Yasinta. Dan sepertinya Yasinta sendiripun dapat merasakannya. Hanya saja cinta kami belum bisa di persatukan dengan ikrar sebagaimana layaknya pasangan lain yang menjalin sebuah hubungan. Aku berjanji setelah sembuh nanti, aku akan menyatakannya pada Yasinta. Aku akan buktikan pada mami dan juga papi, jika aku telah menemukan wanita pilihanku sendiri. Aku semakin meyakini diriku, jika cinta tidak pernah salah….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar