Kamis, 31 Maret 2011

Cinta buat seorang Ar....


Sebuah angan yang tersisa untuknya…..
By : Ganta Vaksie

Secara tidak disengaja, aku kembali berpapasan dengannya. Seperti biasanya kami masih tidak saling bertegur sapa. Hanya saling berpandangan sejenak tanpa ekspresi. Sebenarnya ingin sekali aku menegurnya lebih dulu meski hanya untuk sedikit berbasa-basi. Tapi niat itu selalu aku urungkan ketika mata kami saling beradu pandang. Sepertinya aku tidak memiliki kekuatan sedikitpun untuk memulai sebuah percakapan dengannya, atau meski hanya seulas senyuman untuknya. Pada akhirnya aku hanya dapat menyesalinya setiap saat kejadian ini berlalu. Mungkin sudah lebih dari tiga kali kejadian ini terus saja berulang.
            Pagi ini dia mengenakan uniform putih biru seperti biasanya di Senin pagi. Rambutnya hitam lebat tersisir rapi. Tungkai kakinya yang indah saling bersilang saat dia melangkah tadi menuju lobby kantor. Sesekali dia sempatkan untuk bertegur sapa dengan beberapa temannya yang ikut bergegas menuju lift. Sementara aku sendiri sengaja jauh berada di belakangnya. Supaya tidak terlihat jelas saat aku tengah memerhatikannya, aku terus berpura-pura untuk duduk-duduk sambil membaca harian pagi di sofa empuk yang berjejer rapi di pelataran lobby kantorku ini.
            Belum  genap dua bulan aku di mutasikan ke kantor pusat ini, dimana sebelumnya aku ditempatkan di beberapa kantor cabang di daerah. Sebagai orang baru disini, aku harus banyak beradaptasi kembali dengan beberapa teman kerjaku termasuk dengan dia. Sebenarnya hal ini bukanlah sesuatu yang teramat sulit bagiku. Karena aku termasuk orang yang mudah bergaul dan cepat akrab dengan siapapun. Tapi mengapa aku tidak dapat melakukannya terhadap dia. Selalu saja aku tidak memiliki cukup keberanian untuk mendekatinya. Selalu saja lidahku seakan tercekat saat aku hendak memulainya untuk sekedar bertegur sapa. Yang terjadi hanyalah pandanganku saja yang nanar kearahnya. Aku tidak tahu persis apa yang ada dalam fikirannya atas sikapku selama ini. Bisa saja aku ini dicap sebagai orang yang aneh atau apalah. Semoga saja bukan sesuatu yang negative seperti yang aku takutkan selama ini.
            Setelah bosan membolak-balikkan Koran yang sebenarnya tidak aku baca samasekali karena fikiranku selalu tertuju padanya. Aku segera beranjak pergi menuju lift yang akan membawaku ke lantai 8 gedung ini. Sesampainya disana aku langsung menuju ruang kerjaku dan pastinya akan melewati meja kerjanya. Sengaja aku berpura-pura tertunduk saja saat melintasinya. Aku tidak kuasa untuk beradu pandang lagi dengannya. Baru beberapa langkah saja aku benar-benar dikagetkan oleh sebuah suara yang berasal dari arahnya. Seketika langkahku aku hentikan untuk sekedar menoleh kearah dimana suara itu berasal.
“Selamat pagi Pak!” dia tengah tersenyum kearahku dengan manisnya. Dugh…, jantungku seakan berhenti berdetak aku, hanya dapat gelagapan saja menahan rasa kaget ini.
“Ehmmm…, selamat pagi..!” aku tidak kuasa menahan kegugupanku ini. Wajahku  terasa panas seperti terbakar. Semoga saja dia tidak begitu memerhatikannya. Untuk itu aku putuskan untuk segera berlalu dari hadapannya dengan segudang perasaan yang bercampur aduk tidak menentu.
            Diruangan kerjaku ini, aku kembali tidak dapat berkonsentrasi pada pekerjaanku bahkan pada beberapa rapat yang aku ikuti pada jam-jam berikutnya. Sepertinya orang-orang disekitarkupun tidak begitu memerhatikan gelagat yang terjadi atas perubahan sikapku ini. Hanya teman dekatku saja yang mungkin dapat mengenali perubahan yang    terjadi terhadapku. Dia sengaja mampir diruang kerjaku hanya untuk sekedar meledekku seperti biasanya.
“Siang Bos, sepertinya ada kejadian lagi nih?” ledeknya, sambil  duduk di hadapanku.
“Hai siang juga Wan..!. Kamu ini paling bisa deh !” aku kembali berkutat dengan pekerjaanku, tanpa menghiraukan dia yang ikut asyik membolak-balikkan Koran yang tadi tergeletak diatas meja kerjaku.
“Gan, udah laper nih !, Lunch yuk !” ajak Irwan, sambil bangkit dari duduknya dengan sedikit meringis memegangi bagian perutnya. Aku hanya tersenyum saja menyaksikan ulahnya itu.
“Yups, tunggu sedikit lagi nih !, kamu tunggu diparkiran saja Wan, nanti aku susul !” Aku buru-buru merapikan sisa pekerjaanku ini, sementara Irwan sudah langsung  menghambur dari ruanganku.
            Sebenarnya sudah sejak tadi perutku  mulai keroncongan minta untuk diisi. Akan tetapi aku tidak menghiraukannya, aku terlalu asyik dengan pekerjaaanku. Memang hari ini aku benar-benar sibuk  menghadiri beberapa meeting dan juga mengurusi laporan-laporan yang tertunda sejak kemarin. Acara makan siang ini, lumayan dapat sedikit mencerahkan kembali fikiranku. Tentunya juga untuk memenuhi kewajibanku sebagai makhluk hidup yang memerlukan nutrisi.  Aku berjalan gontai keluar dari ruanganku menuju lobby kantor sambil menerawang memikirkan beberapa menu makanan yang menggiurkan, maklum saja rasa laparku ini sudah tidak tertahankan lagi rasanya. Ketika aku bergegas melalui jalan berlorong  yang menuju tempat parkir. Tiba-tiba aku dikagetkan kembali oleh suara seseorang yang memanggil namaku.
“Pak Agan !, Tunggu sebentar !” seketika langkahku aku hentikan sambil memalingkan wajah kearah datangnya suara yang memanggil namaku tadi. Dughh…jantungku kembali seakan berhenti sejenak, kulihat dia tengah berlari kecil mengejar langkahku dengan ditemani seorang temannya.
“Ada apa ya?” tanyaku, ketika dia sudah berada dihadapanku. Aku sedikit mengernyitkan keningku karena menyimpan segudang Tanya dan ingin segera terjawabkan.
“Maaf Pak. Tadi Irwan bilang, Bapak mau lunch bareng dia ya ?” tanyanya dengan sedikit canggung, mungkin karena tidak enak hati terhadapku atau entah apalah itu.
“Iya betul, terus memangnya kenapa ya?” aku masih saja menyimpan rasa heranku ini.
“Ehmm…, jika Bapak berkenan, kami mau ikut menumpang mobil Bapak !. Tapi maaf sebelumnya, itu juga jika Bapak merasa tidak keberatan lho!” suaranya sedikit bergetar sambil tertunduk malu.
“Oh begitu ?, Saya fikir ada apa toh ?. Dengan senang hati tentunya ada yang mau menemani makan siangku. Tidak melulu berdua Irwan terus nih !”. Aku berusaha tertawa hanya untuk sekedar mencairkan suasana dari rasa heranku tadi, melainkan sebagai ekspresi rasa senangku ini.
 “Bapak sih, hanya dekat dengan Irwan saja. Kami jadi tidak enak hati jadinya” katanya sambil tertawa malu-malu, akhirnya kamipun tertawa bersama.
“Ayo kita segera jalan, kasian Irwan sudah lama menunggu!” ajakku sambil menjejeri langkahnnya menuju tempat parkir yang berada di pelataran belakang bangunan kantorku.
Aku sedikit lega atau bahkan lebih tepatnya rasa senang yang teramat sangat. Tanpa diduga-duga dia menawarkan diri untuk ikut makan siang bersamaku. Selama diperjalanan menuju tempat makan, aku hanya bisa terdiam seperti biasanya. Aku benar-benar merasa kikuk dibuatnya, aku sedikit berpura-pura tengah asyik berkonsentrasi pada jalanan yang dilalui, bahkan sesekali tanganku dihentak-hentakkan diatas kemudi mengikuti dentuman irama music yang mengalun dari tape mobilku. Aku berharap tidak satupun dari mereka yang memerhatikan kegundahan hatiku ini. Sesungguhnya jika mereka tahu. Saat ini aku tengah merasakan suasana hati yang tidak menentu. Wajahku terasa panas seperti terbakar. Telapak tanganku selalu berkeringat bahkan gemuruh jantungku ini semakin tidak menentu saja saling susul menyusul dengan hentakan-hentakan irama lagu yang terus saja mengalun. Untung saja ada Irwan yang selalu  dapat mencairkan suasana seperti apapun. Sejak tadi dia berusaha mengomporiku untuk lebih berani lagi dalam mengambil sikap saat didekatnya. Rasanya akupun ingin sekali terlibat percakapan-percakapan yang seru dengannya, seperti apa yang dilakukan Irwan. Dia dapat dengan mudahnya memulai percakapan bahkan menciptakan joke-joke lucunya, yang membuat dia dan juga temannya terpingkal-pingkal. Sementara aku, aku hanya bisa ikut tersenyum saja untuk menimpalinya. Beberapa kali Irwan memberiku kesempatan untuk terlibat langsung dalam pembicaraan dengannya. Akan tetapi sepertinya lidahku terasa kelu terasa sangat berat sekali untuk memulainya.
Tidak lama berselang mobil kamipun sudah tiba di pelataran parkir sebuah rumah makan yang menghidangkan aneka ragam masakan yang pastinya akan menggugah selera makan para pengunjungnya. Mulai dari masakan Sunda, Padang, Makassar bahkan masakan Internasional. Sengaja kami memilih tempat duduk yang mengarah ke kolam ikan yang airnya mengucur deras melalui pancuran dan juga bilik-bilik bambu yang di buat sedemikian rupa, semakin menambah keasrian penataan landscape restoran ini. Kursi-kursi dan meja-meja makan untuk para pengunjung di letakkan di beberapa tempat strategis yang mengarah ke beberapa view dengan segala keuinikan pemandangan yang dibuat sedemikian rupa. Pastinya akan semakin membuat nyaman para pengunjung yang hendak makan disini supaya lebih betah berlama-lama menikmatinya, atau bahkan berharap para pengunjung ini dapat ingin segera kembali lagi kesini di kemudian hari bersama teman, kerabat ataupun saudara-saudaranya. Pastinya itulah yang menjadi konsep utama dari restoran ini.
Dasar Irwan, paling bisa sekali mengatur segalanya. Termasuk dalam mengatur tempat duduk kami   ini. Aku semakin tidak dapat berkutik berada dihadapannya. Beberapa kali mata kami saling beradu pandang menimbulkan getaran-getaran indah di hatiku. Aku tidak tahu persis apa yang dirasakannya. Semoga saja sama halnya seperti yang tengah aku rasakan ini. Setiap mata kami saling beradu, kulihat dia langsung tertunduk malu dengan pipi bersemu merah semakin menggemaskanku. Ingin rasanya membuat dia merasa semakin nyaman ketika bersamaku tidak kaku seperti sekarang ini. Untuk mengalihkan rasa gugupnya itu, dia sengaja membetulkan poni rambutnya yang sesekali menutupi bagian pelipis dan juga mata indahnya. Meski dengan polesan make up yang tipis dan sederhana dia terlihat sangat cantik. Kulit wajahnya yang putih bersih selalu saja memerah  saat dia tengah tersipu malu. Meski senyumannya selalu tersungging di setiap gerakannya dia selalu saja terlihat anggun dan memesona bagiku. Apapun akan terlihat indah bagi orang yang tengah dimabuk asmara. Terkadang akal sehatnya hilang selalu dipenuhi angan-angan serta khayalannya sendiri.
Beberapa menu masakan yang tadi kami pesan bersamapun dalam waktu yang tidak terlalu lama sudah tersaji di meja. Ada udang bumbu balado, ayam kremes, capcay kuah mentega dan aneka masakan lainnya.
“Mau aku ambilkan Pak?” tanyanya, dia begitu sigap menyodorkan potongan-potongan daging ayam kearah piringku. Aku benar-benar kaget dibuatnya. Entah berapa lama tadi aku terbengong memandanginya.
“Ehmmmmmmmmmm…eh, iya terimakasih” aku samasekali tidak dapat menyembunyikan rasa gugupku ini. Malu juga sebenarnya tidak hanya terhadapnya, akan tetapi pada semuanya.
“Aduh Gan, kok kamu sebegitu gugupnya sih!” ledek Irwan yang sudah sejak tadi menyuapkan makanannya dengan begitu lahap tanpa rasa canggung.
“Sorry, aku masih sedikit bingung saja, mana dulu yang akan aku hendak makan lebih dahulu. Sepertinya semuanya terlihat begitu enak sekali” aku berpura-pura membela diri.
“Coba yang ini saja dulu Pak !” dia kembali berusaha menyodoriku mangkuk kecil yang berisi soup kepiting asparagus yang uapnya masih mengepul.
“Terimakasih !” Aku buru-buru meraih mangkuk tersebut. Disaat yang bersamaan mata kami saling beradu pandang kembali. Aku berusaha tersenyum kearahnya. Tanpa diduga diapun membalas dengan senyuman manisnya yang membuatku semakin kelepek-kelepek.
 “Bagaimana Pak, soupnya enak kan ?” tanyanya lagi, sesaat setelah aku menyuapkan soup tersebut.
 “Iya, enak banget!” suaraku sedikit tercekat karena menahan rasa panas dilidahku dari soup yang aku suapkan tadi dan lupa untuk meniupnya terlebih dahulu.
“Apapun, pastilah terasa  enak Gan. Jika si cantik yang menawarkannya” celetuk Irwan disela-sela suapannya.
“Kamu ini Wan, paling bisa deh!” aku hanya bisa nyengir kuda menanggapinya.
            Kami semua kembali asyik menikmati makan siang bersama dengan segudang canda tawa, hal ini sudah dapat mencairkan kecangunganku. Aku semakin dapat menikmati kebersamaan ini tanpa beban. Selain berkat bantuan Irwan, ternyata dia juga termasuk orang yang sangat asyik untuk diajak ngobrol. Segala macam obrolan kami bahas bersama meski penuh dengan canda tawa, namun aku tetap dapat melihatnya jika dia adalah sosok yang smart. Aku jadi semakin merasa  bangga saja jika kelak dapat bersanding dengannya. Dibalik keacantikannya, dia adalah sosok wanita yang selama ini aku impi-impikan. Diusiaku yang sudah cukup matang ini. Baru kali ini aku merasakan perasaanku seyakin ini. Sebenarnya aku masih takut untuk berfikir terlalu jauh tentangnya. Bisa jadi ini hanya angan-anganku saja. Sementara dia sendiri, mungkin saja masih menganggapnya hal yang biasa-biasa saja. Bisa jadi dia sudah memiliki kekasih hati yang memiliki segalanya untuk ukuran wanita secantik dia. Andai ini benar adanya mungkin aku adalah orang yang paling merana dimuka bumi ini. Karena sudah keceewa oleh angan-angan indah yang telah aku ciptakan sendiri namun terbalik dengan kenyataan yang ada. Semoga saja hal ini tidak akan pernah terjadi. Aku akan berusaha menjalaninya seperti air mengalir. Jika dia memang  ditakdirkan untuk aku. Pasti akan selalu ada jalan untuk dapat memilikinya.
            Satu bulan hampir berlalu sejak kejadian makan siang bersama itu. Kami berdua tidak pernah bertemu lagi atau bahkan saling bertelepon karena memang aku tidak tahu nomornya. Aku hanya tahu kabarnya melalui Irwan saat dia menelponku. Menurut Irwan dia sering menanyakan kabarku selama aku berada dinegeri orang untuk melakukan studi banding yang berhubungan dengan pengembangan usaha, dan juga rencana menarik investor luar untuk beberapa proyek pengembangannya ini. Ingin sekali rasanya aku mencoba menghubunginya atau sekedar berkirim e-mail untuknya. Untuk yang satu ini pastilah aku tahu alamat e-mailnya. Sengaja aku menggunakan e-mail kantornya untuk memulai menghubunginya.
Selamat Pagi Ar…,
Apa kabar ? sudah lama juga ya, Kita tidak saling menghubungi.
Di Jakarta pasti masih pagi ya? Disini sih, sudah hampir menjelang makan siang.
Oh ya, Kapan ya kita bisa makan siang bareng lagi seperti dulu?,aku  jadi kangen masakan Indo nih!
Mungkin satu atau dua minggu lagi aku baru kembali ke Tanah air. Nanti aku yang traktir deh..!.
Ar..!, ini aku kirimkan beberapa fotoku di Nagoya dan di Kagoshima.
Salam untuk teman-teman yang lain ya…!
Rgrds,
Agan     
Dalam hitungan detik e-mail ini langsung terkirim. Aku berharap dia langsung dapat membacanya, meski aku tidak yakin jika dia akan buru-buru membalasnya. Bisa saja dia sedang tidak berada diruangannya dan dihadapan komputernya, atau mungkin saja dia sedang sibuk melakukan meeting dan juga pekerjaan-pekerjaan lainnya. Kubuang jauh-jauh rasa cemasku ini. Apapun respon yang akan dia berikan  terhadapku. Semoga saja itu sesuatu hal yang baik bagi kami berdua. Aku benar-benar merindukannya. Tidak lagi terdengar hentakan-hentakan suara sepatunya dilantai, saat dia melangkah  melintas dihadapanku. Gayanya yang memesona saat dia berlari-lari kecil menuju lift. Apalagi senyumannya yang selalu membuatku pusing kepala. Baru saja aku hendak beranjak pergi untuk makan siang. Tiba-tiba dimonitorku terlihat ada beberapa e-mail yang baru saja masuk ke Inbox e-mailku. Dengan harap-harap cemas, semoga saja satunya adalah dari dia. Ternyata benar saja, selain e-mail lain yang berhubungan dengan pekerjaaan dan juga beberapa anggota millist. Ada terselip satu buah e-mail balasan dari Laras.
Selamat  Pagi juga Pak!.
Atau selamat siang nih Pak?.
Kabar baik Pak. Bapak apa kabar disana ?
Aku senang sekali , Bapak sudah sudi berkirim e-mail. Aku kira sudah lupa dengan yang di Jakarta (he..he..).
Salamnya nanti aku sampaikan pada teman-teman. Terutama mengenai ajakan makan siangnya Pak. Kami tunggu segera lho Pak !
Btw, fotonya keren-keren lho Pak ! , itu untuk aku atau untuk temen-temen nih?
Ya sudah Pak , Have a nice lunch ya Pak…!
Rgrds,
Ar.
NB : Sering-sering kirim kabar lagi ya Pak…!
Aku hanya dapat tersenyum-senyum sendiri saat membacanya. Aku benar-benar merasa bahagia sekali saat ini. Meskipun tidak ada kata-kata yang istimewa buatku. Akan tetapi hal ini sudah cukup bagiku untuk dapat berkomunikasi kembali dengan dia, meski hanya melalui e-mail. Ingin rasanya aku segera membalasnya kembali e-mail darinya ini. Baru saja aku hendak mengetikkan beberapa kalimat e-mail balasan untuknya,  tiba-tiba saja  ada suara ketukan di pintu ruang kerjaku. Kulihat Tanaka san sudah menampakkan dirinya di hadapanku.
“Gomenasai Agan san, hiru gohan o tabemasho!” dia sedikit membungkukkan badannya ke arahku.
“Hai, Tanaka san. Chotto matte kudasai…!”
“E…, robi ni yonde yo..!”
“Hai, yoroshiku onegaishimasu..!”  aku hanya melambai saja kearahnya, sesaat sebelum akhirnya aku mengirimkan e-mail yang aku tulis barusan untuknya dan sign out dari beberapa millist yang aku sempat buka tadi. Ketika aku sudah membereskan segala sesuatunya, aku pun buru-buru beranjak  menghampiri Tanaka san yang tengah menungguku di lobby kantor.     
Tanaka san adalah rekan kerjaku, yang selalu menemaniku kemana pun selama aku di bertugas di Jepang ini. Meskipun sikapnya sedikit kaku, akan tetapi dia sebenarnya orang yang baik dan juga lucu. Banyak mengalah dan lumayan rendah hati. Sebagai partner kerja dan teman jalan dia termasuk orang yang meneyenangkan. Tanaka san ini sebenarnya berasal dari daerah pesisir, sebuah desa yang berada didaerah Kagoshima, disebuah desa yang bernama Kaimon Dake yang kebanyakan penduduknya selain hidup sebagai nelayan juga sebagian ada juga yang kehidupannya sebgai petani. Keluarganya sangat ramah sekali ketika suatu waktu aku diajak Tanaka san untuk berkunjung ke rumahnya. Selain aku dapat menikmati aneka masakan lezat yang sengaja dibuatkan ibunya untuk menyambut kedatanganku, aku sangat senang sekali dengan semuanya ini, aku yakin keluarganya Tanaka san juga menyukai kehadiranku di tengah-tengah mereka. Semoga saja rencana kepindahannya ke Jakarta akan segera terwujud nyata dan itu artinya project baru yang tengah aku tangani ini akan mendapatkan investor asing baru yang akan menjadi rekanan bisnis perusahaan tempat aku bekerja ini.    
            Pagi ini sengaja aku datang lebih pagi lagi ke kantor, hanya ingin segera menemuinya. Aku tidak tahu pasti, apakah dia sudah tahu mengenai kepulanganku ke tanah air, bahkan sudah kembali  bekerja seperti biasa. Beberapa oleh-oleh telah aku persiapkan khusus untuknya, selain untuk teman-temanku yang lainnya. Semoga saja hal ini akan memberikan kesan baik diantara kami berdua selanjutnya. Segala macam perasaan bercampur aduk menjadi satu di hatiku, ada rasa rindu, rasa deg-degan jika membayangkan pertemuanku dengannya nanti. Yang paling aku takutkan adalah, jika ternyata semua yang aku rasakan ini hanya perasaan sepihak saja, sementara dia sendiri tidaklah begitu menghiraukannya. Semoga saja untuk yang terakhir ini, tidak akan terjadi dalam hidupku.
            Setibanya di kantor, aku langsung menuju keruanganku yang hampir dua bulan ini aku tinggalkan. Tapi sebelumnya aku sempatkan mampir diruangan kerjanya dia yang masih kosong, hanya untuk menaruh sebuah bungkusan oleh-oleh yang aku beli khusus untuknya. Bungkusan ini sengaja aku letakkan sedikit tersembunyi dibalik meja kerjanya, selain untuk memberikan sebuah kejutan untuknya, aku juga tidak ingin semua orang yang datang  ke kantor lebih awal tahu dan melihatnya. Pasti akan menjadi sumber pergunjingan diantara mereka, bisa dibayangkan jika hal ini terjadi. Tidak hanya malu, akan tetapi aku takut, jika dia akan lebih dulu ill feel terhadapku. Aku jadi bergidik sendiri, jika ini benar-benar terjadi, tapi aku yakin, dengan kehati-hatianku ini, semua yang aku khawatirkan ini tidak akan terjadi. Sementara oleh-oleh untuk teman-teman sekantor lainnya, akan aku titipkan pada Irwan, biarlah dia sendiri yang akan mengaturnya, aku yakin dan percaya jika dia memanglah ahlinya. Dan kebetulan juga Irwan adalah orang pertama yang menyalamiku, karena dia adalah orang pertama yang aku temui di kantor setelah para OB tentunya. Setelah itu barulah beberapa teman kantor lainnya yang ikut menyalamiku atas kembalinya aku disini, dikantor ini.
            Dengan sedikit rasa cemas, aku masih terus menantikannya disini, diruang kerjaku. Aku juga tidak tahu persis, apakah dia sudah datang di kantor ataukah belum. Jika dia sudah datang, pastinya dia juga sudah melihat bingkisan yang aku bawakan tadi. Atau bahkan dia sudah membukanya. Aku ingin segera mengetahuinya, kira-kira bagaimana reaksinya saat dia tahu, jika  itu adalah bingkisan pemberianku ini.  Aku berharap dia menyukainya dan dapat memberikan arti khusus untuknya. Rasa cemasku semakin menjadi-jadi, manakala selama seharian ini, aku benar-benar tidak melihatnya, baik di kantor maupun saat makan siang tadi. Hingga sesore ini, aku belum tahu persis keberadaannya, ingin rasanya aku bertanya pada Irwan maupun teman yang lainnya, tapi selalu saja aku urungkan niatku ini, rasanya tidak enak hati juga jika aku harus bertanya pada mereka semua. Fikiranku semakin kacau sulit sekali untuk dikendalikan, kemanakah dia gerangan…?. Padahal sebentar lagi jam kantor akan segera usai, itu artinya hari ini dia memang tidak masuk kantor, tapi kenapa ..?, apa yang terjadi dengannya..?. Berbagai macam pertanyaan terus saja berkecamuk dalam batok kepalaku, satupun tidak aku temukan jawabannya. Belum tuntas semua keragauan serta kekhawatiranku yang aku lamunanku tadi terjawab, tiba-tiba aku dikagetkan oleh sebuah ketukan di pintu ruang kerjaku. Aku benar-benar tersentak kaget bukan hanya karena suara ketukannya yang keras, akan tetapi aku benar-benar dikagetkan oleh kehadirannya, yang kini tengah berdiri mematung dihadapanku.
“Selamat sore Pak…!” sapanya, dengan senyum manisnya. Senyum yang selama ini aku sangat rindukan.
“Ehmmm, selamat sore…!, silahkan duduk…!” aku sedikit gelagapan dan salah tingkah dibuatnya.
“Selamat datang kembali ya Pak…!” dia menyodorkan tangannya, untuk mengajakku bersalaman.
“Terimakasih…!” aku membalas uluran tangannya dengan sedikit gemetaran.
“Oh ya, terimakasih atas oleh-olehnya lho…!, saya suka sekali Pak…!” dia kembali mengembangkan senyum manisnya, membuat dadaku semakin berdegup begitu kencangnya.
“Syukurlah jika demikian…!, maaf saya tidak dapat membawakan sesuatu yang istimewa” aku berusaha bersikap setenang mungkin, aku tidak ingin dia tahu, jika saat ini aku benar-benar grogi jika secara kebetulan kami saling beradu pandang.
“Wah, Bapak ini bisa saja…!, keren kok Pak…!” dia berusaha menghiburku dengan sikap ramahnya.
“Terimakasih…!. Oh ya, siang ini kamu ada janji makan siang dengan teman lain…?”  tanyaku, akhirnya aku dapat memberanikan diri untuk mengajaknya pergi berdua.
“Belum sih Pak, ada apa ya Pak…?” tanyanya dengan sedikit heran.
“Jika tidak keberatan, aku ingin mengajakmu makan siang berdua…!” aku berusaha tersenyum semanis mungkin, semoga saja dia terkesan dengan taktikku ini.
“Ehmmmmmm, hanya berdua saja Pak…?” tanyanya lagi, dia semakin bingung saja sepertinya.
“Iya, kenapa…?” aku balik bertanya, aku takut jika dia merasa keberatan dengan ajakanku ini.
“Ehmmmm, enggak apa-apa kok…!, aku hanya kaget saja” dia kembali tertunduk dengan wajah bersemu merah.
“Aku kangen kamu…!” kata-kata ini  begitu saja keluar dari mulutku tanpa aku sadari. Sedikit berbisik namun terdengar begitu jelas. Sesaat kemudian wajahnya sedikit terangkat, sepertinya dia hanya ingin memastikan asal sumber suara tadi berasal. Dalam waktu yang bersamaan mata kami saling beradu pandang, beberapa saat lamanya kami sama-sama terpaku, sebelum pada akhirnya dia hanya dapat tertunduk kembali dengan warna dipipinya yang semakin merona.
“Ar…!, terserah kamu akan mengartikannya seperti apa. Mungkin inilah saatnya aku harus berkata jujur padamu dan juga diriku sendiri, jika selama ini aku benar-benar mengagumimu sejak pertamakali kita bertemu. Bahkan perasaan ini, kini telah berubah menjadi rasa cinta yang selama ini aku pendam sendiri. Semoga saja, hal ini  tidak hanya aku rasakan sendiri saja, aku tidak tahu apa yang sebenarnya kamu rasakan. Kalaupun tidak, aku harap cukup hanya kamu saja yang tahu tentang hal ini. Aku memang sangat pengecut jika harus menanggung apa yang akan terjadi nanti. Karena bagiku, ini adalah kali pertama aku merasakan jatuh cinta, aku berharap sekaligus akan menjadi cinta terakhirku” aku berusaha menggenggam jemarinya yang terasa sangat dingin sekali ketika aku mulai menyentuhnya, dia hanya terdiam saja dan semakin membenamkan wajahnya.
“Ar….?, apakah diamnya kamu ini, merupakan bentuk penolakanmu terhadapku..?” tanyaku begitu sangat hati-hati sekali, karena aku memang benar-benar takut jika hal ini benar-benar terjadi.
“Pak….!” Dia menghentikan ucapannya sejenak, mungkin dia merasa tidak enak hati terhadapku untuk mengucapkannya.
“Ar…!, katakana saja, apapun yang ingin kamu katakan…!, kamu tidak perlu sungkan, maupun merasa tidak enak hati terhadapku, toh hanya kita berdua yang tahu mengenai hal ini. Apapun keputusanmu, aku sudah mempersiapkan diri, untuk selalu berbesar hati menghadapinya” Kutatap wajahnya dengan lembut, melalui sorot matanya yang teduh, ingin aku titipkan sebuah cinta yang tulus yang aku alirkan dari relung hatiku yang terdalam.
“Pak…!, sebenarnya sudah sejak lama sekali, aku menantikan hal ini terjadi. Baru pada hari inilah, keajaiban itu datang, pada akhirnya kata-kata cinta itu terucap langsung dari mulut Bapak. Sejujurnya, sudah sejak lama pula aku mengangumi dan menyukai Bapak, akan tetapi aku hanya dapat memendamnya sendiri saja, biarlah sang waktu yang akan menjawabnya. Dan hari ini, aku tidak akan ragu lagi dengan perasaanku selama ini, karena orang yang sangat aku cintai itu, kini sudah ada dihadapanku tengah mengenggam jemariku”  kulihat dia mulai terisak, bahkan badannya sedikit terguncang karena tangisnya semakin tumpah.
“Terimakasih Tuhan, terimakasih sayang…!, atas cintaku yang berbuah manis…!” ingin rasanya aku untuk segera memeluknya kedalam dekapanku, membiarkannya menumpahkan seluruh tangisnya dibahuku, tempat dia akan sandarkan seluruh hidupnya hanya untuk aku.
“Teriimakasih juga Pak, sudah mencintaiku dengan tulus…!” akhirnya dia menghambur kedalam pelukanku dengan tangisnya yang benar-benar dia tumpahkan didadaku, dan membasahi kemejaku.
“Ar…!, sudahlah..!, nanti ada orang yang datang lho…! Dan melihat kita berdua, nanti disangka yang bukan-bukan lho…!” aku berusaha melepaskan pelukannya selembut mungkin, aku tidak ingin membuatnya merasa malu atas tingkahnya ini.
“Eh, ehmmmm…maaf Pak…!” dia buru-buru menghapus wajahnya dan kembali duduk dihadapanku.
“Ar…!, jika sedang berdua, jangan panggil aku bapak ya…!” aku berusaha tersenyum kearahnya yang kembali tersipu malu.
“Terus, aku harus panggil apa dong Pak…?” tanyanya, dengan senyumnya yang menggoda.
“Panggil saja Mas Agan…!, atau Agan saja juga, enggak apa-apa..!”  jawabku, aku tidak ingin formalitas kantor akan terbawa kedalam kehidupan pribadiku.
“Baiklah Mas…!, mulai sekarang aku akan membiasakannya” dia kembali tersenyum dengan begitu manisnya, hanya untuk aku seorang.
“Pulangnya, Mas antar ya…!”
“Baik Mas…!, aku kembali keruanganku dulu ya…!, aku akan membereskan meja kerjaku dulu…!” dia segera beranjak dari tempat duduknya.
“Oke, sayang… !, Mas tunggu di parkiran ya…!” dia hanya mengangguk saja, sambil berlalu dari ruanganku.
            Hari ini aku benar-benar merasakan sebuah kebahagiaan yang teramat sangat luar biasa, karena baru kali ini, diseumur hidupku aku dapat merasakan yang namanya jatuh cinta. Tidaklah sia-sia rasa cinta yang selama ini aku pendam hanya untuknya, pada akhirnya dapat terjawab sudah. Sebuah angan yang tersisa untuknya, kini kembali terwujud nyata secara utuh selamanya. I love you Ar….!  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar