Obrolan Anak Lelaki Tanggung
By : Ganta Vaksie
Setelah bawang putih dan bawang merah dikupas, kini giliran cabe merah yang dipotong-potong kasar, kemudian semuanya dijadikan satu untuk diulek menjadi bumbu yang dihaluskan, seterusnya tinggal memanaskan sedikit minyak goreng untuk menumisnya hingga tercium bau harumnya, lalu masukkan telur dan diaduk-aduk hingga tercampur rata, barulah nasinya yang dimasukkan kedalam racikan bumbu yang sudah matang tadi, aduk-aduk terus hingga bumbu meresap kedalam nasi sambil masukkan kecap sedikit demi sedikit hingga warnanya terlihat merata, terakhir barulah bubuhkan garam secukupnya sambil terus diaduk-aduk, kini nasi goreng buatanku ini telah siap untuk disajikan sebagai menu sarapan pagi ini. Jika sedang banyak waktu senggang aku sering melakukan hal ini, tidak hanya untuk sarapan pagi saja, akan tetapi jika aku sedang merindukan masakan tertentu, pastilah aku akan sempatkan untuk memasaknya, meskipun memasak hanya untuk diriku sendiri, paling tidak rasa keinginan untuk menyantap masakan-masakan tertentu itu dapat terpenuhi. Aku sangat bersyukur sekali, memiliki keahlian yang satu ini. Meskipun aku dapatkan secara otodidak dengan membaca dari buku-buku resep masakan, maupun melihat acara kuliner lainnya di televisi dan selalu mencoba untuk mempraktekan semua resep-resep tersebut. Hasilnya lumayan, tidaklah begitu mengecewakan. Terbukti dari pujian-pujian yang aku dapatkan dari teman-temanku yang pernah mencoba hasil masakanku ini. Bahkan para tetangga yang selalu aku kirimi setiap aku masak berlebih, mubajir jika hanya aku saja yang memakannya dirumah, mengingat memang aku hanya tinggal sendirian saja disini. Pastinya tidaklah mungkin jika aku harus mengbiskannya sendiri saja.
Usai sarapan pagi seperti biasanya aku langsung berangkat ke sekolah tempatku mengajar sebagai guru honorer dalam beberapa tahun terakhir ini. Aku mengajar di sebuah sekolah menengah pertama swasta yang kebanyakan murid-muridnya dari kalangan menengah keatas. Tidak heran jika sekolah tempat mengajarku ini memiliki gedung yang megah, ditunjang dengan sarana yang lengkap pula. Letaknya tidaklah jauh dari rumahku ini, mungkin sekitar dua blok saja. Namun karena jalannya yang harus memutar, hal ini tidaklah mungkin bagiku untuk berjalan kaki maupun naik kendaraan umum yang harus berganti kendaraan angkot hingga dua kali disambung dengan ojek, barulah tiba di lokasinya. Aku bersyukur tidaklah perlu repot-repot harus berganti-ganti angkot maupun berjalan kaki untuk pergi ketempat kerjaku ini. Paling tidak aku masih memiliki kendaraan roda empat yang lumayan tidaklah begitu memalukan jika dibawa untuk ke kondangan maupun ke acara-acara lainnya. Bagiku mobil ini sangat bersejarah sekali dalam hidupku, sejak aku masih bersekolah di SMU hingga sekarang ini, kondisinya masih lumayan bagus, tidak pernah rewel atau keluar-masuk bengkel. Mungkin karena aku selalu rajin merawatnya dengan baik, sehingga kerusakan-kerusakan kecil yang bisa saja menjadi penyebab dari kerusakan-kerusakan parah, dapat aku antisipasi sebelumnya, sehingga aku tidaklah perlu mengeluarkan biaya ekstra hanya untuk pergi ke bengkel atau membeli suku cadang yang baru.
Pagi ini ada beberapa mata pelajaranku yang jatuh pada pelajaran jam pertama, itu artinya aku harus datang lebih awal lagi, apalagi kali ini adalah anak-anak kelas III F yang terkenal nakal-nakal sulit sekali diatur. Selalu saja ribut meskipun saat pelajaran tengah berlangsung, disaat guru sedang menerangkan pelajaran didalam kelas. Selalu saja ada yang bikin ulah, sebagai awal mula dari semua keributan-keributan yang selama ini sering terjadi di kelas ini. Untung saja mata pelajaran yang aku ajarkan ini termasuk salah satu mata pelajaran inti dan eksakta. Jadi keberadaanku lumayan disegani oleh mereka, ini adalah salah satu poin plus bagiku untuk lebih mudah lagi mengadakan pendekatan kepada mereka, khususnya anak-anak yang sering berbuat ulah di kelas. Selain mengajar bidang studi Biologi, aku juga mengajar bidang studi lainnya seperti Matematika dan juga Fisika, bahkan termasuk mata pelajaran eskul, yaitu bidang Elektronik. Tidak heran jika setiap harinya jadwalku sangat padat, tidak hanya mengajar dikelas tiga saja, bahkan mungkin aku termasuk guru yang mengajar hampir diseluruh kelas. Mungkin selain karena guru bidang studi MIPA ini sangatlah terbatas, juga mungkin karena aku adalah guru termuda satu-satunya di sekolah ini. Kebetulan hanya aku saja yang mengajar di satu sekolah ini saja, sementara guru-guru lainnya masih banyak yang merangkap untuk mengajar ditempat-tempat lainnya, terutama guru-guru yang sudah senior.
Aku sudah bersiap-siap hendak menuju kelas tempatku mengajar, namun tiba-tiba wakil kepala sekolah memberitahuku, jika jam pelajaranku di kelas III F ini akan dikosongkan, karena akan digunakan untuk medical check up bagi semua siswanya secara bergiliran. Untuk mengisi kekosongan ini, paling tidak aku akan memeriksa hasil ulangan harian murid-muridku, atau mungkin aku akan berkeliling ke seluruh kelas, barangkali saja ada kelas yang kosong karena gurunya berhalangan hadir, bisa saja aku akan menggantikannya mengajar dikelas yang kosong tersebut, tidak untuk memeberikan pelajaran bidang studiku atau bidang studinya guru yang berhalangan tersebut, mungkin aku akan mengajak murid-murid untuk bercerita tentang apapun, atau hal menarik lainnya yang tengah booming dikalangan anak-anak ABG, biasanya apa yang aku lakukan ini akan membuat mereka senang dan antusias sekali. Mungkin mereka merasa diperhatikan, didengarkan atau paling tidak mereka tidak ribut dan berisik, atau bahkan berkeliaran diluar kelas, sehingga akan mengganggu kelas-kelas lainnya yang sedang belajar.
Ketika aku melintas di ruangan UKS aku lihat banyak murid-murid yang tengah antri menunggu giliran untuk melakukan Medical Check up, mulai dari pengambilan sample urine, tes darah, THT, hingga rontgen.
“Eh buruan dong…! Ngantri neh…!” teriak salah seorang anak laki-laki pada teman-temannya yang berada diruang ganti.
“Rendy…! Elo langsung masuk aja …! cowok semua ini, enggak ada anak ceweknnya kok..!” teriak salah satu temannya yang berada didalam.
“Ya udah bukain pintunya Mario...!, gua mo masuk neh...!” sahut yang namanya Rendy tadi pada yang namanya Mario.
“Udah gua buka neh…!” jawab Mario dengan suara lantangnya.
“Hah...? kok elu pada buka celana sih...?” tanya Rendy pada teman-temannya yang berada diruang ganti.
“Ya iyalah...! tadi habis ambil sampel air pipis, terus nanti ganti pakai baju ini...!” jawab salah seorang diantara mereka sambil menunjukkan baju rontgen pada Rendy.
“Ya malu aja, kalau harus rame-rame telanjang gitu..!” sepertinya Rendy kurang senang saat melihat semua teman-temannya pada telanjang seperti itu.
“Ngapain malu Ren…!, kita kan sama-sama cowok ini..!” jawab Mario sambil membenahi baju-bajunya.
“Iya Ren..!. Seru lagi, kita kan bisa liat-liatan..he...he...!” seru temannya yang lain, sambil cengengesan.
“Memangnya kamu mo liatin apa Gor…?, kita kan sama-sama cowok, pastinya apa yang ada di badan kamu, akan sama juga dengan yang lainnya” Tanya Rendy pada yang namanya Tigor.
“Iya sih…!, tapi kan bisa lucu-lucuan Ren…!” jawab Tigor sekenanya.
“Lucu-lucuan gimana Gor..?, memangnya lawakan...?” timpal Rendy lagi.sambil mulai membuka bajunya.
“Maksud Tigor, kita bisa seru-seruan dengan ngakurin bentuk dan ukurannya Ren...!” Mario menengahinya.
“Hah…? Gila…!, malu tau…!” Rendy sepertinya kaget sekali dengan penjelasan Mario tadi.
“Biasa aja kali...!” timpal temannya yang lain, yang sibuk memamerkan tubuh telanjangnya.
“Iya coba liat tuh..! Si Januar yang lagi pamer-pamer gitu, pasti beda kan sama bentuk dan ukurannya Mario..?, begitu juga sama gua..!” Tigor ikut menunjukkannya pada Rendy.
“Iya sih...! Januar sudah tumbuh rambut, Mario ukurunnya sedikit lebih besar, dan elu, belum disunat, enggak ada yang aneh ah...!” jawab Rendy lagi sambil melucuti pakaiannya.
“Coba punya elo gua liat...!” Tigor melorotkan celananya Rendy setengah memaksa, sepertinya Rendy agak keberatan dengan ulah Tigor ini.
“Apaan sih lu Gor…!, maen tarik celana orang aja…!” teriak Rendy sambil kembali membetulkan letak celananya.
“Elu sih..! pake malu-malu segala…!” Tigor sedikit kesal, sambil mulai mengenakan baju rontgennya.
“Sorry Gor, gua hanya enggak biasa aja…!” jawab Rendy sambil akhirnya telanjang juga di hadapan teman-temannya.
“Gila Ren…!, gede banget, itu sih seukuran abang gua yang udah kuliah kali…!” Tigor terbelalak saat melihat Rendy yang bertelanjang dihadapannya.
“Wah…!, kita semua kalah nih.., rambutnya juga sudah tumbuh lumayan banyak ya…!” Mario ikut memperhatikan juga semua perbedaan ini.
“Pasti, kamu sudah mimpi basah ya Ren…?” tanya Januar, sambil ikut berjongkok diantara teman-temannya yang lain.
“Apaan sih lu…! udah ah, gua risih tau…! Awas gua mo pake bajunya..!” jawab Rendy sambil buru-buru memakai baju rontgen.
“Mimpi basah…? Apaan tuh…?” Tanya Tigor pada Mario dengan sedikit kebingungan.
“Masa elu enggak tahu sih Gor...?” Mario malah balik bertanya pada Tigor dengan sedikit heran.
“Beneran gua enggak tau istilah itu...!. Maksud lo, mimpi lagi hujan-hujanan gitu...?” Tigor sepertinya semakin bingung saja. Yang lain serentak terbahak mendengar kepolosan Tigor ini.
“Tigor...! Mimpi basah itu, mimpi cowok sama cewek lagi berduaan, pokonya lagi pacaran gitu deh...!. Mimpinya itu enaaaaaaaak banget ...!, tapi bikin kaget, soalnya tau-tau ngompol gitu…!” Jawab Januar sambil mengekspresikan mimpinya tersebut..
“Masa sih…? Udah gede kok masih ngompol…!”gerutu Tigor sambil geleng-geleng kepala.
“Ngompolnya itu bukan pipis biasa tau...!” semprot Mario pada Tigor.
“Elo juga pasti akan ngalamin deh Gor...!. suatu saat nanti lo pasti akan ngerti apa yang kita obrolin ini” kata Rendy sok bijaksana, sementara Tigor masih saja mengernyitkan keningnya karena belum bisa mengimbangi obrolan teman-temannya ini.
“Iya, soalnya diantara kita semua, cuman lo doang yang belum mimpi basah...!” Mario ikut-ikutan menambahkan omongannya Rendy.
“Pokoknya, kalo lo udah mimpi basah sekali, pasti kepingin terus deh...!” ledek Januar sambil menjawil kupingnya Tigor.
“Iya bener Jan...!, dulu sewaktu gua mimpi basah, awalnya sih gua malu sama nyokap, takut ketauan kalo CD gua basah saat mo di cucinya, makanya gua langsung buru-buru cuci sendiri aja dikamar mandi” Kata Mario sambil duduk di sebelah Januar yang duduk lesehan diatas lantai ruang ganti.
“Iya,Gua juga gitu Mar...!” Januar ikut-ikutan mengiyakan ceritanya Mario.
“Kalo gua sih, CD nya langsung gua bungkus pakai koran dan kantong plastik gitu, terus gua buang ke tong sampah. Malu aja kalo sampe ketauan..!” Rendy sedikit senyum-senyum seperti tengah membayangkan kejadian itu.
“Ngomong-ngomomg, lo pada sering mimpi kayak gituan..?” Tanya Mario pada teman-temannya.
“Kalo gua sih baru sekali itu doang Mar..!” jawab Januar, sambil memandang ke yang lainnya.
“Sama…!, gua juga baru sekali aja Jan, makanya gua pingin lagi deh mimpi kayak gituan, habisnya enak…!” Mario juga sedikit senyum-senyum seperti mengingat-ingat kembali kejadian mimpinya itu.
“Wah, kalah lo sama gua...!, gua sih pernah beberapa kali mimpi kayak gituan” kata Rendy dengan bangganya sambil mencibir pada teman-temannya.
“Kok bisa lo…!, gimana caranya Ren...?” tanya Mario begitu antusiasnya.
“Iya neh...!, kasih tau gua dong gimana caranya...?” Januar ikut-ikutan penasaran juga, sementara Tigor sendiri masih saja terus kebingungan dengan pembicaraan teman-temannya ini.
“Yah gua juga enggak tau...!. Yang jelas, biasanya kalo gua habis liatin anak-anak cewek atau ngebayangin gitu deh, pasti malemnya gua mimpi gitu...!, tapi kadang-kadang enggak juga sih...!, gua juga enggak tau pasti sih, bingung ah...! ” Rendy mencoba menjelaskan pada teman-temannya.
“Wah gua mo coba ah...!” seru Mario dengan girangnya.
“Enggak gitu juga, kadang-kadang kalau gua maen-maenin anu gua, kadang gua juga suka mimpi gitu..!” tambah Rendy sambil memeperhatikan teman-temannya yang masih antusias mendengarkan pengalamannya tersebut.
“Dimainin gimana Ren…?” Tanya Januar dengan sedikit bingung.
“Ya dielus-elus gitu deh…! Lama-lama elo juga pasti keenakan deh...! gua seneng aja bisa berlama-lama sendiri dikamar gua sambil begitu, makanya ukuran gua bisa lebih besar dari elo pada kan...?, gua juga enggak tau sih, yang jelas, kalo gua liatin makin hari ukurannya bisa makin gede gitu deh, jadi kayak piaran hamster gua...!” Rendy tertawa terbahak yang diikuti oleh teman-temannya, termasuk Tigor yang sebenarnya tidaklah tahu sumber kelucuannya itu.
“Elo, onani ya Ren...?” tanya Mario dengan tegas.
“Onani apaan Mar...?, malah gua baru tau tuh...!” Rendy balik bertanya pada Mario.
“Yah, gua juga enggak tau juga sih...!, setahu gua, onani itu mainin alat kelamin gitu biar enak dan nikmat katanya...! kira-kira digimanain ya...?” Jawab Mario sambil mikir.
“Ehemmmmmmmm...!” aku berdehem sambil menghampiri mereka yang tengah asyik dengan cerita serunya ini, rupanya mereka tidak tahu jika sejak tadi aku berada diruangan itu dan berdiri dibalik tirai pembatas. Seketika itu juga mereka mengehentikan obrolannya dan langsung berdiri sambil menutupi tubuhnya dengan baju rontgen yang hanya menggunakan tali saja sebagi penutupnya.
“Eh ada Bapak....?, Eh....,ehmmmm, selamat pagi Pak...!” meskipun suaranya sedikit gugup, mereka begitu serentak mengucapkannya, sepertinya mereka takut ketahuan apa yang mereka obrolkan tadi.
“Kalian ganti bajunya lama sekali, lagi pada ngapain sih...?” tanyaku pura-pura tidak mengetahui apa yang mereka obrolkan tadi.
“Iiiiya Pak, ini sudah kok...!” jawab Rendy dengan sedikit takut-takut.
“Ya sudah.., buruan masuk keruang pemeriksaan!, sudah ditunggu petugasnya disana…!” aku menyuruh mereka untuk segera beranjak dari tempat ini.
“Baik Pak…!, kami permisi…!” Mario yang mendahului keluar dari ruangan ini, didikuti oleh yang lainnya dengan setengah berlari sambil menenteng pakaiannya.
“Ren, kira-kira Pak Agan denger enggak ya, apa yang kita obrolkan tadi…?” aku masih bisa mendengar suara Mario yang setengah berbisik pada Rendy.
“Enggak tau deh…!, gua kaget aja, kok tiba-tiba dia disitu sih…?” jawab Rendy sambil melirik kearahku, dia buru-buru menunduk ketika aku tengah memperhatikannya.
“Eh, entar lagi aja ngomongnya, kalo Pak Agan udah enggak ada..!” Seru Januar pada mereka berdua.
Kulihat mereka langsung berhamburan menuju ruang pemeriksaan kesehatan yang letaknya bersebelahan dengan ruang ganti ini. Sebenarnya aku tidak sengaja ada diruang ganti ini, awalnya aku hanya mengambil tas pakaian ganti yang biasa aku letakkan disana, tas tersebut tidak hanya berisi pakaian ganti dan perlengkapan olahraga saja, akan tetapi ada beberapa perlengkapan praktek lainnya. Ketika aku sedang berada diruangan ini, tiba-tiba aku dengar suara gaduh anak-anak itu yang hendak berganti pakaian, awalnya aku tidak begitu memperhatikan mereka, baik obrolan mereka maupun apa yang sedang mereka lakukan disana. Namun disaat aku tengah memikirkan sesuatu, tiba-tiba saja aku mulai mendengarkan obrolan mereka ini, diam-diam aku mengintipnya diantara celah tirai pembatas ini. Mereka benar-benar-tidak menyadari keberadaanku sejak tadi, padahal jika mereka tidak begitu ribut, pasti mereka akan mendengarku saat aku mngeluarkan isi tas yang berisi raket, sepatu kets dan juga perlengkapan olah raga lainnya. Aku sengaja menghentikan obrolan mereka ini, meskipun hanya obrolan iseng saja, karena aku fikir obrolan mereka ini sudah menjurus pada hal-hal yang berbau pornografi. Sebenarnya aku juga pernah mengalami hal semacam mereka itu, akan tetapi pada zamanku dulu pengalaman seperti itu hanya untuk dipendam sendiri, dan mengerti permasalahan itupun pada akhirnya dengan sendirinya, tidaklah sevulgar anak-anak sekarang, yang dapat dengan enteng menjadikan sebuah obrolan seru diantara mereka. Memang lain dulu lain sekarang, dimana kemajuan teknologi sudah mengakomodirnya untuk lebih tahu secara dini dan semudah membalikkan telapak tangan. Untuk itu para orang tua harus lebih wasapada lagi dengan kondisi ini, dikhawatirkan anak-anak ini akan salah langkah, karena pada umumnya anak-anak tanggung atau yang lebih sering dikenal dengan sebutan ABG ini sifat keingin tahuannya sangat besar sekali. Berawal dari rasa penasaran, ingin coba-coba dan pada akhirnya terjerumus pada hal-hal yang sifatnya negative.
Menurutku ini adalah PR buatku, sebagai guru biologi disekolah ini. Aku harus lebih bisa untuk menjelaskannya kepada mereka secara benar dan lebih awal lagi, berdasarkan sudut pandang ilmu pengetahuan dan juga kaidah norma serta agama, supaya mereka tidak salah menafsirkan semuanya berdasarkan daya khayal maupun pola fikir mereka yang hanya mendengar dari kisah teman-temannya secara sebagian-sebagian. Apalagi seusia mereka ini adalah usia pubertas, secara seksual baru mulai terlihat tumbuh dalam diri mereka masing-masing. Seperti adanya perubahan bentuk tubuh, perubahan suara bagi anak laki-laki, menstruasi bagi anak perempuan dan lain sebagainya. Termasuk apa yang diobrolkan oleh anak-anak tadi. Jujur saja, aku juga pernah mengalami hal-hal yang diomongkan anak-anak tadi itu. Dulu ketika aku duduk dibangku kelas dua SMA. Saat pertama kali aku mulai mengenal yang namanya cinta monyet. Meskipun secara pertumbuhan fisik aku tumbuh normal sejak aku duduk di bangku SMP. Seperti tinggi badanku, dimana aku tumbuh jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan teman-teman seusiaku. Aku juga mengalami yang namanya tumbuh bulu-bulu halus pada bagian-bagian tubuh tertentu, termasuk kumis, jenggot dan juga cambang. Begitu juga dengan perubahan suaraku, terdengar lebih berat jika dibandingkan dengan suaraku sebelumnya. Mungkin juga ada perubahan-perubahan lainnya yang tanpa aku sadari. Akan tetapi tidak termasuk dengan yang namanya mimpi basah.
Cerita tentang mimpi basah, aku juga pernah mengalami hal itu, meskipun itu telat. Aku ingat betul…! Kala itu, aku tengah dekat dengan Yeti anak kelas Biologi, dulu dia ini adalah teman semasa SMP ku, sama-sama ikut kegiatan eskul Bina Musika. Dulu sih aku dan dia ini biasa saja, meski sering pulang bareng karena arah rumah kami memang sama. Namun ketika aku menginjak kelas dua SMA, aku kembali sering pulang bareng dengan Yeti, karena kebetulan kami berdua ikut klub Bahasa Inggris yang diadakan disekolah usai jam pelajaran. Awalnya teman-teman sekelas sering meledekku jika aku sering jalan bareng dengan Yeti, ke kantin, ke perpus hingga latihan Marching Band. Karena aku merasa memang tidak ada perasaan apa-apa terhadap Yeti, akhirnya aku abaikan saja olok-olok semua teman-temanku ini. Aku yakin Yetipun sama halnya denganku. Karena memang tidak ada yang istimewa diantara kami berdua, baik sikap maupun hal lainnya yang menunjukkan tanda-tanda sebagai orang yang berpacaran. Pernah sih, suatu kali waktu Yeti memberiku hadiah special ketika aku berulang tahun yang ke-17, dia memberiku sebuah kado yang berisi kasetnya Ina Rawie, yang hingga kini masih aku simpan dengan baik.
Benar pepatah orang Jawa bilang witing tresno jalaran soko kulino. Akhirnya aku merasakan hal ini, dimana aku mulai merasakan sesuatu yang lain dari biasanya bila sedang bersama Yeti. Kadang aku juga malu sendiri dan merasa gugup tidak karuan. Aku mulai merasakan kangen yang menjadi-jadi saat aku jauh darinya. Disaat yang bersamaan aku juga merasakan malu yang teramat sangat, ketika aku harus bertemu dengannya. Terlebih setelah peristiwa mimpi basah itu. Karena perempuan yang ada dalam mimpiku tersebut adalah Yeti. Semenjak itu, aku tidak lagi berani untuk menemuinya. Rasanya malu sekali, wajahku terasa seperti terbakar jika terpaksa harus berpapasan dengannya. Mungkin Yeti tidak akan pernah tahu dengan kejadian yang sebenarnya ini, ketika aku terus-terusan menghindar darinya, bahkan hingga kepindahan Yeti ke sebuah SMA ternama di kota Bandung. Mungkin hingga hari ini, Yeti tidak pernah mengetahuinya, karena semenjak itu kami berdua tidak pernah bertemu lagi. Sekarang ini aku tidak pernah tahu keberadaan Yeti ini. Terakhir yang aku dengar dia meneruskan kuliahnya di kota Bandung juga, mengambil jurusan Teknik Pangan, mungkin saja saat ini dia sudah menjadi seorang ahli pangan yang handal.
Jika tidak dikagetkan oleh bunyi bel panjang, yang menandai berakhirnya jam pelajaran pertama dan kedua, mungkin aku akan terus berada diruang ganti ini tanpa melakukan hal apapun. Aku langsung buru-buru beranjak dari ruang ganti ini menuju ruang guru untuk mengambil buku-buku pelajaran. Karena sebelum jam istirahat ini, aku ada kelas Matematika. Dengan sedikit langkah gontai, aku berjalan menyusuri lorong penghubung antara ruang guru dengan deretan ruang kelas dan juga ruang perpustakaan. Mungkin saat ini, aku harus lebih memperhatikan sikap semua murid-muridku dari biasanya. Tidak hanya karena rasa tanggung jawabku saja sebagai seorang guru, akan tetapi aku juga ingin melakukan penelitian mengenai prilaku anak-anak tanggung ini. Siapa tahu dapat berguna bagi dunia pendidikan di negeri ini. Mungkin disela-sela jam kosongku, aku akan mulai mencoba untuk melakukannya. Aku dapat memulainya dari hal-hal kecil saja dulu sebagai sumbernya. Seperti kejadian yang tidak sengaja tadi contohnya. Justru dari kejadian inilah aku terinspirasi untuk melakukan penelitian ini.
Pada hari-hari selanjutnya aku semakin intens dengan kegiatan baruku ini. Seperti berpura-pura sebagai detektif gadungan, diam-diam aku sering ikut berbaur bersama murid-muridku. Mungkin saja murid-muridku merasa heran jika tiba-tiba aku berada dalam tim basket mereka, cheers leader, Paskibra, Pramuka atau pada kegiatan-kegiatan lainnya. Namun dengan kelihaianku bergaul bersama mereka, sepertinya aksiku ini tidak pernah mereka ketahui. Justru sepertinya mereka merasa sangat senang sekali dengan keberadaanku ditengah-tengah mereka. Semoga saja ini adalah awal yang baik selain untuk bahan penelitianku, juga mengenai masalah kedekatanku dengan mereka. Selain sebagai guru mereka, aku berharap aku juga bisa jadi teman mereka untuk melakukan semua kegiatan di sekolah bahkan mungkin sebagai teman berbagi cerita atau hal lainnya. Ternyata benar saja, kedekatanku bersama mereka selama ini, sedikit banyak telah membuahkan hasil. Baik dalam kegiatan internal sekolah dan OSIS, maupun dalam semua kegiatan diluar sekolah yang dapat mencetak beberapa prestasi. Tidak hanya aku pribadi yang merasakan kebanggaan ini, melainkan bagi semua pihak di sekolah.
Berawal dari ketidak sengajaanku mendengarkan obrolan anak lelaki tanggung ini. Namun pada akhirnya mengantarkan suksesku dalam karir mengajarku, kelanjutan studiku dan juga beberapa buku yang telah aku buat. Kini aku semakin mencintai pekerjaanku sebagai seorang guru. Untuk itu aku ingin terus mengabdi demi kemajuan pendidikan bangsa ini, semoga...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar