Kamis, 31 Maret 2011

Dia meninggalkanku....

Surat Undangan
By : Ganta Vaksie

           Seperti biasanya, jika di akhir pekan seperti sekarang ini, aku lebih banyak menghabiskan waktu hanya berada di kamar saja. Banyak hal yang dapat aku lakukan disini, selain hanya untuk sekedar berleha-leha saja, aku juga sering melakukan aktifitas beres-beres atau berbenah isi kamar. Mulai dari berbenah isi lemari pakaian, atau bahkan menyususn kaset-kaset, CD, DVD koleksiku ke dalam rak khusus yang dibuat secara built-in menempel langsung pada salah satu bagian dinding kamarku ini. Kaset-kaset, atau bahkan CD maupun DVD ini  sering sekali berantakan setelah aku pakai, biasanya aku sangat malas sekali untuk megembalikannya ke tempat semula, makanya kamarku sering berantakan seperti ini. Meskipun ada Bik Sumi dan juga mamiku yang sering membereskan kamarku ini, akan tetapi terkadang mereka ini seringkali meletakkan kaset-kaset, CD ataupun DVD ini sekenanya saja bukan pada tempatnya semula. Padahal sebenarnya aku sengaja menempatkannya berdasarkan alpabet judul film maupun dari nama-nama penyanyinya. Hal ini hanya untuk lebih memudahkanku saat mencarinya. Sepertinya hanya aku sendiri saja yang tahu masing-masing letaknya itu. Untuk itu pada setiap akhir pekan seperti sekarang ini, aku selalu menyempatkan diri untuk membenahinya, itung-itung sedikit mengisi setiap liburan akhir pekanku.  
            Kamar bagiku adalah surgaku, selain ruangannya yang memang sengaja dibuat senyaman mungkin, bagiku kamar adalah cerminan pribadi kita sendiri. Karena kamar merupakan tempat melakukan hal apapun yang sifatnya sangat pribadi. Tidak heran jika aku sangat betah sekali berlama-lama berada di kamar. Dari kamarku ini, aku dapat menikmati indahnya fajar atau kemilau sinar mentari disaat pagi menjelang dengan view siluet pegunungan dan juga area pesawahan, lengkap dengan aliran sungainya yang meliuk-liuk bagai ular yang sedang melata. Suara gemercik air yang berasal dari pancuran kecil yang menyerupai air terjun mini buatan ini begitu terdengar indah dikuping, gelombang airnya selalu mengalir deras melalui bongakahan-bongkahan batu gunung yang dibuat seperti aslinya. Dari sisi lain aliran air pancuran ini, sebagian airnya dialirkan langsung menuju kolam renang yang berada persis pada bukaan pintu dan jendela kaca kamarku yang menghadap kearah taman dan juga teras belakang rumahku. Dari jendela kaca yang berukuran besar dan bisa dibuka tutup ini, udara segar dapat dengan leluasa keluar masuk kedalam kamarku. Biasanya di teras kamarku ini aku sangat betah sekali berlama-lama hanya untuk sekedar menghabiskan waktu luangku dari segala penatku yang mengganggu, terutama dari segala rutinitas pekerjaanku di kantor atau bahkan disaat aku sedang ingin sendiri seperti sekarang ini. Entah sudah berapa lama aku termenung sendiri disini. Mungkin dalam beberapa hari ini, setiap pulang kantor aku langsung saja mengunci diri di kamarku, beberapa kali mami menyuruhku untuk makan malam atau hanya untuk sekedar mencicipi kue-kue buatannya, aku hanya menjawab seperlunya saja tanpa beranjak dari kamarku ini. Bahkan ketika papi yang juga ikut-ikutan mengkhawatirkan keadaanku ini dengan menyelinap masuk ke dalam kamarku melalui pintu teras belakang, tetap saja mrmbuatku tidak bergeming dari kesendirianku ini. Aku hanya berusaha meyakinkan mereka jika aku tengah baik-baik saja, aku hanya sedang tidak ingin diganggu saja. Jika seudah begitu akhirnya mereka juga mau mengerti kondisiku saat ini. Aku sangat bersyukur sekali masih memiliki mereka yang begitu menyayangiku selama ini.
Sebenarnya kejadian ini terjadi sekitar tiga hari yang lalu. Waktu itu aku sepulang dari kantor dan kebetulan saat itu aku sedikit pulang telat dan agak larut. Maklum saja menjelang akhir bulan, dimana aku harus menyelesaikan beberapa laporan penting untuk diserahkan sebelum akhir bulan ini. Usai membersihkan diri dan juga berganti pakaian aku berniat menuju ruang tengah untuk sekedar mengobrol bersama keluargaku, mami, papi dan juga adikku Arfan mahasiswa jurusan arsitektur yang belum lulus-lulus juga. Hampir setiap malam menjelang tidur, kami sekeluarga sering berkumpul diruang tengah ini, untuk menonton televisi sambil  minum teh hangat yang dibuatkan mamiku. Biasanya diantara kami semua belum bisa beranjak tidur, jika salah satu dari kami belum pulang, kecuali memang sudah diketahui untuk tidak pulang ke rumah, dikarenakan sedang menginap di rumah kerabat maupun rumah teman, atau bahkan sedang berada diluar kota.
Acara kumpul keluarga ini sudah berlangsung sejak lama, boleh dibilang sejak aku masih kecil dulu. Hanya saja, dulu biasanya tidak hanya minum teh dan makan kue buatan mami saja, melainkan kegiatan rutin belajar bagi aku dan juga Arfan. Kegiatan belajar ini akan semakin diperketat jadwalnya jika menjelang musim ulangan maupun smesteran tiba. Papi dan mami terus mengawasi semua perkembangan kegiatan belajar ini dengan hasil nilai-nilai  ulangan maupun smesteran  kami berdua. Kegiatan kumpul-kumpul ini masih terus berlanjut hingga aku dewasa seperti sekarang ini. Meski Arfan sudah menjadi mahasiswa dan aku sudah bekerja, rasanya sama saja, tidak ada yang berubah. Di sini diruang tengah ini yang berbatasan dengan ruang makan keluarga, kami semua selalu berkumpul setelah melakukan aktivitas rutin seharian. Banyak hal yang kami lakukan disini, tidak hanya saling mencurahkan rasa sayang diantara kami sekeluarga, kami juga bisa saling bertukar cerita tentang apapun. Cerita-cerita ringan seputar pekerjaan, kabar dari saudara, bisnis papi, dan masih banyak cerita lainnya, terutama cerita-ceritanya Arfan dengan segudang petualagan cintanya.
Ketika aku tengah asyik menikmati kelezatan kue-kue yang mami buat ini, tiba-tiba mami menghampiriku sambil memberikan sesuatu.

“Sayang, ini ada undangan untuk kamu!” mami menyodorkan sebuah amplop besar yang tadi diletakkan di  meja Console.

“Undangan…? Dari siapa mi..?” aku masih bingung sendiri saat menerima amplop berwarna marun ini.

“Baca saja dulu..!” mami langsung pergi meninggalkanku, sepertinya mami tidak ingin melihatku membuka isi amplop ini.

Amplop yang terbuat dari kertas berbahan lembut dan glossy ini, ternyata adalah undangan pernikahan, di depannya  selain bertuliskan namaku yang tertera jelas diatas kertas label putih, undangan ini juga bertuliskan  dua buah huruf inisial yang cantik menyerupai sebuah lingkaran yang ditulis indah dengan tinta emas yang ternyata kedua hurup cantik ini merupakan inisial huruf  nama depan dari kedua mempelai tersebut. Dughh..., Jantungku seakan berhenti berdetak, bukan hanya karena melihat inisial nama depan kedua mempelai tersebut, melainkan saat membaca undangan ini secara keseluruhan dengan jelas. Baik nama panjang dari kedua mempelai, nama besar keluarganya, juga hari, tanggal dan nama tempat resepsinya. Kesemuanya bagiku seperti mendengar petir disiang bolong saja. Aku benar-benar merasa kaget dengan semua ini. Seketika tubuhku terasa lemas, wajahku memanas dan jantungku berdegup begitu kencangnya.

“Kamu harus sabar sayang...!,” tiba-tiba mami sudah kembali dan duduk disampingku.

“Kamu harus lebih berbesar hati …!, Mami yakin, Tuhan akan memberikan jodoh yang terbaik untukmu nantinya” genggaman tangan mami terasa begitu eratnya ditanganku, sepertinya mami tidak ingin aku larut dalam kesedihanku.

“Iya sayang, Papi yakin untuk anak papi sepertimu, pastinya Tuhan akan memberikan yang terbaik untukmu. Papi akan terus mendo’akanmu nak...!” papi mengusap-usap bahuku penuh kasih sayang, sepertinya papipun turut merasakan kekhawatiran yang sama seperti mamiku .

“Salah kamu sendiri sih Mas...!, punya pacar cuman satu. Begitu ditinggal, merana deh...!” ledek Arfan sambil mencibir kearahku.

“Hush...! kamu ini Fan, urus tuh kuliahmu..!” papi membentak Arfan yang hanya bisa cengengesan saja sambil terus mengunyah kue buatan mami.

“Sudahlah, lebih baik sekarang kamu istirahat saja sayang, jangan terlalu dipikirkan!” mami kembali mengusap-usap bahuku penuh kasih dengan kelembutan seorang ibu.

“Iya mi, terimakasih. Pi aku duluan masuk ya..!” aku segera berpamitan pada mereka seraya bangkit dari tempat dudukku.

“Iya sayang..!, selamat istirahat ya...!” papi hanya bisa menatapku dengan rasa prihatin.

“Mas, jangan mimpi horor ya…!” Arfan masih saja belum puas meledekku.

“Arfan, jaga mulut kamu…!” kini giliran mami yang membentaknya. Dasar Arfan masih saja kekanak-kanakan meskipun sudah bangkotan, tapi biar bagaimanapun dia adikku satu-satunya dan akupun begitu menyayanginya. 

“Fan, nanti temani Masmu tidur ya…! Papi takut terjadi apa-apa lagi dengan Mas mu itu” kudengar papi menyuruh Arfan untuk menemaniku tidur seperti dulu.

“Iya Pi…!” Arfan hanya menurut saja mengikuti langkahku dari belakang.

            Aku kembali merebahkan diri diatas kasur empuk ini, namun tidak terasa seempuk seperti biasanya, aku lebih merasa tengah tidur-tiduran diatas tumpukan jerami, merangnya ini sudah membuatku merasa gatal-gatal dan juga panas, padahal sebenarnya tidaklah demikian adanya. Sudah berulang kali aku membolak-balikkan badanku ke kanan dan ke kiri, malah kadang terlentang dan sekali waktu tengkurap sambil menutup kepalaku dengan guling dan juga bantal. Aku benar-benar sangat gelisah sekali, sedikitpun tidak mampu untuk memejamkan mataku ini, meski malam sudah semakin larut. Kulihat Arfan yang tidur disebelahku tampak begitu lelapnya. Sejak tadi dia kebingungan sendiri menghadapiku, beberapa kali dia berusaha menghiburku dengan aneka cerita-cerita konyolnya, namun tetap saja terdengar basi dikupingku ini. Karena usahanya ini merasa tidak aku gubris, akhirnya dia merasa capek sendiri dan juga  bosan mungkin. Arfan jadi ikutan terdiam dan ujung-ujungnya diapun tertidur.
Sepertinya aku masih belum bisa menerima kenyataan ini, rasa nyeri di ulu hatiku semakin menjadi-jadi, bukan karena sakit maag yang kronis, melainkan karena surat undangan ini. Surat undangan pernikahan dari seseorang yang teramat aku cintai. Larasati Diahnissa sebuah nama indah yang tertera dalam undangan sebagai mempelai perempuan. Sementara nama sang mempelai laki-laki seharusnya tertulis namaku disitu M. Argan Eko Whisnuntoro. Namun pada kenyataanya yang tertulis adalah Furton Suhardiman. Siapakah laki-laki yang sangat beruntung ini yang dapat menikahi seorang Larasati. Sungguh aku tidak pernah menyangkanya jika ini benar-benar saja terjadi, sepertinya baru saja kemarin ini aku masih memeluknya dengan segala cinta yang aku miliki, hanya untuknya dan selalu untuknya. Tapi kini dan untuk hari-hari selanjutnya, dia akan berada dalam pelukan laki-laki lain bahkan sudah menjadi miliknya.
            Sebenarnya sudah sejak lama aku berpacaran dengan Larasati, mungkin sejak masuk kuliah hingga beberapa bulan yang lalu saja. Belum genap satu tahun ketika Laras memutuskan hubungan ini. Hingga kini aku belum pernah tahu alasan yang sebenarnya, dia hanya meminta berpisah denganku dan menyudahi kisah cinta yang selama bertahun-tahun sudah terjalin nyaris tanpa ada permasalahan yang berarti. Keluargaku dan keluarganyapun sudah sama-sama merestui hubungan kami ini. Mungkin saja satu atau dua tahun kedepan kami akan segera melangsungkan pernikahan. Sedikit demi sedikit uang gaji hasil kerjaku selama ini mulai aku tabung demi sebuah rencana istimewa bersamanya. Banyak hal sering kami berdua khayalkan, tentang rumah mungil yang indah, anak-anak yang lucu, atau bahkan bulan madu yang super romantis di belahan dunia yang tidak ada siapapun kecuali hanya kami berdua saja. Tidak terasa air mataku kembali menetes jika mengingat hal ini. Rasa cintaku terhadap Laras ini sungguhlah sangat terlalu. Bagiku Laras tidak hanya cinta pertamaku saja, melainkan cinta terakhirku, dialah perempuan yang telah aku pilih untuk menemaniku diseumur hidupku. Sepertinya tidak ada ruang lain dihatiku selain hanya untuknya. Aku benar-benar drop ketika suatu hari menerima sebuah kenyataan, jika Laras telah mengkhianati cinta suciku ini, pada akhirnya dia menikahi laki-laki lain yang aku sendiri belum pernah mengenalnya. Terus apa artinya kisah cinta kami berdua yang selama ini terjalin begitu indahnya. Apakah Laras memang tidak sungguh-sungguh mencintaiku?. Apa sebenarnya kesalahanku yang pernah aku buat terhadapnya, sepertinya samasekali tidak pernah aku melakukannya. Soal kesetiaan dan juga rasa cintaku ini, mungkin tidak hanya Laras sendiri yang dapat merasakannya, mungkin semua keluargaku, keluarganya dan juga orang-orang yang mengenal kami berdua. Dimanapun, dihadapan semua keluarga, aku selalu menunjukkan jika aku sangat mencintainya dan akan selalu menjaganya. Tidak hanya dari gangguan siapapun, bahkan gangguan dari makhluk sekecil nyamukpun boleh dibilang nyaris tidak akan pernah menyentuhnya. Sangat berlebihan memang, tapi itulah ekspresi rasa cintaku terhadap Laras.
            Sore itu sepulang kantor aku benar-benar sumringah ketika Laras mengajak bertemu disebuah  tempat yang biasa kami kunjungi berdua selama kami berpacaran. Laju mobilku sengaja kupacu dengan kecepatan yang lumayan dari biasanya, aku ingin segera tiba di tempat tujuan, aku tidak akan membiarkan Laras terlalu lama menungguku, meskipun selama ini selalu saja aku yang menunggunya dengan datang lebih awal. Aku tidak pernah datang terlambat ketika janjian dengan Laras, aku selalu berusaha untuk datang lebih dahulu, karena aku tidak ingin gadisku ini akan berlumut hanya gara-gara menungguku yang selalu ngaret ketika janjian dengannya.     
Seperti biasanya aku selalu memesan minuman favorit kami berdua ketika aku sudah tiba di tempat ini. Rasa segar dan dingin dari jus yang aku teguk, terasa mengalir melalui kerongkonganku sedikit dapat mengurangi rasa jenuhku ketika menunggunya datang. Biasanya sekitar sepuluh hingga limabelas menit kemudian Laras baru akan tiba di hadapanku. Biasanya pula, dengan berulang kali dia akan mengutarakan permohonan maafnya dan mengkhawatirkanku karena sudah menunggunya terlalu lama. Seketika pipinya akan bersemu merah merona, ketika aku terus pandangi selama dia berbicara, setelah itu pasti dia akan tertunduk malu. saat kugenggam tangannya hanya untuk meyakinkannya jika aku tidaklah keberatan karena harus menunggunya, karena memang aku benar-benar tulus melakukannya. 
   Dari kejauhan aku sudah melihatnya berjalan perlahan kearahku tidak tergesa seperti biasanya. Tidaklah salah, jika aku memilihnya sebagai kekasih hatiku, Laras memang perempuan yang sempurna dimataku dan aku yakin dimata siapapun itu. Selain parasnya yang cantik, santun, dia juga berasal dari keluarga yang terpandang. Pandanganku tidak pernah sedetikpun lepas dari derap langkahnya yang semakin mendekat kearahku. Pesona kecantikannya seakan sudah membiusku hingga nyaris tidak berkedip. Rambut indahnya dibiarkannya terurai bergelombang tertiup angin, sesekali dia membetulkan letak poni yang menghalangi pandangannya. Sore ini dia tampak begitu anggun dengan balutan blouse motif gothic berbahan shiffon berwarna hijau lembut, dipadukan dengan celana panjang dengan warna hijau yang lebih gelap dari blousnya. Model celana panjang tanpa lipit yang Laras kenakan ini, semakin menonjolkan keindahan tungkai kaki jenjangnya. Bunyi detak langkah yang ditimbulkan oleh sepatu high heelnya terdengar seperti suara berdetak begitu teratur setiap kali dia melangkahkan kakinya, lambat laun suara detak langkahnya terdengar begitu jelas semakin mendekat kearahku. Aku berdiri dari dudukku dengan senyum mengembang untuk menyambut kehadirannya. Kulihat dia tidak seperti biasanya, tidak tampak keceriaan dalam dirinya atau gaya manjanya yang begitu menggemaskanku, ada apa gerangan…?. Dia hanya sedikit tersenyum seperti yang dipaksakan, mungkin hanya untuk menyenangkanku saja. Bahkan diapun tidak membalas pelukanku seperti yang biasa kami lakukan saat kami berdua bertemu.

“Maaf Mas…!, sudah lama menungguku..?” kupersilahkan dia untuk duduk dihadapanku.

“Tidak apa-apa sayang..!. Oh ya,  ini minumnya…! Pasti kamu haus” aku sodorkan minuman untuknya, dia hanya manggut saja tanpa berkata apa-apa.

“Sayang, kamu mau pesan makan apa nih..?” aku buru-buru menyodorkan daftar menu makanan yang sudah sejak tadi aku bolak-balik saat menunggu Laras datang.

“Enggak usah Mas..!” Laras buru-buru meletakkan kembali daftar menu tersebut diatas meja.

“Lho kenapa sayang..?, bukankah akan lebih romantis jika kita makan sambil mengobrol seperti biasanya..?” aku semakin heran dengan sikapnya ini, tidak biasanya Laras bersikap seperti ini.

“Maafkan aku Mas…!” suara Laras sedikit tersendat. Sepertinya Laras mulai terisak, sesaat kemudian tangisnyapun segera tumpah, terlihat dari butiran-butiran bening yang mengalir melalui kedua pipinya.

“Lho, ada apa sayang…? Kenapa kamu menangis…?” aku semakin bingung dibuatnya, buru-buru kusodorkan saputanganku kearahnya. Tapi dia menolaknya, dia lebih memilih tissue yang tersedia di meja  ini.

“Mas...!, sepertinya kita tidak bisa lagi terus bersama seperti dulu lagi,...” entah memang suaranya yang terdengar tidak begitu jelas olehku, atau aku hanya tidak ingin jika kata-kata Laras ini adalah sesuatu yang nyata.

“Mas terlalu baik untukku. Sepertinya aku bukanlah perempuan yang pantas untuk mendapingi Mas Argan. Aku tidak ingin mengecewakan Mas dan juga keluarga Mas, yang sudah begitu baik terhadapku,…” tangisnya semakin tumpah, Laras tidak dapat lagi menyembunyikan air matanya dariku.

“Untuk itu, aku mohon Mas mengerti dengan keputusanku ini..!, meskipun untuk saat ini Mas tidak tahu persis apa alasanku untuk meninggalkan Mas. Aku berharap, lebih baik Mas tidak akan pernah tahu, karena pastinya akan sangat menyakitkan sekali bagi Mas. yang terpenting untuk saat ini, aku mohon biarkan aku pergi Mas, jangan pernah untuk menghubungiku lagi. Maafkan aku Mas…!. Semoga Mas akan segera menemukan seseorang yang benar-benar mencintai Mas dengan tulus dan lebih segalanya dari aku. Terimaksih atas segala cinta yang pernah Mas berikan untuk aku selama ini. Selamat tinggal Mas…!” Laras buru-buru bangkit dari hadapanku tanpa memperdulikanku yang masih saja terbengong menyaksikan langkahnya yang semakin menjauh dari hadapanku.

            Sepertinya aku tengah bermimpi atas apa yang terjadi barusan, belum penuh kesadaranku dari rasa kaget tadi, aku harus memastikan kembali apa yang sebenarnya terjadi dengan Laras. Aku buru-buru bangkit dari dudukku untuk segera mengejar Laras yang pergi setengah berlari menuju tempat parkir. Sudah terlambat aku menyusulnya, kulihat Laras buru-buru masuk kedalam mobil hitam yang aku yakin itu bukanlah mobilnya Laras maupun milik keluarganya. Aku hanya bisa berdiri mematung  memandangi laju mobil yang dikemudikan dengan cepat keluar dari pelataran parkir tempat ini. Kakiku terasa bigitu lemas sekali harus menerima kenyataan pahit ini. Aku  terduduk di pinggiran tembok pembatas tempat parkir sambil menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Aku masih saja belum percaya dengan ucapan Laras tadi, seperti dalam mimpi namun ini adalah nyata. Ternyata kisah cintaku bersama Laras harus berakhir tragis, menyisakan rasa perih yang begitu menyakitkan di hatiku. Tidak kusangaka, perempuan yang selama aku agungkan cintanya, begitu saja meninggalkanku tanpa alasan yang pasti.
Keesokan harinya aku coba untuk datang ke rumahnya sepagi mungkin, berharap aku dapat menemuinya sebelum dia berangkat kekantor, namun hasilnya nihil. Menurut keluarganya, Laras sedang menginap di tempat kerabatnya. Entah memang Laras sedang tidak berada di rumah atau mereka sengaja menutupinya dariku. Karena kulihat mobilnya Laras masih terparkir di halaman rumahnya. Aku yakin Laras pasti ada di rumah, sengaja dia tidak ingin menemuiku lagi. Keluarganya Laras hanya bisa meminta maaf terhadapku atas apa yang terjadi diantara kami berdua. Tidak puas sampai disitu, dalam kesempatan lain aku coba menemuinya di tempatnya bekerja, karena tidak ada jalan lain selain dengan hal seperti ini. Beberapa kali aku mencoba menghubunginya baik melalui ponselnya yang tidak pernah aktif, maupun untuk menelponnya baik ke rumah dan juga ke kantornya, tidak juga menunjukkan hasil yang menggembirakan. Menurut keterangan resepsionis kantornya Laras yang aku temuipun,  ternyata Laras sudah tidak dapat lagi ditemui disini, karena terhitung sejak kemarin dia sudah tidak lagi bekerja di tempat ini. Aku semakin kalut dibuatnya, meskipun beberapa teman dekatku banyak sekali membantuku untuk mencarikan beberapa informasi tentang keberadaan Laras. Tapi hasilnya tetap saja sama, Laras seperti ditelan bumi, sulit sekali untuk aku temui. Bahkan kabar buruk terakhir yang aku dengar, ternyata Laras pergi bersama laki-laki lain yang dipilihnya. Mungkin saja laki-laki lain itu adalah calon suaminya Laras sekarang ini. Hal ini semakin membuka mataku, jika ternyata perempuan yang selama ini aku cintai dan kagumi, telah begitu tega meninggalkanku demi laki-laki lain itu.
 Keadaanku semakin hari semakin semerawut saja ketika itu, pekerjaankupun ikut terbengkalai karenanya, aku semakin sering uring-uringan sendiri, bahkan sudah tidak lagi dapat mengendalikan diriku sendiri. Tidak heran jika keluargaku semakin mengkhawatirkan keadaanku ini. Untung saja aku masih memiliki mereka, keluarga yang teramat sangat menyayangiku. Dengan cinta kasih yang diberikan mereka  secara ekstra terhadapku, membuatku dapat bangkit kembali dari segala keterpurukanku ini. Mami selalu mendampingiku di setiap keadaan, bahkan papi sudah rela datang ke kantorku hanya untuk meminta izin atas cutiku. Untungnya pimpinan perusahaan tempatku bekerja sudah mau berbaik hati memberiku izin cuti dengan waktu yang cukup lama. Belum lagi perhatian dari Arfan adikku, meskipun gayanya agak sedikit cuek, akan tetapi dia cukup perhatian terhadapku. Dia rela mengorbankan waktu hangout bersama teman-temannya hanya untuk menemaniku berbengong ria di tepi kolam renang dan juga di taman teras belakang rumah ini. Bahkan Arfanpun rela begadang semalaman hanya untuk menemaniku tidur di kamarku. Sesekali waktu, Arfanpun sering mengajakku jalan-jalan keluar rumah, makan di luar atau hangout bersama teman-temannya. Dia dan teman-temannya banyak membantuku melewatkan semua permasalahan yang tengah aku hadapi ini dengan caranya mereka.
Lambat laun hal ini dapat kembali memulihkan semangat hidupku. Dalam waktu yang tidaklah begitu lama, aku sudah  mulai dapat berkatipitas kembali seperti biasanya. Meskipun belum begitu maksimal, akan tetapi hal ini sudah dapat sedikit mengalihkan perhatianku terhadap Laras. Sesekali disaat aku mulai kembali terkenang oleh segala sesuatu yang berhubungan dengan Laras, teman-teman dan juga keluargaku tidak segan-segannya untuk selalu mengingatkanku sehingga aku dapat menguasai diriku kembali. Tapi malam ini, saat aku menerima undangan pernikahannya Laras, sepertinya  semua rentetan kejadian yang  menyakitkan itu seolah terulang kembali. Untung saja ada Arfan yang sudah rela menemaniku disini, dikamarku.

“Mas Argan, Mas enggak bisa tidur ya…?” tanyanya sambil menahan kantuknya. Beberapa kali dia terus menguap dengan mata yang memerah.

“Lebih baik kamu tidur saja Fan..! Mas enggak apa-apa kok” aku berusaha meyakinkan Arfan, aku tidak ingin dia ikut menderita karena aku.

“Mana bisa aku tidur Mas...!, sementara Mas sendiri tidurnya gelisah gitu. Sudahlah Mas, lebih baik sekarang Mas paksakan untuk tidur saja..!, besok Mas harus ngantor kan..?. Ingat Mas...!, jangan biarkan diri Mas drop lagi seperti kemarin ini, hanya karena masalah ini lagi. Justru ini adalah saat yang tepat untuk menunjukkan pada Laras, jika Mas akan terus kuat tanpanya. Aku yakin akan ada seseorang yang terbaik untuk Mas yang telah Tuhan ciptakan” Arfan menatapku dengan tajam, sungguh aku tidak menyangka jika adikku Arfan bisa berbicara tegas dan seserius ini.

“Iya Fan, Maafkan Mas sudah melibatkanmu dalam masalah Mas ini. Anyway besok lusa temani Mas ya..! Kamu mau kan..?”  pintaku pada Arfan dengan penuh harap.

“Oke Mas, tapi ajak cewekku juga ya…!” pintanya penuh nada canda, aku hanya tersenyum saja. Kulihat dia sudah bersiap-siap untuk kembali tidur.

“Lebih baik kita tidur saja Mas..!, sudah menjelang pagi nih..! Besok aku ada kuliah pagi Mas..!” Arfan menarikku untuk segera merebahkan diri disebelahnya.

“Thanks ya Fan…! Mas bangga punya adik seperti kamu…!” Kutepuk bahunya perlahan, dia tidak menjawab hanya mendehem saja sambil tidur membelakangiku.

            Benar saja punggungku terasa pegal sekali, mungkin terlalu lama duduk, berdiri bahkan mondar-mandir di  kamar selama terjaga tadi. Terasa nikmat sekali ketika aku mulai merebahkan diri diatas tempat tidur yang empuk ini. Perlahan mataku mulai aku pejamkan meski terasa sedikit perih, namun akhirnya aku mulai dapat merasakan rasa kantuk yang teramat sangat. Dalam hitungan menit, aku sudah mulai larut dalam tidur lelapku di penghujung malam yang menyakitkan.


* * * * *
Entah sudah berapa lama aku terlelap dalam tidurku ini, sepertinya hari sudah menjelang sore, saat aku terbangun badanku terasa segar kembali. Beban berat yang tadi begitu menghimpitku seakan sirna seketika saat aku terbangun. Seingatku, tadi baru saja aku selesai membereskan seluruh isi kamarku sambil memutar lagu-lagu favoritku. Tanpa terasa, rasa capek dan pegal-pegal disekujur tubuhku telah membuatku terlelap saat aku merebahkan diri di kasur ini. Mungkin karena kemarin aku sedikit kurang tidur, terlalu larut dalam permasalahan yang tengah aku hadapi.  Aku masih belum beranjak dari sisi tempat tidurku, aku lebih asyik menyaksikan indahnya riak-riak air kolam. Mulai dari tepi kolam renang hingga ke pancuran sambil membayangkan pertemuanku dengan Laras pada resepsi pesta pernikahannya nanti malam. Semoga saja aku dapat bersikap tenang. Aku yakin jika aku dapat berbesar hati dengan kenyataan ini. Aku akan mengikhlaskan jika Laras harus bersanding dengan laki-laki yang menjadi pilihan hidupnya.
            Lebih baik aku segera bersiap diri karena hari sudah semakin sore. Aku akan berusaha terlihat fresh saat berhadapan dengan Laras nanti, aku tidak ingin Laras tahu jika aku pernah drop karena peristiwa ini.  Mungkin aku tidak akan berlama-lama berada di pestanya Laras nanti, selain karena rasa tidak enak hati,  aku juga  hanya ingin menunjukkan kepada keluargaku dan juga semuanya, bahkan terutama Laras sendiri. Jika kehadiranku di pestanya adalah bukti jika aku kuat menghadapi semua yang terjadi dengan penuh keikhlasan serta lapang dada.
Baru saja aku hendak melangkah ke kamar mandi, aku dengar pintu kamarku ada yang mengetuknya. Tanpa menunggu jawabanku, tiba-tiba kepala Arfan sudah meneyembul dibalik pintu dengan senyum sumringah. Dia sudah berdandan begitu rapi, sangat berbeda dari biasanya. Gaya rambutnya disisir acak dengan sentuhan wetlook terlihat glossy namun tetap menawan.  Balutan kemeja model body fit dengan motif floral     perpaduan dari dua warna yang sangat serasi antara  indigo blue dengan warm white yang memberi aksen cerah pada kemeja yang melekat dibadanya ini lebih terkesan seksi, menonjolkan otot kekar di lengannya juga pada bagian dada bidangnya. Sementara pada kedua tungkai kaki kekarnya semakin terlihat kokoh dengan balutan pantalon model plat front pants berwarna gelap terbuat dari sejenis bahan pintstripes yang memiliki garis vertikal. Adikku ini memang lumayan tampan juga fikirku, pantas saja selalu di kerubutin oleh cewek-cewek cantik yang ingin dijadikannya sebagai pacar. Banyak orang bilang jika aku dan Arfan memiliki banyak sekali kemiripan secara fisik, baik perawakan maupun wajah kami berdua begitu mirif sekali seperti layaknya saudara kembar saja, sangat sulit untuk dibedakan bagi yang belum begitu mengenalnya. Tidak heran jika banyak orang yang sering salah atau tertukar saat memanggil kami. Sebenarnya mudah saja untuk membedakan antara aku dengan Arfan. Aku lebih sering tampil rapi, baik cara aku berpakaian maupun dengan potongan rambutku, sementara Arfan lebih terkesan cuek dengan model rambut yang sedikit gondrong dan juga acak-acakkan, dia juga orangnya lebih rame dan sangat ramah pada semua orang bila dibandingkan aku yang sedikit pendiam. Begitu banyak orang disekitar komplek ini, sangat mengenalnya dengan baik, terutama para ceweknya, mulai dari ABG, ibu-ibu,  malah yang lebih parah lagi konon dia juga di gandrungi oleh para PRT. Pernah suatu hari mami dikagetkan oleh ulah para PRT ini yang sering mengirimi Arfan bingkisan maupun kue-kue hasil buatannya mereka. Mami dan papi hanya bisa geleng-geleng kepala saja dengan kejadian ini, sementara Arfan sendiri dengan bangganya dan juga cuek bebek saja seperti layaknya sang bintang yang digandrungi oleh para fansnya. Diam-diam aku sendiri banyak menyimpan kekaguman terhadapnya, Arfan tidak pernah iri maupun merasa kalah saingan terhadapku, padahal dia ini adalah anak bontot yang biasanya begitu dimanjakan oleh seluruh anggota keluarganya, tapi tidak dengan Arfan. Justru akulah yang selalu diperlakukan khusus oleh mami dan juga papiku, aku yang lebih sering dibangga-banggakan bila dibandingkan dengannya. Sementara Arfan, dia lebih banyak mendapat segudang omelan maupun nasehat-nasehat dari papi dan juga mami yang lumayan pedas bila dibandingkan dengan pujian maupun sanjungan untuknya. Sebagai seorang kakak, aku berkewajiban untuk selalu membela dan juga melindunginya, jika Arfan di perlakukan seperti itu oleh papi dan juga mami. Tidak heran jika hubungan aku dengan Arfan sangat dekat sekali sejak kecil meskipun jarak umurku dengannya lumayan jauh, sekitar lima tahunan. Sejak dulu Arfan tidak pernah menunjukkan rasa sayangnya terhadapku, mungkin karena sikapnya yang memang cuek dan terkesan tidak perduli terhadapku. Akan tetapi, sebenarnya  aku tahu dia begitu sangat menyayangiku. Banyak sekali bentuk perhatian yang dia berikan terhadapku akan tetapi tidak pernah dia tunjukkan secara langsung. Bisa melalui mami, papi atau bahkan teman-temannya dengan caranya sendiri yang tidak pernah ingin diketahui oleh orang lain, termasuk oleh aku sendiri yang ditujunya. Itulah Arfan adikku satu-satunya, karenanya aku bisa sekuat seperti sekarang ini, untuk itu  aku begitu menyayanginya. Aku akan selalu berusaha untuk menjadi seorang panutan yang terbaik untuknya. 
  
“Mas..., Kok bengong  sih..?, Mas belum mandi ya...?” tanyanya, sambil menerobos masuk ke kamarku.

“Mas baru mau mandi nih..!” jawabku, sambil melongok kearahnya.

“Buruan ya Mas..!, jangan pake lama..!” gayanya yang sok mengancamku membuatku semakin ingin lebih mengulur-ulur waktu saja.

“Mas ini gimana sih...?, bukan buruan, malah cengengesan gitu...!” gerutunya, sambil tetap mematut diri di depan kaca besar yang menempel di sisi lemari pakaianku.

“Bawel banget sih kamu...!” jawabku, sambil buru-buru menutup kembali pintu kamar mandi.

Badanku terasa begitu segar kembali usai mandi, begitu aku keluar dari kamar mandi ternyata Arfan masih berada dikamarku, dia sibuk menghitung berapa lama ku mandi dengan menggunakan jam dipergelangan tangannya. Aku sedikit heran dengan ulahnya ini, namun aku bersikap masa bodoh saja, sepertinya dia semakin kesal saja dengan sikapku ini.

“Mas ini gimana sih..? Aku bilang kan jangan pake lama, mandi saja hampir setengah jam, belum nanti pilih-pilih pakaian, ini, itu dan lain sebagainya” tampak sekali kekesalan diwajahnya dengan sedikit garuk-garuk kepala yang mungkin saja sebenarnya tidak gatal.

“Kok kamu jadi kayak emak-emak gitu sih Fan, bawel tau…!” jawabku sambil terus asyik memilah-milah pakaian yang akan aku kenakan, sebenarnya lucu juga sih dengan tingkah Arfan ini. Tidak biasanya dia sebawel ini.

“Mas sendiri yang lelet, aku kan harus jemput Ririn Mas..!” bibirnya semakin dimonyongkan kearahku. Aku semakin terbahak melihat tingkah lucunya ini.

“Oh itu toh..?, yang sudah membuat kamu jadi bawel seperti nenek-nenek  kehilangan konde..?” aku semakin terbahak dibuatnya.

“Oh, gitu ya…? Mas seneng ya…?, jika aku ribut dengan Ririn hanya gara-gara aku terlambat nantinya,  padahal aku hanya ingin membantu menemani Mas untuk datang ke pestanya Laras” Arfan semakin sewot atas sikapku tadi.

“Iya maafin Mas deh…!, Mas akan buru-buru…!, lebih baik sekarang kamu tunggu di luar saja, Mas mau pakai baju nih..!” aku menghampirinya dan mendorongnya untuk  segera keluar dari kamarku.

“Awas..! gak pake lama lho..!” ancamnya, dia sempatkan menjentikan jarinya sesaat setelah keluar dari kamarku.

            Sepeninggal Arfan dari kamarku ini, aku langsung buru-buru memakai pakaian yang tadi aku pilih. Sebuah setelan jas model single-breasted bergaya Victorian look dengan dilengkapi vest berwarna biru navy yang aku padukan dengan kemeja polos berwarna midnight blue dan juga dasi dengan model retro look sehingga menimbulkan kesan sophisticated. Untuk model rambutku aku sesuaikan dengan sisiran model acak pada bagian jambul dan juga sisi-sisi lainya yang aku bubuhkan hair shine cream agar tampak sedikit berkilau. Terakhir tidak lupa aku semprotkan wewangian yang di dominasi oleh wangi kayu-kayuan cedar atlas dipadukan dengan aroma grapefruit,  effervescent orange, gunflint, silex, patchouli, dan vertiver. Keseimbangan berbagai aroma yang membentuk wewangian ini begitu menonjolkan pesona alami yang memberikan kesegaran aroma yang ditebarkan seolah menggabungkan wangi yang tersebar di antara langit dan bumi.  Hal ini  pastinya akan membuatku semakin percaya diri saat berada di antara para undangan lainnya terutama dihadapan Laras. 
            Usai berpamitan pada mami dan papi, aku buru-buru menghampiri Arfan yang sudah sejak tadi menungguku di dalam mobil. Tanpa berfikir panjang lagi, Arfan langsung saja tancap gas menuju rumah Ririn pacaranya, sesaat setelah aku duduk disebelahnya.

“Penampilanmu keren banget Mas..! bisa-bisa ngalahin sang mempelai pria deh Mas!, atau memang sengaja ya..? biar tidak kalah saing gitu!.” Ledek Arfan disela-sela mengemudikan laju mobil.

“Paling bisa deh kamu Fan..!” aku hanya sedikit tersenyum kecut sambil membuang muka kearah luar jendela mobil.

“Oh ya Mas, ada surprise buat Mas di rumah Ririn nanti…!” Arfan senyum-senyum sendiri seperti sedang menyembunyikan sesuatu terhdapku.

“Gak lucu tau…! Emangnya, Mas lagi ulang tahun apa ?” aku sama sekali tidak ingin menanggapinya.

“Lihat saja nanti…!” jawabnya enteng.

“EGP…..!!!!” aku juga tidak mau kalah cuek dengannya. 
  
            Tidak lama berselang, mobil kami sudah memasuki pelataran sebuah rumah yang mengusung konsep sustainable design. Bangunan yang terletak pada lahan eksisting kontur ini menggunakan fondasi beton yang didikat dengan sloof. Sebagian struktur bangunan berdinding bata ekspos yang mengakomodasi pembatas antar ruangan yang menggunakan kayu, kaca, juga teras  dengan material yang berbeda. Pada bagian kanan serta kiri rumah ini dihiasi taman-taman yang indah dengan aneka tanaman hias yang begitu subur karena terawat dengan baik oleh pemiliknya.
            Mobil kami diparkir tidaklah begitu jauh dari teras rumah yang menghadap langsung kearah pintu pagar. Aku hanya mengikuti langkahnya Arfan untuk masuk kerumahnya Ririn. Awalnya aku tidak ingin ikut masuk kerumahnya Ririn dan hanya menunggu di dalam mobil saja, namun Arfan begitu memaksaku untuk sama-sama ikut dengannya, akhirnya aku hanya menurut saja. Aku dan Arfan di persilahkan duduk di ruang tamu oleh pembantunya Ririn yang tadi membukakan pintu. Sambil menunggu Ririn keluar, diam-diam aku edarkan pandangan ke sekeliling rumah ini. Meskipun rumah ini tidaklah begitu besar, akan tetapi rumah ini sangat nyaman sekali dengan desain interior yang didesain berupa void dua lantai bagaikan loft untuk memberi kesan luas, ditambah dengan unsur tropis seperti material kayu dan warna-warna earth tones yang hangat seperti coklat dan off white.  Jika bukan karena dikagetkan oleh gerakan Arfan yang tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya, mungkin fikiranku ini akan terus saja mengembara tentang rumah ini. Ternyata Ririn dan juga kedua orang tuanya sudah berada dihadapan kami berdua.

“Selamat malam Om dan Tante..!” kulihat Arfan menyalami kedua orangtuanya Ririn, akupun hanya mengikuti seperti apa yang Arfan lakukan tadi.

“Oh ya, kenalkan ini Mas Argan, kakakku satu-satunya...!” Arfan menunjuk kearahku dengan telapak tangannya, aku hanya sedikit membungkukkan badan kearah mereka. Semua membalasnya dengan senyum ramah mereka.  Sungguh aku merasa senang berada di keluarga ini.

“Ayo silahkan duduk dulu, sambil diminum tehnya..!” mamanya Ririn kembali mempersilahkan kami duduk dengan ditemani oleh mereka sekeluarga.

“Terimakasih Tante..!” aku berusaha seramah mungkin, seperti halnya perlakuan mereka terhadapku.

“Oh ya Mas, tunggu sebentar ya..! aku mau kedalam dulu” pamit Ririn pada kami semua, sambil berlalu menuju kedalam rumah, kami berdua hanya menangguk saja.

“Maaf  Nak..!, bagaimana kabar mami dan papi kalian berdua?” Tanya papanya Ririn sambil sesekali memperhatikan kami berdua secara bergantian, mungkin saja papinya Ririn masih merasa bingung dengan kemirifan kami berdua ini.

“Mami dan Papi baik-baik saja Om…!, Mami dan papi juga titip salam buat Om dan juga Tante disini” Arfan sedikit gugup ketika berhadapan dengan sang calon mertuanya.

“Oh ya terimakasih, sampaikan juga salam dari Om dan juga Tante untuk mami serta papimu...! kapan-kapan mungkin kita akan saling mengunjungi, begitu kan Mi..?” tanya Papanya Ririn  pada istrinya sambil terbahak, kami semuapun ikut tertawa bersama.

“Wah, acara lamaran nih..!, Lulus sarjana dulu, atau melamar Ririn dulu, atau dua-duanya Fan..?” candaku pada Arfan, yang seketika membuat wajahnya bersemu merah.

“Nak Argan bisa saja..!”  kulihat Mamanya Ririn tertawa semakin terpingkal. Kami semua jadi ikut tetawa kembali.

“Memangnya Mas mau, jika aku duluin nih..?” Arfan tidak mau kalah dengan membalas candaanku tadi. Kini giliran aku yang tersipu dibuatnya.

“Mas sih enggak apa-apa…!, jika memang harus terjadi seperti itu” jawabku, sambil menepuk bahunya Arfan yang tengah meremas-remas jarinya sendiri mungkin karena salah tingkah.

            Dalam waktu yang bersamaan, tiba-tiba Ririn muncul kembali di ruangan ini dengan ditemani oleh seseorang yang membuatku terpana seketika. Seorang perempuan cantik tengah berdiri mematung di belakangya Ririn, dengan wajah seperti tertunduk malu. Seorang perempuan berparas cantik, mungkin seumuran Ririn atau beberapa tahun saja diatasnya. Warna biru dari gaun indah yang dikenakannya sungguh sangat serasi dengan setelan jas yang aku kenakan ini. Busana houte couture model terusan berbahan lace yang dikenakannya begitu pas dibadannya. Rambut indahnya dibiarkan terurai lepas menutupi bagian bahunya semakin menambah keanggunan seorang perempuan matang. Aku semakin tidak dapat menyembunyikan rasa keterkejutanku ini, jika Arfan tidak buru-buru menyikutkan tangannya, mungkin saja aku masih terus terbelalak menatapnya.

“Mas Argan, kenalkan ini kakakku Riris. Dia ini baru saja selesai ditugaskan di daerah sebagai seorang dokter Mas…!” Ririn mengajak kakanya untuk menyalamiku.

“Ehmmm, eh iya…kenalkan aku Argan…!” aku sedikit gugup saat berjabat tangan dengannya.

“Riris..!” jawabnya singkat, sambil kembali tertunduk.

“Maaf Mas..!, aku belum bilang jika akan mengajak Mbak Riris, enggak apa-apa kan Mas..?” Tanya Arfan, sepertinya dia takut jika aku akan tersinggung dengan rencananya ini.

“Jadi Mas Arfan belum bilang ke Mas Argan toh mengenai hal ini…?” Tanya Ririn dengan sedikit melotot kearah Arfan.

“Iya Maaf sayang..!, sengaja aku ingin buat kejutan buat Mas Argan. Aku enggak ingin, jika Mas akan jadi kambing congek diantara kita berdua di pesta nanti. Paling tidak, sekarang ini ada Mbak Riris yang sudah sudi mau kita ajak bersama,  Walaupun pada awalnya kami merasa ragu dengan rencana ini. Namun dengan bantuan Om dan juga Tante, akhirnya Mbak Riris luluh juga. Sementara untuk Mas sendiri, sengaja aku merahasiakannya, karena aku sangat tahu dan mengerti sifat Mas ini, jika aku sampaikan sebelumnya. Tapi asal Mas tahu..!, Mami dan Papi tahu dengan rencanaku ini, mereka berdua sangat mendukungnya. Semoga saja kalian berdua bisa menjadi teman yang baik, tidak hanya pada pesta malam ini saja tentunya, melainkan untuk seterusnya” Arfan sangat hati-hati menyampaikan ini, dia benar-benar sangat menghargai perasaanku ini. Seementara yang lain hanya terdiam saja menunggu ekspresiku selanjutnya

“Terimakasih Fan…!. Kamu memang adik Mas yang paling baik, dan sangat mengerti Mas..!. Tapi awas ya..! Mas akan balas kejailan kamu ini..! ” kupeluk Arfan sambil tertawa. Yang lainpun ikut tertawa menyaksikan ulah kami berdua ini.

“Jadi kapan acara lamarannya Mas..?” canda Arfan sambil melepaskan pelukanku. Aku hanya bisa tersenyum garing dengan wajah sedikit bersemu merah.

“Sudah Mas..!, jangan bercanda terus..! Keburu malem nih, ayo kita segera berangkat..!” Ririn mengingatkan kami berdua. Kamipun segera berpamitan pada kedua orang tuanya Ririn dan Riris.

            Terimakasih Tuhan, malam ini aku benar-benar merasa bahagia sekali, dapat menggandeng mesra seorang perempuan cantik yang telah Engkau kirimkan untuk aku seperti yang selalu mami dan papiku pintakan pada setiap do’a-do’anya selama ini. Kehampaan hatiku mulai sedikit terobati dengan hadirnya seorang Riris untuk aku. Semoga saja aku dan Riris dapat menjalani hari-hari indah bersama. Langit cerah dengan sejuta bintang gemintang yang memancarkan gemerlap sinarnya seolah ingin berbagi kebahagiaan denganku malam ini dan juga malam-malam berikutnya diseumur hidupku. Dan nama kami berduapun akan segera tertulis indah dalam sebuah surat undangan.         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar