Rabu, 30 Maret 2011

Secret Admirer

Secret admirer
By : Ganta Vaksie

Diantara deretan tamu yang hadir, dialah  yang paling banyak menyita perhatianku, dan mungkin juga semua tamu yang hadir di sini. Lelaki tampan berpostur tinggi sekitar 180 sentimeter, rambut wet looknya  disisir acak terlihat semakin elegant. Malam ini dia mengenakan setelan jas model pinstripe suit berwarna dolphin grey dengan dasi berbahan silk motif floral penampilannya necis seperti kebanyakan pengusaha muda pada umumnya. Dia datang bersama beberapa temannya, satu diantaranya adalah seorang wanita berparas melankolis dengan dandanan galamour serba blink-blink. Hal ini semakin ingin menunjukkan siapa dirinya. Mungkin saja dia berasal dari kalangan sosialita negeri ini, atau mungkin perempuan-perempuan yang menjadi simpanan para konglomerat yang sering menjadi bahan pemberitaan infotaitment yang marak terjadi akhir-akhir ini.

Aku berusaha berbaur dengan para tamu lainnya dan juga teman-temanku sendiri, sesekali aku berusaha mencuri-curi pandang kearahnya yang tengah asyik bercengkrama bersama teman-temannya sambil minum dan juga makan makanan kecil yang tersedia di beberapa meja saji yang berada hampir di setiap sudut ruang gedung ini. Beberapa kali aku mengedarkan pandang ke arahnya, sepertinya dia memeperdulikanku yang sudah sejak tadi mengawasi gerak-geriknya. Dia terus saja asyik mengobrol sambil bercanda bersama teman-temannya, sesekali tawa mereka ini terdengar keras hampir mendominasi seisi ruangan ini. Plak…seperti sebuah tamparan yang sangat keras. wajahku seketika memanas seperti terbakar api saat aku kepergok tengah memandanginya nyaris tanpa berkedip, disaat yang bersamaan dia juga tengah memandangku dengan sorot mata tajamnya sambil melemparkan sebuah senyuman manisnya kearahku. Dug…jantung serasa berhenti seketika dan nyaris tak berdetak. sementara aliran darahku pun seperti ikut berhenti pula. Aku berdiri mematung seperti terhipnotis oleh daya pesonanya. Saat aku mulai menguasai diriku, aku hanya dapat membalas dengan sebuah senyuman malu-malu sambil berlalu menjauh darinya kemana pun tanpa tujuan yang jelas. Tempat yang paling tepat aku tuju adalah toilet, mungkin ini adalah tempat ternyaman bagiku untuk mengalihkan rasa gugup ini. Beberapa saat lamanya aku tertegun sambil memandangi wajahku dihadapan cermin besar  yang ada di toilet ini. Kupandangi wajahku lekat-lekat, semua bagian panca indra yang melekat diwajahku semuanya hamper sempurna. Alis tebal dan juga bulumata lentikku yang melindungi dua buah bola mata hitam yang indah dengan sorotnya yang menyejukkan bagi siapa pun yang memandangku. Hidung mancung serta bibir merah yang indah memancarkan sensasi luar biasa saat aku tersenyum. Ada yang aneh malam ini yang menyinggapi relung di hatiku, karena hingga kini aku masih saja terus memikirkannya, dirinya dan juga kejadian tadi. Aneh, ini sangat aneh fikirku. Mengapa harus ada desiran dan juga perasaan-perasaan begejolak di dadakaku ketika mengingatnya. Sepertinya aku mulai jatuh cinta pada pandangan pertama, meski aku belum pernah mengenalnya dan tidak tahu siapa dirinya. Yang jelas, spertinya aku tidak dapat lagi mengalihkan perhatianku untuk hal-hal lain selain tentangnya. Wajah tampannya selalu dan terus saja berkelebat di dalam otak dan bayangan mataku.

Kubasuh wajahku berkali-kali dengan air yang mengucur dari kran menuju wastafel marmer berbentuk oval. Dinginnya air ini terasa sejuk sekali menyusup ke seluruh pori-pori kulit wajahku terasa sangat menyegarkan dan sedikit mengurangi keteganganku dari memikirkannya. Usai mengeringkan wajahku dengan sapu tangan dan kembali membetulkan tatanan rambutku, aku segera bersiap untuk kembali menemui teman-temanku yang mungkin tengah asyik menikmati acara malam ini. Baru saja aku hendak beranjak dari tempatku berdiri, tiba-tiba saja pintu toilet ini ada yang membukanya dari luar. Belum hilang rasa kagetku, tiba-tiba pula sosok jangkung ini sudah ada dihadapanku dengan senyum lebarnya. Aku semakin terpana, manakala dia menatapku secara terus-menerus tanpa berkedip. Aku tidak tahu persis apa yang difikirkannya, dia hanya terus melangkah semakin mendekatiku, dan kini hanya beberapa inci saja tepat dihadapanku. Kuhirup aroma segar wewangian yang dikenakannya ini berasal dari perpaduan wewangian citrus, amber dan juga woody. Bau maskulin yang ditebarkannya semakin menyeruak menembus rongga pernafsanku menggetarkan seluruh jiwa ragaku. Aku hanya mampu memejamkan mata saat aku rasakan aroma itu semakin mendekat kearahku, semakin lekat kedalam tubuhku. Hembusan nafasnya terasa hangat menyapu wajahku membuatku semakin melayang ke sebuah ruang yang entah di mana seiring terkatupnya kedua buah kelopak mataku. Semakin perlahan kurasakan bibir merahnya mulai menempel dibibirku. Lembut perlahan kecupannya mulai merambat di bibirku penuh sensasi. Aku masih saja terdiam belum menyadari apa yang sedang terjadi. Kecupan demi kecupannya mulai mendarat bertubi-tubi di bibirku. Aku berusaha mengimbanginya dengan mebalas kecupannya. Bibir lembutnya semakin penuh sensai dan sedikit basah saat lidahnya mulai menyeruak masuk dan bermain-main di rongga mulutku. Rakus memilin-milin lidahku seakan ingin ditelannya bulat-bulat. Aku semakin hanyut dalam dekapan dan hangat tubuh indahnya. Mataku semakin tak mampu lagi aku buka, ketika ciumannya mulai mendarat di bagian tengkuk, telinga dan juga leherku. Semakin liar dan juga buas, aku benar-benar dibawanya terbang melayang dan melambung jauh tinggi entah dimana lagi aku berada saat ini. Kupeluk erat tubuhnya yang kekar sambil sesekali membalas ciumannya. Kini dia mulai melucuti pakaianku dengan paksa, dan memburu bagian dadaku. Sedikit geli dan membuat tubuhku merinding namun menimbulkan sensasi yang luar biasa saat dia mulai memilin dan memainkan lidahnya dengan ganasnya. Puting susuku mulai sedikit mengeras saat dilumatnya tanpa henti bergantian antara bagian kanan dan kiri secara intens. Aku mulai mengigil dilanda nikmat luar biasa yang belum aku rasakan sebelumnya.    

Secara perlahan pula, tanganku berusaha menggapai kancing-kancing kemejanya,  dan mulai melucuti pakaiannya satu persatu. Kulihat dadanya bidangnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus menutupi hampir seluruh permukaannya. Nampak pula lingkaran memerah sebesar coin dengan tonjolan putingnya yang kemerahan pula, ranum menunggu untuk dilumat. Aku hanya dapat mendengar suara desahannya saja pada saat bibirku mulai bermain-main dengan puting indahnya. Hampir setiap jengakal lekuk tubuhnya tidak lepas dari permainan lidahku. Merambat dari dada, perut, pinggang hingga  perut bagian bawah yang dipenuhi barisan rambut halusnya. Dia tumbuh liar dan juga sangat lebat hingga ke pusat genitalnya yang masih tertutupi celana pantaloon yang dikenakannya. Kuhentikan permainanku sesaat, pada bagian diantara selangkangannya, aku hanya dapat melihat sebuah tonjolan besar memberontak seperti ingin keluar dari sarangnya. Tak sabar rasanya untuk segera mengenggamnya. Kini aku merasakan ada sebuah bongkahan yang membujur secara simetris sebesar pasta gigi ukuran jumbo ketika aku mulai mnyentuhnya. Awalnya kugosok-gosokkan naik-turun secara perlahan dari balik sarangnya. Nampak ada setitik cairan yang  berasal dari ujung bongkahan besar ini menodai stelan celana berbahan wool yang lembut. Dia hanya menggeliat dengan desahan panjang sambil mengacak-ngacak rambutku. Matanya terpejam dengan dahi sedikit berkerut sungguh dalam mimic apa pun dia selalu terlihat tampan. Ingin rasanya memeberinya sebuah kepuasan sebagai kesan pertama ketika mengenalnya. Tapi tidak, tidak untuk saat ini. Aku berdiri sengaja untuk tidak meneruskannya lebih jauh. Dia hanya menatapku tanpa arti, nampak gurat kekecewaan diwjahnya. Sepertinya dia masih ingin jika aku terus melakukan permainanku tadi. Kukecup bibirnya yang sedikit terbuka secara perlahan, dia pun kembali membalas ciumanku dengan begitu lembutnya.  Kutatap wajahnya penuh arti, lalu kubisikkan sesutau ditelinganya, sambil kuselipkan kartu namaku di kemejanya. Sesaat kemudian aku pun berlalu dari hadapannya dengan pakaian yang masih acak-acakkan. Dia hanya terpana sambil menatap langkahku yang semakin menjauh, dan akhirnya hilang dibalik pintu toilet.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar